Kamis, 18 Juli 2024


Masih Ragu Dengan Biosaka? Ini Kata Petani Pengguna

10 Apr 2023, 05:47 WIBEditor : Herman

Biosaka Masif Digunakan Diberbagai Daerah | Sumber Foto:Humas Ditjen Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Penggunaan Biosaka yang semakin masif di berbagai daerah telah memberikan dampak positif bagi para petani. Bukan hanya di jagung dan padi, para petani bawang, kedelai hingga kacang panjang juga mengaku ketiban untung dengan menggunakan biosaka.

Manfaat biosaka telah dirasakan petani diberbagai daerah, seperti petani di Desa Kalisari, Kecamatan Kradenan, Purwodadi, Sri Lestari yang mengakui 'kesaktian' Biosaka. Dia mengatakan dari hasil pelaksaan Demplot (Demonstration Plot) di lahan seluas 3.600 meter persegi, hasil produksi padinya mencapai 2,5 ton.

"Kami menggunakan jenis padi Var Inpari 32. Untuk dosis biosakanya 7x 40 ml. Ditambah penggunaan pupuk Urea 90kg, NPK Phonska 75 kilogram," ujar dia melalui keterangan tertulisnya, Minggu (9/4).

Sri mengatakan, dari hasil pengaplikasian Biosaka, pihaknya bisa menghemat pupuk secara signifikan. "Urea 40 persen, NPK 50 persen," jelas dia.

Hal senada diungkapkan Karjono, petani Desa Grabagan, Purwodadi. Dia mengatakan kalau Biosaka memberikan hasil yang luar biasa dari sisi panen maupun penghematan pupuk.

Ditegaskan Ketjono dari hasil demplot di lahan 1600 meter persegi, pihaknya bisa memanen kedelai hingga 300 kilogram.

"Dosis (Biosaka) enam kali 40 mililiter. Penggunaan pupuknya NPK Phonska 5 kilogram. Pengehematannya untuk NPK sampai 60 persen. Sementara Urea 100 persen, gak pakai sama sekali," terang Karjono.

Kondisi serupa terjadi pada Masjudi di Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan. Dari hasil pengaplikasian Biosaka pada komoditas kacang panjang di lahan Demplot seluas 1.700 meter persegi, pihaknya bisa memanen sekitar 19,5 kwintal.

"Penghematan pupuknya 40 %. Kami gunakan NPK sekitar 30 kilogram," jelas dia.

Yanto, petani asal Desa Gabus, Kecamatan Gabus, juga merasakan hal sama. Dari hasil pengaplikasian Biosaka pada komoditas kedelai di lahan Demplot seluas 1.600 persegi, pihaknya bisa memanen sekitar 2,9 kwintal.

“Penghematan pupuknya 100 persen,” tegasnya.

Petani lainnya Sutiyo, dari Desa Gabus, Kecamatan Gabus. Setelah mengaplikasikan Biosaka pada komoditas jagung di lahan Demplot seluas 3.600 persegi, pihaknya bisa memanen sekitar 2,6 ton.

“Penghematan pupuknya NPK sampai 60 kg dan Urea 80 kg dari penggunaan pupuk: urea 80 kg NPK 40kg,” ujarnya,.

Petani dari Desa Gabus lainnya, Muhtadi juga merasakan bahwa Biosaka memberikan hasil luar biasa dari sisi panen maupun dan penghematan pupuk.

Hasil demplot di lahan 1.600 meter persegi, kata dia, pihaknya bisa memanen jagung hingga 1.629 ton. Terdapat peningkatan 20 persen.

“Penggunaan pupuknya NPK Phonska 35 kilogram dan urea 90 kilogram. Adapun penghematannya untuk NPK dan Urea 0 persen.” Tambah Nurhadi.

Tomy  yang juga dari Desa Gabus, Kecamatan Gabus, Purwodadi, mengakui keunggulan Biosaka. Hasil pelaksanaan Demplot di lahan seluas 1.600 meter persegi, hasil produksi padinya mencapai 1.260 ton.

“Untuk dosis biosakanya 7x 40 ml. Ditambah penggunaan pupuk Urea 40 kg, NPK Phonska 25 kilogram. Pihaknya mengaku bisa menghemat pupuk secara signifikan. Urea 60 persen, NPK 60 persen,” ungkap Tomy

Petani lain yang merasakan manfaat Biosaka adalah Nur Rodli, dari Poktan Tirto Mulyo 1 Desa Tahunan, Kecamatan Gabus. Setelah mengaplikasikan Biosaka pada komoditas bawang merah di lahan Demplot seluas 0,10 heltare, pihaknya bisa memanen sekitar 1350 kilogram.

Dengan sistem ini penghematan pupuknya sampai 20 persen dari penggunaan pupuk 80 kilogram dengan dosis biosaka 4X 30 ml dan bibit 100 kilogram.

Petani bernama Mulyono, dari Desa Ceewek, Kecamatan Kradenan mengaku mengaplikasikan Biosaka pada komoditas kedelai hasilnya maksimal. Di lahan Demplot seluas 0,17 hektare, pihaknya bisa memanen sekitar 4 kwintal.

Dosis biosaka 4x 40 ml menggunakan pupuk NPK Phonska 25 kilogram. Dia mengaku dapat menghemat  pupuknya NPK sampai 25 persen.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, menjelaskan kalau aplikasi biosaka terlihat secara fisik tanaman, jumlah anakan, batang, lebar daun, warna daun lebih bagus dibanding tanaman control.

“Demikian juga produksinya lebih bagus," kata dia.

Manfaat lain, kata Suwandi, adalah minimalisir hama penyakit, hemat pupuk kimia sintetis dan pestisida, lahan lebih subur dan gratis buatan sendiri.

Ditambahkannya biosaka sendiri bukanlah pupuk atau pestisida, tetapi elisitor sebagai signaling bagi tanaman dan ekosistem.

"Biosaka juga bukan barang pabrikan, tidak dijual belikan alias dibuat sendiri manual dengan tangan," pungkasnya

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018