Sabtu, 25 Mei 2024


Ketua KTNA Jawa Barat: Jangan Ditakuti, El Nino harus Dihadapi

14 Sep 2023, 14:25 WIBEditor : Yulianto

Jaringan irigasi kekeringan dampak dari El Nino | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perubahan iklim yang menyebabkan El Nino menjadi tantangan besar bagi petani. Fenomena iklim ini tak bisa dihindari, namun tak perlu ditakuti, justru harus dihadapi. Namun demikian, pemerintah perlu turun tangan membantu petani menghadapi perubahan iklim tersebut.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, Otong Wiranta mengatakan, pemerintah telah menginformasikan akan terjadi El Nino, termasuk dampak serta akibat yang akan terjadi. Karena itu, KTNA Jawa Barat gencar menyosialisasikan kepada petani di seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat, termasuk Kabupaten Subang.

”Jangan ditakuti, tapi kita harus mempersiapkan apa yang harus kita antisipasi dengan datangnya El Nino ini,” kata Otong saat webinar Siaga Dini Hadapi Perubahan Iklim: Ketersediaan Prasarana dan Sarana Pertanian yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memperkirakan puncak kemarau sebagai dampak dari El Nino akan terjadi pada September, Oktober dan November 2023. Menurut Otong, saat ini sebagian petani akan memasuki masa panen kedua sebelum puncak El Nino melanda Tanah Air yang diperkirakan pada Agustus hingga Oktober mendatang. Beberapa wilayah yang akan panen padi diantaranya, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat.

Sejak April 2023, KTNA Jabar telah menyosialisasikan kepada petani agar selama El Nino untuk beralih dulu dari menanam padi ke jagung. Alasannya, karena jagung lebih mudah beradaptasi saat kemarau dan harganya juga relatif tinggi, kini sudah tembus Rp6.000/kg.

“Ketika lahan untuk padi karena kondisi airnya kurang tidak bisa digunakan untuk padi, yang tepat segera manfaatkan lahan yang ada dengan beralih ke tanaman palawija (jagung),” ujarnya.

Otong mengakui, dampak paling dirasakan petani saat El Nino adalah ketersediaan air untuk budidaya, terutama tanaman pangan sangat kurang. Contohnya, di Bekasi kini sudah 13 kecamatan yang merasakan dampak El Nino. Petani di wilayah Cirebon juga merasakan hal yang sama.

“Bulan-bulan sebelumnya dampak El Nino tidak separah yang dibayangkan karena sampai akhir Juni masih ada hujan. Tapi kini panasnya sangat terik dan sumber air mulai terasa kurang,” katanya.

Menurut Otong, perubahan cuaca yang sulit diprediksi dan berubah suatu waktu, dampaknya bisa kelihatan sekali terhadap kondisi pertanaman. Misalnya, musim tanam yang tidak serempak, bahkan terjadi untuk satu hamparan saja berbeda-beda waktu tanamanya. ”Karena debit air yang sangat kurang membuat pertanaman padi menjadi tidak serempak,” ujarnya.

Kondisi itu lanjut Otong, berpengaruh terhadap serangan hama penyakit. Musim tanam yang tidak serempak membuat siklus hama penyakit menjadi tidak terputus. Sebab, tanaman yang belum panen menjadi inang untuk perkembangan hama dan penyakit sehingga menular ke tanaman yang baru.

Dampak lebih lanjut adalah kualitas dan kuantitas hasil panen menjadi menurun yang kemudian berpengaruh terhadap pasokan beras. Berkuraangnya produksi padi saat ini membuat harga gabah di tingkat petani naik cukup tinggi mencapai Rp 5.000-6.000/kg.

Dengan harga gabah yang tinggi, Otong melihat petani memang sedang menikmati. Tapi juga perlu dikhawatirkan, karena petani rata-rata saat panen langsung menjual semua hasilnya. Setelah itu untuk kebutuhan keseharian, petani membeli beras di pasar. ”Mereka merasakan harga komoditi yang tinggi, tapi pada saat lain merasakan akibat harga  yang tinggi. Ini tentu perlu campur tangan  pemerintah membantu petani,” tuturnya.

 

Terlepas dari adanya ancaman El Nino, Otong melihat persoalan di petani hingga kini masih cukup besar.  Dari mulai SDM pertanian yang mulai berkurang,m sehingga perlu regenarasi, persoalan sraana produksi, khususnya pupuk yang kerap bermasalah, dan masalah infrastruktur pertanian seperti irigasi banyak yang rusak dan banyak masalah lainnya. Untuk itu, ia berharap dukungan pemerintah. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018