Sabtu, 25 Mei 2024


Setelah Subang, Plt. Mentan Dampingi Presiden Panen di Indramayu

13 Okt 2023, 13:54 WIBEditor : Yulianto

Presiden Jokowi bersama Plt Mentan, Arief Prasetyo Adi panen padi di Indramayu | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu---Setelah pekan lalu panen di Subang (Minggu, 8/10), Plt Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi kembali mendampingi orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo panen padi di Desa Karanglayung, Kabupaten Indramayu. Meski ada ancaman El Nino, karena pengairan irigasi cukup baik, panen padi cukup baik.

Dihamparan seluas 760 hektar (ha) yang mana 350 ha diantaranya berada di Desa Karanglayung dan 410 hektar di Desa Sumuradem, Presiden Jokowi menyebut produksi di wilayah tersebut sangat baik meski ada ancaman El Nino. “Ya (produksi padi) baik, kemarin di Subang, di Indramayu saya kira karena memang ini, irigasi teknisnya masih sangat bagus,” kata Presiden Jokowi yang juga didampingi Plt. Gubernur Jawa Barar, Bupati Indramayu, dan sejumlah petani di lokasi panen.

Lebih lanjut Presiden Jokowi menjelaskan, produktivitas petani di lokasi panen tersebut mencapai 8,6 ton/ha. Selain itu, saat ini harga gabah ditingkat petani cukup tinggi kisaran Rp. 7.200-7.400/kg.-. Meski begitu,  dirinya menegaskan pemerintah akan terus berupaya untuk menstabilkan harga beras di tingkat konsumen.

“Jadi saya tadi tanyakan ke petani, satu hektar bisa 8 sampai 9 ton, rata - rata 8,6 ton perhektar, dan harga gabahnya, sekarang senang semua petani, 7.300, 7.400, 7.200. Petani semua senang, tapi yang tidak senang itu konsumennya,” ungkap Presiden.

Usai menyaksikan langsung aktivitas panen di daerah Subang maupun Indramayu, Presiden Jokowi menegaskan, produksi padi secara nasional tercatat baik, meski El Nino. Bahkan, ia memastikan cadangan pangan nasional dalam posisi yang sangat kondusif.

“Ini saya melihat ke bawah untuk memastikan bahwa produksi itu masih baik, tetapi memang turun karena super El Nino, tapi produksi masih baik, cadangan di Bulog 1,7 juta ton dan akan datang lagi kira kira 500 - 600 ribu ton. Jadi artinya cadangan pangan kita dalam kondisi aman,” rinci Presiden Jokowi.

Sementara itu, Plt Mentan Arief, memerintahkan jajaran Kementan untuk terus mendongkrak produksi beras nasional. Saat Penandatanganan Pakta Integritas di Kantor Kementan (Kamis, 12/10), dirinya meminta agar produksi beras meningkat dari 31,5 juta ton menjadi 35 juta ton agar surplusnya melimpah. Jika produksi beras nasional hanya 31,5 juta ton, maka surplus beras masih sedikit hanya 1,3 juta ton. “Kalau produksi beras kita bisa 35 juta ton baru top. Tapi kalau 31,5 juta ton pas-pasan,” ujarnya.

Produksi Tidak Merata

Selama ini ia menilai ada perbedaan cara melihat surplus beras yang mencapai 1,3 juta ton. Produksi padi menurut Arief tidak merata sepanjang tahun. Sebanyak 70 persen produksi padi berada pada semester 1 dan 30 persen di semester 2. Karena produksi padi pada semester 1 cukup banyak, penggilingan padi tidak ada yang rebutan untuk membeli gabah petani.

Tapi pada semester 2, terutama 3 bulan terakhir produksinya di bawah semester 1, sehingga di lapangan terjadi rebutan gabah di petani. Kondisi tersebut membuat harga gabah naik hingga Rp 7.300-7.500/kg.

“Petani memang senang karena harga tinggi, tapi imbasnya ke konsumen harga beras naik,” katanya. Untuk itulah lanjut Arief, fungsi pemerintah menggelotorkan beras yang ada di Bulog ke masyarakat. Ke depan, pihaknya akan meningkatkan koordinasi dengan Perum Bulog untuk menyerap dan menyimpan gabah petani saat musim panen raya.

Saat ini Arief mengatakan, stok beras cadangan pemerintah cukup aman. Perum Bulog masih ada sebanyak 1,7 juta ton. Selain itu, sok beras di masyarakat juga banyak. ”Lihat saja, sekarang di rumah tangga masih ada  beras, di pasar juga ada beras,” katanya. “Jangan salahkan cuaca sebagai kendala meningkatkan produksi padi, tapi bagaimana memanajemen cuaca agar produksi bisa dinaikkan,” tambah Arief yang juga Kepala Badan Pangan Nasional ini.

Selain meningkatkan produksi, Arief juga meminta agar PT Perum Bulog maksimal melakukan penyerapan beras sebagai cadangan pangan pemerintah yang nantinya juga dapat digunakan sebagai stabilisasi harga. “Jadi Bulog tugasnya bantu simpan. Kebetulan saya yang menugasi Bulog. Kita buat sama-sama," kata Arief yang juga merupakan Kepala Badan Pangan Nasional ini.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018