Senin, 04 Maret 2024


Percepat Tanam di Waktu Tersisa

18 Nov 2023, 18:39 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah siapkan strategi khusus penuhi kebutuhan beras | Sumber Foto:Dok. Sinta

Ketua Kelompok Substansi Data, Evaluasi dan Pelaporan Setditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Rachmat mengatakan, saat ini pihaknya terus bergerak dalam mempercepat masa tanam 2023. Apalagi sebagian daerah di Indonesia sudah mulai turun hujan. "Alhamdulillah di sebagian wilayah sudah mulai turun hujan. Jadi kita optimis untuk MT tahun ini bisa dipercepat,” katanya.

Namun diakui, upaya peningkatan produksi menghadapi tantangan yaitu jumlah penduduk meningkat kurang lebih 1,17 % per tahun dan alih fungsi lahan sawah. Namun demikian masih ada peluang meningkatkan intensitas tanam padi yang rata-rata masih 1 -2 kali setahun. “Peningkatan indeks pertanaman bisa dilakukan, kuncinya air,” katanya.

Peluang lainnya adalah potensi lahan bukan sawah cukup besar, produktivitas padi riil masih di bawah potensi hasilnya. Perluasan areal tanam dapat dilakukan dengan tanaman sela/tumpang sari diantara tanaman utama yang belum menghasilkan, lahan peremajaan/replanting, di bawah tegakan tanaman tahunan. “Di Sulawesi Utara banyak yang menanam padi di bawah tegakan pohon kelapa,” katanya mencontohkan.

Rachmat mengatakan, berdasarkan mapping produktivitas BPS Tahun 2022 masih ada disparitas produktivitas antar provinsi. Ada provinsi yang produktivitasnya sudah di atas 6 ton/ha, tapi ada juga yang masih di bawah 4 ton/ha. Selain itu, produktivitas antar tipologi lahan juga ada disparotas. Produktivitas padi di lahan irigasi mencapai 5,3 ton/ha, di lahan tadah hujan 4,6 ton/ha, di lahan sawah pasang surut 3,8 ton/ha dan lahan rawa lebak 4,5 ton/ha.

Jadi kata Rachmat masih ada potensi untuk ditingkatkan dengan penggunaan varietas unggul baru. Misalnya Inpari 32 dan Inpari 42  yang produktivitasnya mencapi  8-10 ton/ha untuk lahan sawah irigasi. Sedangkan di lahan tadah hujan dengan varietas Inpago 8  yang produktivitasnya 8,1 ton/ha.  Sementara di lahan rawa dengan menggunakan varietas Inpara yang produktivitasnya mencapai 6-8 ton/ha.

Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, produksi harus ditingkatkan. Caranya, dengan meningkatkan luas panen, menaikkan produktivitas dan mengendalikan lahan baku sawah. Peningkatan produktivitas dengan penggunaan varietas unggul baru potensi hasil tinggi di atas 6 ton/ha dan introduksi teknologi spesifik lokasi.

 

Sementara strategi peningkatan IP, Rachmat menyarankan agar petani mempercepat tanam. Caranya, petani bisa melakukan cara semai culik, bisa dengan membuat dapog atau tray yang dilakukan diluar areal pertanaman (15 hari sebelum panen). Selain itu, percepatan olah tanam dan panen dengan mekanisasi, menggunakan varietas sangat genjah. “Pada kondisi tertentu dapat diselingi tanam palawija. Jadi, nanti jeda waktu panen ke tanam maksimal hanya 15 hari,” katanya

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018