Monday, 16 March 2026


Plt Mentan Minta Pejabat Kementan Serius Kendalikan OPT

13 Oct 2023, 09:37 WIBEditor : Yulianto

Plt Mentan, Arief Prasetyo Adi saat berkunjung melihat kondisi pertanaman padi di Karawang

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Kementerian Pertanian menargetkan produksi beras tahun 2024 bisa mencapai 35 juta ton. Selain memastikan ketersediaan pupuk subsidi di petani, Plt Menteri Pertanian, Arief Prasetyo Adi meminta pejabat Kementerian Pertanian serius mengendalikan hama dan penyakit tanaman.

"Saya minta Dirjen Tanaman Pangan dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian gerak cepat melakukan gerakan pengendalian di lapangan," kata Arief saat meninjau sawah pertanaman padi, kios dan gudang pupuk guna mengecek kesiapan distribusi dan stok pupuk di Karawang, Kamis (12/10).

Untuk itu ia menegaskan agar segera berkoordinasi dengan para Bupati untuk sama-sama membasmi hama dan penyakit tanaman padi. Kementerian Pertanian menyiapkan bantuan bahan-bahan yang diperlukan dalam pengendalianya. "Misal untuk burung emprit, kami siapkan bantuan jaring penangkap burung," ujarnya.

Bersamaan, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan hingga saat ini Kementan telah secara masif melakukan pengendalian hama hama penggerek batang, tikus dan emprit di semua daerah. Selain cara kimia, Kementan mengedepankan pengendalian hama secara ramah lingkungan.

"Misal untuk tikus, tidak perlu lagi dengan cara kimia. Kementerian Pertanian merekomendasikan melalui gropyokan dilakukan terus menerus dimulai selesai pengolahan pertama sampai dengan sebelum tanam. Kemudian bisa dengan inovasi ramah lingkungan yaitu Ramuan Bioyoso," ujarnya.

Selain itu, pengendalian tikus melalui menjaga sanitasi lingkungan, membuat rumah burung hantu. Bukan hanya itu, pihaknya juga sudah mengimbau kepada petani untuk menghindari dan melarang menggunakan jebakan kawat listrik. “Utamakan teknik mekanis, gropyokan, pengendalian biologi, dan alternatif terakhir dengan kimiawi," pintanya.

Suwandi menjelaskan Ramuan Bioyoso merupakan pestisida berbahan alami guna mengendalikan hama tikus. Caranya, ramuan Bioyoso menjadi umpan sistemik agar dimakan tikus dan kemungkinan tikus akan mengalami kemandulan dan gigi rontok, lalu selanjutnya mati dalam kurun waktu 2 minggu.

"Pembuatan dapat dilakukan petani sendiri yakni dari ubi gadung, bekatul, ikan yang amis terus ditambah kulit pohon kambija ditambah empat potong ragi tape lalu ditumbuk. Lalu ditaruh jaraknya 3 sampai 5 meter. Nanti dalam waktu 3 sampai 5 hari tikusnya mati," jelasnya.

Untuk teknik pengendalian penggerek batang padi yang lebih efektif, Suwandi menyebutkan efisien dan ramah lingkungan perlu dikembangkan. Salah satunya pemanfaatan feromon yang digunakan untuk pemantauan tingkat populasi dan perangkap massal.

Sebagai alat pemantau populasi, perangkap berferomon akan memberikan informasi lebih dini dan tepat untuk melakukan tindakan pengendalian hama tersebut. Sebagai alat perangkap massal, pemakaian perangkap berferomon dapat menurunkan tingkat populasi serangga jantan yang secara tidak langsung akan menekan jumlah serangga berkopulasi (kawin). Dengan demikian akan menurunkan tingkat populasi serangga hama generasi berikutnya.

“Pemanfaatan perangkap berferomon untuk pengendalian penggerek batang padi kuning dengan memasang 24 perangkap perhektar, akan memberikan hasil yang cukup baik," katanya.

Terakhir, Suwandi menuturkan teknik pengendalian hama burung emprit adalah dengan melakukan tanaman serentak. Selain itu, menanam tanaman berwarna mencolok dan memasang benda-benda mengkilap. "Cara lainya yaitu dengan memasang jaring atau benang perangkap dan memberikan aroma yang tidak disukai burung," ucapnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018