Jumat, 21 Juni 2024


Gerdal Wereng di Kulonprogo, Kementan Imbau Antisipasi Dini

05 Mei 2024, 21:09 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi saat melihat percepatan tanam di Kulonprogo | Sumber Foto:Humat TP

TABLOIDSINARTANI.COM, Kulonprogo---Kementerian Pertanian mengimbau agar semua pihak untuk mengantisipasi secara dini serangan hama dan penyakit. Pasalnya, perubahan musim dapat menyebabkan peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT)

Seperti dilakukan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi pada Minggu (5/5) saat meninjau persawahan di Kecamatan Wates, Kulonprogo untuk memastikan gerakan pengendalian hama wereng berjalan dengan baik. Dalam kunjungan tersebut, turut mendampingi Direktur Perlindungan Tanaman, Rachmat.

Suwandi mengatakan, salah satu yang memicu munculnya hama wereng di area pesawahan di Kecamatan Wates Kabupaten Kulonprogo karena adanya perubahan musim hujan ke musim kemarau.

“Sekarang karena perubahan musim pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau banyak mulai serangan-serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) salah satunya wereng dan ada OPT lain,” katanya.

Serangan OPT tersebut menurut Suwandi, tidak hanya di Kulonprogo, tapi bisa terjadi di beberapa daerah lain. Ke depan, pemerintah mengingatkan kepada semua pihak agar mengantisipasi secara dini munculnya serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi.

“Mencegah lebih bagus daripada mengobati tapi kalau sudah terlanjur eksplosi maka kita melakukan Gerdal,” katanya.

Lebih lanjut, dalam melakukan pengendalian hama, Suwandi menghimbau agar gerakan pengendalian menggunakan pestisida-pestisida nabati atau hayati. Selain itu menggunakan agensi hayati dan langkah pengendalian dari awal dengan pergantian varietas.

“Karena wereng itu suka batang yang manis-manis jadi varietasnya harus diganti supaya tidak di makan wereng. Itu yang penting pergiliran varietas kemudian jaga sanitasi,” ujarnya.

Suwandi memberikan tips pencegahan hama secara dini. Misalnya, jika dalam pengamatan ada telur sekitar 400-500 per batangn dan cepat berkembang, maka harus segera dilakukan gerakan pengendalian. Namun diingatkan dalam pengendalian tersebut harus dengan prinsip yang ramah lingkungan dan menekan serendah mungkin gagal panen.

Ditemui ditempat yang sama, Direktur Perlindungan Tanamanan Rachmat menyampaikan kedepan pihaknya akan mengawal secara intensif dan memberikan perlindungan terhadap tanaman padi, serta pencegahan dini.

“Terkait dengan hama WBC kedepan kita akan kawal sejak awal. Apalagi kini sudah mulai panen,” katanya.

Cegah Sebelum Tanam

Kedepan menurutnya, petani bisa mengantisipasi serangan WBC dari mulai sebelum tanam yani dari persemaian, kemudian dalam olah tanah dengan bajak cincang dan olah tanah sempurna. Bahkan dengan mengganti varietas yang taham hama wereng.

Rachmat juga meminta kepada seluruh petani untuk melakukan pengamatan rutin terhadap tanaman padi dan melaporkan perkembangan kepada petugas jika ada tanda-tanda serangan OPT. Dengan demikian, petugas bisa segera melakukan tindakan dengan tepat untuk melindungi tanaman dari serangan hama.

“Saya mohon petani lakukan pengamatan rutin. Nanti petugas bisa mengajarkan bagaimana cara mengamati tanda-tanda tanaman diserang hama,” katanya. Dengan demilkian, petani juga bisa ikut membantu petugas melakukan pengamatan harian, sehingga OPT terdeteksi secara dini, kemudian dilanjutkan dengan pencegahan.

Pada kesempatan itu, Rahmat memberikan apresiasi kepada Dinas Pertanian Kulonprogo. “Sesuai amanat undang-undang yang namanya perlindungan tanaman ini adalah kerja bareng antara Pusat, daerah kemudian juga desa dan masyarakat secara umum untuk kemudian sama-sama melakukan pengendalian. Alhamdulillah di Kulonprogo ini bisa dikendalikan,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Dirjen Tanaman Pangan juga melakukan gerakan percepat tanam. Untuk Kabupaten Kulonprogo pada Mei 2024 menyatakan kesanggupan percepat tanam padi seluas 3.466 ha lebih tinggi dari tanam Mei 2023 dengan luas 2.358 ha.

Saat ini di Gapoktan Ngesti Raharjo, Desa Ngesti Harjo, Kecamatan wates sudah panen 115 ha. Sebagian lahan atau sekitar 25 persen melakukan budidaya sistem surjan, dengan IP200 dan produktivitas tanaman 7 ton/ha. Saat ini petani sedang olah tanah dan siap ditanam untuk meningkatkan IP250.

Di Desa Kaligintung Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo, Poktan Silayur sedang panen 70 ha dengan varietas Ciherang dan Inpari32. Di desa tersebut indek pertanaman (IP) sudah dua kali setahun dengan produktivitas 5,5 ton/ha GKP. Bahkan petani menyatakan sanggup menaikkan indeks pertanaman dengan dukungan air sumur bor untuk sumber pengairan.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018