
Sorghum jadi pangan alternatif saat musim kering
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perubahan iklim merupakan tantangan global yang membutuhkan penanganan yang komprehensif dan lintas sektoral, termasuk lintas sistem pertanian pangan. Apalagi menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), produksi pertanian harus meningkat sebesar 60 persen untuk memenuhi permintaan pangan global pada tahun 2050.
Bagi bangsa Indonesia yang ketergantungan terhadap konsumsi beras menjadi masalah tersendiri. Dengan keterbatasan air saat perubahan iklim yang menyebabkan El Nino atau kekeringan berkepanjangan, usaha tani padi yang dilakoni petani bakal terganggu.
Untuk itu perlu upaya mencari alternatif komoditas yang tahan terhadap kekeringan. Salah satunya tanaman sorghum. Sebagai penghasil karbohidrat, tanaman ini cocok di tanam di lahan kering dan marginal.
”Ditengah ancaman El Nino, sorghum bisa menjadi solusi pangan alternatif bagi masyarakat,” kata Ketua Koperasi Sorghum Nusantara Jaya, Yudith Sriwulandari kepada Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Kamis (10/8).
Sebagai produk pangan, masyarakat Indonesia memang kurang popular dan belum banyak dimanfaatkan. Selama ini sorghum hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Padahal sorgum memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai bahan pangan dan industri.
Sebagai penggiat sorghum, Yudith menilai, sudah saatnya sorgum menjadi komoditi pertanian yang serius untuk digarap. Selain sebagai pangan alternatif, sorghum mengandungan protein dan kalsium yang tinggi, sehingga berpotensi menggantikan tepung gandum.
Tanaman sorghum juga berpotensi menghasilkan bioetanol. Bahkan daun dan batang sorghum bisa dijadikan pakan ternak. Dengan demikian menurut Yudith, usaha tani sorghum dapat meningkatkan perekonomian pedesaan.
Yudith melihat banyak keuntungan jika petani membudidayakan sorghum. Pertama, tanaman tersebut bisa ratun. Dengan hanya menanam sekali, masyarakat bisa memanen hingga 3- 4 kali. “Sorghum adalah komoditi yang zero wise yang semua bagiannya bisa di manfaatkan, mulai dari biji, daun dan batangnya,” katanya.
BACA JUGA : Berjuang Menyiasati Ancaman Perubahan Iklim
Menurut Yudith, akar sorghum dapat meregenerasi unsur hara di dalam tanah. Artinya, akar sorghum dapat memperbaiki kondisi tanah. Lahan pertanian yang mulai rusak karena penggunaan pupuk berlebihan dapat dikembalikan unsur haranya dengan menanam sorghum. “Akar sorghum bisa menyuburkan tanah, termasuk tanah bekas tambang atau marginal,” ujarnya.
Sebagai pangan alternatif, pejuang sorghum ini melihat belum banyak masyarakat yang mengenal sorghum dan mengetahui manfaat tanaman ini sebagai pangan alternatif pengganti nasi maupun tepung. Karena itu pada Oktober 2020, Yudith membentuk Koperasi Sorghum Nusantara Jaya untuk membantu petani dari mulai budidaya hingga menyerap hasil panen.
Ditangan Yudith, tepung sorgum kini diolah menjadi berbagai makanan yang nikmat dan sehat seperti roti, brownies, berbagai jajanan pasar hingga cookies. Bahkan dari pengalamannya, membuat makanan dari tepung sorgum memiliki keunggulan dibandingkan menggunakan tepung gandum yaitu tingkat kematangan yang lebih cepat dan rasa yang lebih gurih.