Senin, 15 Juli 2024


Bulog Jawab Sindiran KTNA Terkait Serapan Gabah Petani

29 Apr 2024, 15:21 WIBEditor : Yulianto

Dirut Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Perum Bulog menjawab sindiran Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) soal masih minimnya pengadaan atau serapan gabah/beras dalam negeri. Perusahaan plat merah tersebut telah mengoptimalkan pengadaan gabah/beras dengan program jemput bola ke petani dan penggilingan padi kecil.

“Untuk meningkatkan pengadaan, kita melakukan program jemput bola gabah/beras ke petani dan penggilingan kecil di sentra produksi. Bahkan saat libur Lebaran, kami tetap bekerja dengan membuka gudang,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi saat Halal bi Halal dengan wartawan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mengacu pada standar kualitas gabah/beras yang ditetapkan pemerintah, Bayu mengatakan, banyak petani atau penggilingan padi yang menghasilkan gabah sesuai standar pemerintah yakni kadar air 20 persen. “Sesuai kebijakan Badan Pangan Nasional, kita harus disiplin terhadap kadar air. Karena kalau kita tidak disiplin, beras nanti akan mudah rusak dan mudah patah,” katanya.

Seperti diketahui, Badan Pangan Nasional telah menetapkan kebijakan fleksibilitas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan beras yang diterapkan bagi Perum Bulog. Untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani Rp 6.000 per kg. Selanjutnya Gabah Kering Giling (GKG) di gudang Perum Bulog Rp 7.400 per kg.

Standar kualitas beras di gudang Perum Bulog dengan derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air 14 persen, butir patah maksimal 20 persen, dan butir menir maksimal 2 persen. Harga beras dengan kualitas tersebut Rp 11 ribu/kg. Kebijakan tersebut akan berlaku sampai akhir Juni mendatang.  

“Jika Bulog harus membeli gabah sesuai kualitas yang ada di petani, maka akan kami lakukan rafaksi,” kata Bayu. Hingga kini pengadaan gabah/beras dalam negeri sudah sebanyak 633 ribu ton setara gabah atau 329 ribu ton setara beras.

Bayu mengungkapkan, masih minimnya pengadaan tersebut karena beberapa faktor. Pertama, panen padi yang relatif pendek. “Ketika panen, gabah memang banyak, tapi karena waktunya pendek, sehingga terjadi rebutan antar pedagang. Jika Bulog tetap masuk dengan membeli dalam jumlah banyak, maka akan mendorong kenaikan harga gabah di lapangan,” tuturnya.

Faktor lain, Bayu melihat kualitas gabah musim panen saat ini banyak yang kurang baik. Karena terbatasnya stok pupuk, membuat petani tidak optimal memberikan pupuk ke tanaman, sehingga kualitas gabah menjadi turun. “Kadar patahnya tinggi, sehingga tidak masuk dalam tabel standar mutu yang pemerintah tetapkan,” ujarnya.

Untuk memaksimalkan pengadaan gabah/beras, Bayu menegaskan, pihaknya menerapkan berbagai cara. Diantaranya, buka 24 jam selama 7 hari, kemudian jemput gabah/beras petani dan meningkatkan kerjasama dengan penggilingan padi.

“Berbagai cara kami lakukan untuk serapan gabah/beras dalam negeri. Tapi kami juga harus hati-hati, kalau Bulog terlalu agresif, dampaknya harga akan naik. Kami berusaha tetap bisa mencapatkan gabah/beras petani, tapi terukur,” tutur Bayu yang pernah menjadi Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan.

Sebelumnya Ketua Umum KTNA, Yadi Sofyan Noor menyayangkan, kinerja Perum Bulog yang tidak optimal menyerap gabah petani. Pada masa panen raya awal 2024 saat ini, Bulog justru kalah bersaing dengan pedagang beras dalam membeli gabah petani.

"Ini kan lagi panen raya padi dan jagung, kenapa Bulog tidak bisa serap gabah dan jagung petani. Harga di petani jatuh tinggal Rp 4.000/kg. Padahal Bulog sangat diharapkan menyerap optimal pada masa panen raya ini agar harga gabah tidak anjlok," kata Yadi Sofyan.

Yadi menilai, tidak ada alasan bagi Perum Bulog untuk tidak menyerap gabah petani. Apalagi pedagang mampu melakukanya tanpa ada kendala. Alasanya minimnya penyerapan gabah petani menurutnya, sangat tidak logis, yakni potensi rebutan gabah karena periode panen yang pendek.

"Buktinya pedagang sanggup serap. Coba bandingkan modalnya, pedagang modalnya tidak besar paling Rp 50 sampai 100 juta, sedangkan Bulog modal triliunan dan punya gudang banyak pula," tegasnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018