
Beras mulai masuki pasar
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Memasuki akhir Februari, Indonesia bersiap menyambut momen istimewa dengan lima provinsi merayakan panen raya yang menjanjikan kelimpahan hasil beras.
Akhir bulan ini, panen padi telah dimulai di lima provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Selatan, dan Sumatra Selatan.
Pemerintah akan mengawasi agar produksi di wilayah-wilayah tersebut meningkatkan pasokan beras di pasar, menjaga agar harga tetap stabil. Selain itu, harga gabah dari petani juga akan dijaga agar tidak turun.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa Kementerian Pertanian terus mendorong daerah-daerah di Indonesia untuk mengawal jalannya panen raya 2024, yang diharapkan akan memperkuat ketersediaan pangan nasional dalam beberapa bulan ke depan.
Sebelumnya, Kementan telah mendorong berbagai daerah di Indonesia untuk meningkatkan produksi padi dan jagung sebagai komoditas utama masa depan bangsa.
"Pada saat ini, petani di Jawa Timur dan Jawa Tengah sedang melakukan panen padi dan kegiatan panen raya tersebut berlangsung dari akhir Februari hingga puncaknya diperkirakan pada April. Hasil panen ini akan meningkatkan ketersediaan beras di pasar-pasar di seluruh Indonesia. Pemerintah juga siap untuk menjaga harga dan menyerap gabah dari petani," ungkap Mentan.
Dalam mendukung peningkatan produksi guna mencapai panen raya yang optimal, Kementan memberikan pendampingan dan bantuan kepada petani.
Misalnya, melalui Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Banten, Kementan secara rutin mengadakan penguatan kapasitas dalam menerapkan standar pertanian untuk kelompok tani di provinsi tersebut.
Selain itu, pengelolaan tanam terpadu juga terus ditingkatkan, meliputi penggunaan varietas unggul baru dan berkualitas, pemberian bahan organik, penggunaan pupuk hayati, serta penanganan panen dan pascapanen yang tepat.
Untuk jangka menengah hingga panjang, Kementan sedang fokus pada optimalisasi pertanaman padi di lahan rawa dengan target mencapai 10 juta hektar.
Amran yakin bahwa melalui upaya ini, Indonesia dapat menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2028. "Kami optimis bahwa dengan panen yang optimal, kita dapat memenuhi kebutuhan pasar pada saat puncak panen," ujar Mentan.
Prognosa Luas Panen
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) menambahkan bahwa berdasarkan Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik (KSA BPS) pada bulan Desember 2023, proyeksi luas panen padi untuk bulan Januari tahun ini sekitar 315 ribu hektar, Februari 478 ribu hektar, dan Maret 1,15 juta hektar.
Produksi beras untuk tiga bulan pertama tahun 2024 diproyeksikan mencapai 5,81 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi mencapai 7,62 juta ton, meninggalkan selisih produksi dan kebutuhan sebesar 1,81 juta ton.
"Kami memiliki sistem peringatan dini. Saat BPS menyusun KSA, terutama untuk tanaman pangan, kami dapat memperkirakan kondisi produksi tanaman pangan di masa mendatang jauh sebelumnya.
Dengan demikian, berbagai langkah penguatan stok cadangan pangan pemerintah dalam rangka stabilisasi harga beras telah dipastikan bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan," ujar Arief.
Dalam rangka panen raya ini, Bapanas telah berkoordinasi erat dengan Kementan dan jajarannya yang telah bekerja keras dalam proses penanaman.
"Panen bisa mencapai 2,5 juta ton per bulan dan ini merupakan hal yang harus dilakukan. Sebelumnya, penanaman sempat tertunda karena adanya perubahan iklim El Nino pada akhir tahun," kata Arief.
Tak Perlu Panik
Dalam situasi ini, kata Arief, persediaan beras sudah tersedia dan pemerintah menjamin bahwa pasokannya mencukupi.
Artinya, tidak perlu panik membeli berlebihan karena pemerintah telah melakukan persiapan jauh-jauh hari, sehingga stoknya akan sangat mencukupi.
"Proyeksi untuk bulan Maret adalah panen sebanyak 3,5 juta ton. Hal ini juga akan membantu menurunkan harga beras, dan tentunya nilai tukar petani tidak boleh turun secara signifikan," jelasnya.
Menurut Arief, kenaikan harga beras saat ini disebabkan oleh kenaikan harga gabah. Dengan rata-rata harga gabah sekitar Rp 8.000-8.500 per kilogram, harga beras mencapai sekitar Rp 16 ribu per kilogram.
Situasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. "Namun, pemerintah akan memastikan keseimbangan harga di tingkat petani dan konsumen," tambahnya.
Selain itu, dalam delapan bulan terakhir, terjadi defisit antara produksi dan konsumsi beras nasional.
Meskipun total produksi pada tahun 2023 masih surplus sebesar 340 ribu ton, namun produksi versus konsumsi beras pada bulan Januari dan Februari 2024 mencapai minus 2,8 juta ton.
Banjiri Pasar
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Dydik Rudy Prasetya, menjelaskan luas panen di Jawa Timur untuk tahun 2024 mengalami peningkatan, dari 51.741 hektar pada Januari menjadi 108.435 hektar pada Februari, dan diperkirakan mencapai 361.151 hektar pada Maret.
Surplus beras untuk bulan Februari dan Maret masing-masing sebesar 10.926 ton dan 922.822 ton.
"Jika kita melihat ketersediaan beras dengan mengacu pada stok tahun lalu, sebenarnya tidak ada kekurangan karena masih ada sisa stok dari tahun 2023, ditambah dengan panen pada bulan Januari-Februari yang menghasilkan surplus sebesar 2,8 juta ton. Saya yakin bahwa Indonesia memiliki persediaan gabah yang melimpah," ujar Rudy.
Luas panen untuk periode Januari hingga Desember 2024 di Jawa Timur mencapai 2.028.214 hektar, dengan surplus beras pada masa panen 2024 diperkirakan mencapai 2.821.661 ton.
Angka tersebut merupakan hasil perhitungan potensi dari realisasi luas tanam dari Oktober 2023 hingga Januari 2024, serta merupakan analisis statistik pertanian dan perkembangan luas tanam dan panen dalam penguatan data pangan strategis untuk periode 2023-2024.