Kamis, 20 Juni 2024


Gerak Cepat Kementan, Support Gerdal Penggerek Batang Padi di Indramayu

21 Jun 2023, 03:40 WIBEditor : Herman

Gerdal Penggerek Batang Padi di Indramayu | Sumber Foto:Humas Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu --- Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) menjadi kendala yang kerap dihadapi petani dalam budidaya pertaniannya. Salah satunya para petani di Indramayu yang saat ini sudah memasuki musim taman yang dihadapkan dengan permasalahan utama yaitu serangan hama penggerek batang pada tanaman padi (PBP).

Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan sebagai kepanjangan tangan dari Kementerian Pertanian mempunyai tugas dan fungsi untuk mengamankan pertanaman pangan dari serangan OPT sehingga target produksi pangan dapat tercapai.

Kelompok Substansi Pengendalian OPT Serealia yang dikomandoi oleh Gandi Purnama menunaikan tugas dan fungsi tersebut salah satunya dengan melaksanakan kunjungan lapangan dalam rangka memantau keadaan serangan PBP di beberapa wilayah di Indramayu (16/6).

“Menurut laporan yang saya dapat, penerbangan ngengat PBP ini sudah tinggi di wilayah Indramayu diantaranya Kecamatan Sukra dan Patrol sehingga banyak kelompok telur PBP ditemukan di persemaian. Maka dari itu, kami langsung merespon dengan terjun langsung mengecek kondisi lapangan dan kami juga berkoordinasi dengan Satpel Wilayah IV Indramayu-BPTPH Jawa Barat untuk melakukan gerakan pengendalian mekanik berupa pengambilan kelompok telur PBP di wilayah Sukra dan Patrol sebagai bentuk aksi langsung di lapangan. Saya harap kegiatan ini bisa dijadikan contoh dan menjadi stimulan bagi petani lain atau wilayah lain di Indramayu,” ujar Gandi.

Sejalan dengan Gandi, Koordinator Satpel Wilayah IV Indramayu, Tatung, juga menegaskan komitmennya dalam memerangi serangan hama PBP di beberapa wilayah seperti Indramayu, Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Tatung menjelaskan bahwa serangan PBP saat ini mengalami peningkatan seiring dengan mulainya musim tanam kedua di tahun 2023.

“Trendnya memang seperti ini, penerbangan PBP saat ini masih tinggi dan beberapa wilayah sudah mulai ada persemaian. Makanya kita harus mengendalikan PBP sedini mungkin pada saat persemaian karena ini akan lebih mudah dan murah jika dibandingkan pengendalian pada saat sudah pindah tanam. Saya selalu mengingatkan kepada para petugas POPT di lapangan agar senantiasa melakukan monitoring dan berkoordinasi dengan kelompok tani, penyuluh, pemerintah desa dan kecamatan agar bisa bersama-sama waspada,” tegas Tatung.

Direktorat Perlindungan TP memberikan dukungan penuh dalam gerakan pengendalian PBP di Desa Karang Layung, Kecamatan Sukra (Poktan Jambi Sari) dan Desa Mekarsari Kecamatan Patrol (Poktan Mekar Maju 2).

Dengan melibatkan sekitar 40 orang petani dan didampingi oleh petugas POPT, Penyuluh serta pemerintah daerah setempat, gerakan pengendalian mekanik pengambilan kelompok telur dilaksanakan di persemaian. Jumlah kelompok telur yang dapat dikumpulkan pun tergolong banyak yaitu di Kecamatan Patrol sebanyak 5.600 kelompok dan Sukra 4.039 kelompok telur atau total 9.639 kelompok telur.

“Jika dari satu kelompok telur itu jumlah telurnya sekitar 100 butir, maka artinya kita sudah bisa mengendalikan sebanyak 9.639.000 ekor ulat secara dini. Kemudian jika kita anggap 1 ekor ulat menyerang 1 batang artinya kita sudah menyelamatkan 9.639.000 batang. Ini lah makanya pengendalian sejak persemaian menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian PBP. Pengendalian akan jauh lebih sulit dan mahal jika sudah pindah tanam,” lanjut Gandi.

Tatung juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kementan yang terus mendukung upaya-upaya pengamanan pertanaman dari serangan OPT. Di tengah-tengah tekanan perubahan iklim dan serangan OPT yang mulai meningkat, pemerintah pusat dan daerah akan terus berkoordinasi dan meningkatkan upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam rangka pengelolaan hama terpadu.

Koordinator POPT Kabupaten Indramayu, Budi, menyampaikan bahwa kurang lebih ada 6 wilayah kecamatan yang dinilai mulai mengalami peningkatan serangan PBP. Di wilayah tersebut memang sudah mulai banyak pengolahan lahan dan persemaian karena air juga cukup tersedia.

“Kecamatan Sukra dan Patrol ini termasuk wilayah dengan serangan PBP paling tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Kami juga tidak tinggal diam, kami melakukan pengendalian sedini mungkin bersama-sama penyuluh dan tokoh masyarakat untuk melakukan pengendalian pengambilan kelompok telur baik secara swadaya maupun dengan bantuan pemerintah pusat dan daerah. Ke depan kami juga akan berupaya dengan memanfaatkan parasitoid telur Trichogramma sp.,” ungkap Budi.

Dihubungi di tempat terpisah, Plt. Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Bambang Pamuji, mengungkapkan pengelolaan hama terpadu tentunya dengan cara menggabungkan beberapa metode pengendalian untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Penggunaan parasitoid menjadi salah satu alternatif metode yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggerek dan apabila serangannya tidak dapat dikendalikan lagi maka penggunaan kimia diperbolehkan secara bijaksana.

Saya harap petugas terus mengawal dan mendampingi para petani di wilayahnya masing-masing agar senantiasa mengedepankan pengendalian OPT secara ramah lingkungan.” Ujarnya.

Hal ini sesuai dengan komitmen Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, yang menekankan pengelolaan pertanian secara ramah lingkungan demi kelestarian lingkungan.

“Kita itu harus peduli dengan kelestarian lingkungan demi anak cucu kita kelak. Laksanakan pengelolaan pertanian dengan mengutamakan ramah lingkungan. Gunakan pupuk organik dan bahan-bahan ramah lingkungan lainnya seperti agens hayati, pestisida nabati dan musuh-musuh alami,” ungkap Suwandi sesuai dengan arahan Menteri Pertanian untuk terus hadir dilapangan memastikan produksi beras Nasional aman.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018