Sabtu, 25 Mei 2024


Panen Raya Ngawi dan Purworejo Bakal Banjiri Pasar

26 Peb 2024, 16:30 WIBEditor : Gesha

Panen Raya di Purworejo | Sumber Foto:Istimewa

TABLOID SINAR TANI, Jakarta -- Banyak sentra Pertanian di Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai memasuki panen Raya pada akhir bulan ini. Dua diantaranya adalah Purworejo (Jawa Tengah) dan Ngawi (Jawa Timur).

Di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, para petani sedang sibuk mengadakan panen raya di beberapa desa yang menjadi pusat aktivitas pertanian. 

Desa-desa seperti Laban, Wonosri, Jeruken, Tanjungrejo, Kalitanjung, Wasiat, Tunjungan, Pejagran, Wonoroto, Kesidan, Kumpulsari, Kaliwungukidul, dan Awu-awu menjadi saksi kesibukan para petani ini.

Koordinator PPL setempat, Woro, menyatakan bahwa panen bulan Februari ini diperkirakan akan melibatkan luas lahan sebesar 783 hektar, dengan puncaknya diharapkan terjadi pada akhir Maret mendatang. 

Woro optimis bahwa hasil panen tahun ini akan mampu memenuhi kebutuhan nasional.

"Dari hasil ubinan yang dilaksanakan di Kelompok Tani Maju beberapa waktu lalu produktivitasnya mencapai 7 ton per hektar dengan varietas Inpari 32 dan tidak ditemukan adanya serangan hama penyakit sehingga kami optimis mampu memenuhi kebutuhan pasar," kata Woro.

Untuk diketahui, Kecamatan Ngombol adalah salah satu pusat produksi padi terbesar di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan luas lahan mencapai 3.425 hektar.

Sementara pada musim III tahun 2023 para petani berhasil menanam padi seluas 1.112 hektar yang menjadikan Ngombol sebagai lumbung pangan di Kabupaten Purworejo.

Panen raya juga terjadi di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Supardi optimis hasil produksi pada kegiatan panen raya tahun ini mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Kami yakin produksi Ngawi mampu menjadi tambahan beras bagi pasar dan cadangan pangan sehingga ke depan kita tidak perlu impor,” ujar Supardi.

Supardi menyebutkan bahwa Kabupaten Ngawi adalah salah satu pusat produksi padi terbesar di Jawa Timur. Di sana, rata-rata produksi mencapai 6 hingga 7 ton per hektar, dengan potensi panen pada bulan Februari mencapai 6.055 hektar.

"Harga gabah saat ini masih berkisar antara Rp 6.900 hingga Rp 7.200," katanya.

Menurutnya, potensi panen pada bulan Februari kemungkinan akan meningkat drastis pada bulan Maret berikutnya, mencapai 30.233 hektar dengan kenaikan harga sebesar 300 rupiah.

"Pada bulan Maret, harga kemungkinan akan naik menjadi Rp 7.500. Yang pasti, ketersediaan beras saat panen raya akan cukup melimpah," ungkapnya.

Supardi menyatakan bahwa pertambahan luas lahan panen dan peningkatan produksi pada tahun ini merupakan hasil dari dukungan yang diberikan oleh pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian (Kementan), terutama dalam bentuk bantuan benih, pupuk, dan mekanisasi.

Ia menambahkan bahwa penggunaan combine harvester dalam proses panen telah membuat harga gabah meningkat sebesar 300 rupiah. 

Dia menyampaikan rasa syukurnya atas perhatian besar yang diberikan oleh pemerintah pusat terhadap kemajuan pertanian di Ngawi.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018