Jumat, 12 Desember 2025


Tanam Padi Hibrida, Petani Cirebon Tak Bisa Pindah ke Lain Hati

15 Mei 2024, 12:56 WIBEditor : Yulianto

Carsa, petani Cirebon yang kepincut tanam padi hibrida

TABLOIDSINARTANI.COM, Cirebon---Selama ini ada kesan miring ketika petani diajak menanam padi hibrida. Berbagai alasan pun diungkapkan. Dari mulai tidak tahan hama penyakit hingga gabahnya tidak bisa dijadikan benih lagi untuk pertanaman berikutnya. Namun bagi petani di Desa Sindangkasih, Kecamatan Beber, Cirebon justru ’mengejar-ngejar’ padi hibrida.

Bertanam padi hibrida bagi sebagian petani memang bukan pilihan yang menarik. Namun bagi Carsa, petani yang menggarap lahannya di Desa Sindangkasih, Kecamatan Beber, Cirebon justru menjadi pilihan utama. Saat ini Carsa dan petani lainnya di Kecamatan Beber membudidayakan padi hibrida varietas Mapan dengan luas hampir 30 hektar (ha).

Salah satu alasan menanam padi hibrida, petani yang saat ini mengelola lahan seluas 2 haktar (ha) tersebut menilai, banyak keuntungannya. Selain produktivitasnya cukup tinggi karena butirannya cukup besar, nasinya juga pulen dan wangi. Setiap tanaman ada 25-30 anakan dan per malai terdapat 200-300 bulir padi.

Kelebihan lainnya, menurut Carsa, padi Mapan mempunyai daun bendera tegak ke atas, membuat hama burung pipit tidak hingga ke tanaman. Jadi jika terlambat panen, maka tidak akan terserang hama burung, karena bulir padinya ngumpet.  “Kalau varietas padi lain mudah terserang hama penggerek batang, saya belum mendengar ada kasus menyerang padi Mapan,” kata Carsa yang pernah menanam padi varietas Inpari 32 dan Mekongga.

Faktor lain yang membuat petani di Kecamatan Beber menyukai padi Mapan adalah harga gabahnya juga jauh lebih tinggi ketimbang varietas lain. Saat ini harga gabah padi Mapan mencapai Rp 6.500/kg, sedangkan padi lain Rp 6.000/kg.

Carsa sendiri mengenal padi hibrida Mapan sudah sejak tahun 2017. Saat itu dirinya tengah mencari pakan ternak ke Kabupaten Kuningan. “Selain bertani, saya juga punya ternak. Sekitar tahun 2017 saya mencari pakan ternak ke Kuningan. Disana saya melihat padi yang malainya panjang dan anakannya banyak,” tuturnya menceritakan awal berkenalan dengan padi Mapan.

Melihat padi yang pertumbuhannya berbeda dari lainnya, Carsa pun bertanya ke petani di lokasi tempat dirinya mencari pakan ternak. Setelah mengetahui bahwa benih tersebut adalah varietas Mapan, ia kemudian mencoba membudidayakan. “Saya waktu itu tanya benih apa ini? Ternyata petani disana bilang benih Mapan. Saya coba tanam,” ujarnya.

Namun pada awal mencoba menanam, Carsa mengakui, mengalami kegagalan, karena belum menguasai cara budidaya padi hibrida yang benar. Setelah mendapat petunjuk dari penyuluh pertanian, pada tanam berikutnya berhasil. “Sekarang yang menanam padi Mapan sudah menyebar banyak, bahkan sudah satu kecamatan atau hampir 30 ha. Hidup saya tambah mapan,” ujarnya.

Carsa mengungkapkan, dalam budidaya padi hibrida Mapan dirinya mengakui menerapkan perlakuan khusus pada tanaman. Saat tanaman sudah mengeluarkan bulir saat bunting tua, sekitar 60 hari, ia mengaplikasikan MAP dan KNO3, kemudian fungisida dan insektisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit, khususnya Sundep. Aplikasi itu diberikan juga saat 75 persen malai keluar dan saat menjelang akhir pertanaman. “Saya memberikan dosis setiap 16 liter hanya 3-4 sendok MAP dan KNO3. Dosis itu termasuk rendah,” katanya.

Jika dihitung biaya usaha tani padi hibrida, Carsa mengayakan, memang  lebih tinggi menjadi sekitar Rp 8-9 juta/ha, sudah termausk benih.  Namun dengan produkitivitas naik dan harga gabah yang lebih mahal, biaya produksi tersebut sudah tertutupi.

Ketersediaan Benih

Sementara itu Rusman, pemilik kios sarana produksi Mulya Tani, Kecamatan Beber mengakui memang harga benih padi hibrida Mapan lebih mahal yakni Rp 100 ribu/kg, sedangkan benih padi lain hanya Rp 50 ribu/kg. Meski harga  lebih  mahal, ia mengakui, petani di Kecamatan Beber kini banyak mencari benih tersebut.

“Bukan hanya hasil panen lebih tinggi, tapi juga ketika dijual harganya juga lebih mahal,” kata Rusman juga kerap membeli gabah hasil panen petani. Karena itu ia berharap jika pemerintah memberikan bantuan, maka sebaiknya benih Mapan. “Benih Mapan lebih jelas menguntungkan petani, lebih baik pemerintah bantu  benih Mapan,” tambahnya.

Rusman yang juga menjadi mitra petani dalam menyediakan pupuk subsidi mengaku dirinya kadang merasa tidak enak jika petani mendapatkan bantuan benih, tapi hasil produksinya rendah. Kepada produsen benih Mapan ia juga meminta agar ketersediaan benih selalu ada. Pasalnya beberapa waktu lalu, sempat benih padi Mapan tidak ada. “Kita kadang sudah koordinasi dengan petani untuk tanam benih Mapan, tapi pas mau tanam benihnya tidak ada,” ujarnya.

Direktur Utama PT. Primasid, Ayub Darmanto berterima kasih kepada petani yang sudah menggunakan benih padi hibrida Mapan. Namun dirinya juga meminta maaf keterbatasan benih. Pasalnya, permintaan benih kini bukan hanya petani yang di daerah irigasi, tapi juga sawah tadah hujan. “Jadi masuk musim hujan kemarin, banyak petani di lahan tadah hujan langsung minta benih Mapan, sehingga sekarang sebarannya makin luasan,” tuturnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018