Kamis, 20 Juni 2024


Mengukur Baju Baru Rastra jadi Bantuan Pangan

02 Agu 2023, 13:58 WIBEditor : Yulianto

Bantuan pangan oleh Bulog | Sumber Foto:Dok, Bulog

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bantuan pangan yang sudah digulirkan sejak tiga bulan terakhir dianggap lebih efektif ketimbang program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Meski jumlahnya relatif lebih kecil ternyata bantuan pangan tersebut mampu menekan harga beras di pasar.

Program bantuan pangan tersebut saat ini menyasar sebanyak 21,35 juta keluarga penerima manfaaf (KPM). Jumlah tersebut hampir sama dengan alokasi program beras untuk masyarakat sejahtera (rastra) yang kini dihentikan.

Bahkan ke depan, bantuan pangan tersebut bisa diintegrasikan dengan bantuan sosial (banson) pangan. Selain itu juga jika memungkinkan, maka program bantuan pangan tersebut juga bisa dikembangkan ke komoditas lain. Namun demikian, tetap melihat kemampuan anggaran pemerintah.

Deputi I Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pemerintah telah membuat program khusus untuk menjaga stabilisasi beras yakni program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan. Untuk kedua program tersebut, Bapanas menugaskan Perum Bulog sebagai operator.

Dalam program SPHP hingga kini sudah digelontorkan sebanyak 1,2 juta ton beras. Namun setelah pemerintah meluncurkan program bantuan pangan, volumenya disesuaikan. Pasalnya program bantuan pangan menyasar 21,35 juta KPM dan masyarakat penerima mendapatkan harga beras subsidi dengan harga yang wajar.

“Kita mengharapkan ke depan program bantuan pangan ini bisa berkelanjutan, karena dampaknya selama tiga bulan penyaluran sangat terlihat, salah satunya stabilisasi harga beras di konsumen,” kata Ketut saat webinar Keberhasilan Program Bantuan Pangan dan Tantangan Kedepan yang diselenggarakan Pataka, Rabu (2/8).

Perkembangan harga menurutnya, menjadi indikator keberhasilan bantuan pangan yang diberikan selama periode April-Juni 2023. Dengan bantuan pangan sebanyak 10 kg untuk 21,35 juta KPM, harga beras sampai Juli 2023 relatif stabil, meski memang masih lebih tinggi sedikit dari Harga Eceran Tertinggi (HET).

Data Perum Bulog kenaikan harga beras periode September 2022-Februari 2023 rata-rata mencapai 1,67 persen. Setelah program tersebut diluncurkan kenaikan harga beras periode Maret-Juli hanya 0,40 persen. “Ini bukti data yang ada. Jadi bisa disimpulkan bantuan pangan ada keberhasilan menjaga gejolak harga dan harga beras relatif stabil,” katanya.

 Sejauh mana manfaat bantuan pangan? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018