Senin, 22 April 2024


Mendagri: Daerah harus Ikut Kendalikan Inflasi Pangan

02 Apr 2024, 14:20 WIBEditor : Yulianto

Kondisi perdagangan di Kota Batam | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Inflasi menjadi salah satu yang sangat diperhatikan pemerintah terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Bukan hanya tingkat nasional, Inflasi daerah yang menjadi agregat dari inflasi nasional juga harus benar-benar dikendalikan.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan, inflasi harus betul-betul dikendalikan. Pemerintah pusat menargetkan tahun 2024 angka inflasi di 2,3%. Hal ini bukan hanya kerja pemerintah pusat, melainkan  juga yang utama pemerintah daerah dengan adanya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang dipimpin para kepala daerah.

Tito mengatakan, inflasi pada Februari Year on Year berada diangka 2,75%. Angka ini agak naik dibanding dengan inflasi Januari yang berada di angka 2,57%. “Pada September inflasi hampir  mencapai angka 6%, tapi mulai turun sampai sekarang di angka 2,75%. Ini harus kita pertahankan, katanya saat Rapat Koordinasi Nasional Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang Puasa dan Idul Fitri 2024, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, ada 10 daerah tingkat provinsi dengan inflasi tertinggi dengan angka diatas 3,28% yaitu Papua Selatan, Gorontalo, Papua Tengah, Bengkulu, Papua Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, dan Lampung.  Sedangkan provinsi dengan inflasi terendah tingkat nasional ialah Papua Barat Daya, Bangka Belitung, Papua, DKI Jakarta, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Aceh, Kaltara, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara.

“Untuk daerah yang inflasinya tertinggi agar mengkoreksi dan melihat penyebabnya. Segera lakukan rapat dengan Forkopimda untuk menyelesaikan masalah tersebut,” ujarnya. Sedangkan untuk komoditas yang mengalami inflasi tingkat nasional yaitu beras yang naik di 281 Kabupaten/Kota, cabai naik di 254 daerah, dan minyak goreng 229 daerah. 

Untuk menjaga inflasi, mantan Kapolri ini mengatakan harus dicari keseimbangan antara menyenangkan produsen dan menyenangka konsumen. Jika harga terlalu murah, maka kasihan petani yang memproduksi. Sebaliknya jika harga tinggi, maka masyarakat yang akan menjerit. “Karena itu kita harus membalance angka inflasi terkendali menyenangkan keduanya,” ujarnya.

Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) seperti saat ini, Tito mengatakan, akan ada perubahan pola dalam kehidupan masyarakat seperti yang biasa terjadi. Karena itu diperlukan antispasi. “Di tingkat pusat kita lakukan langkah-langkah dan di daerah juga akan bergulir melakukan langkah-langkah,” jelasnya.

Tito mengatakan, ada sembilan langkah yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk menjaga inflasi yaitu dengan memantau stok dan harga secara rutin untuk memastikan kebutuhan tersedia,  melakukan rapat teknis Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang diketuai kepala daerah, menjaga pasokan bahan pokok dan barang penting, pencanangan gerakan menanam terutama yang ditekankan adalah komoditas yang cepat panen yaitu cabai.

Langkah lain ialah melaksakana operasi pasar murah, melaksanakan sidak ke pasar dan distributor agar tidak menahan barang, berkoordinasi dengan daerah penghasilan komoditas untuk kelancaran pasokan, merealisasikan BTT (Belanja Tidak Terduga) untuk mengendalikan inflasi. Terakhir, memberikan bantuan transportasi dari APBD.

“Kalau sembilan langkah ini dilakukan sesuai dengan masalah yang ada di lapangan mulai dari komoditas apa yang naik, penyebabnya apa, supplay yang kurang atau distribusi yang tidak jalan karena ada yang menahan itu kemudian harus ditelusuri. Titik rawannya ketika harga naik atau barang langka. Karena itu perlu dijaga agar tersedia pasokan dan harga terjangkau,” tuturnya.

Karena itu untuk stabilitas pangan dan menjaga inflasi tetap terjaga, Tito mengatakan perlunya kekompakan bersama antara semua stakeholder pangan, baik ditingkat pusat maupun daerah serta para pengusaha dibidang pangan dan stackeholder lainnya

Reporter : Herman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018