Jumat, 21 Juni 2024


Kementan Turunkan Tim Kendalikan Serangan Hama di Blora

21 Mei 2024, 11:58 WIBEditor : Yulianto

Gerakan pengendalian OPT di Blora | Sumber Foto:Humas Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Blora---Serangan hama dan penyakit tanaman ibarat menjadi tamu rutin di lahan petani saat musim tanam padi tiba. Seperti yang terjadi di Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Jika tidak segera dikendalikan, maka berdampak pada penurunan produktivitas tanaman.

Guna mengatasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tersebut, Kementerian Pertanian bergerak menurunkan tim ke lapangan. Melalui Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian melakukan pengecekan pertanaman, sekaligus memberikan bimbingan teknis (bimtek) pengendalian hama penyakit tanaman kepada petani.

Dalam kegiatan tersebut juga diikuti tim dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Pertanian Kabupaten Blora. Bimtek yang bertempat di BPP Kecamatan Kradenan ini diikuti perwakilan petani dari Desa Mojorembun, petugas Babinsa setempat dan desa-desa disekitarnya, serta perwakilan petugas dari Kecamatan Kedungtuban dan Cepu. 

“Sebagai tindak lanjut dari laporan serangan wereng coklat dan tikus di wilayah ini, tim memberikan Bimtek kepada petani untuk mengamankan pertanaman pada musim tanam berikutnya dari serangan hama tersebut,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi.

Suwandi menegaskan, pemerintah pusat selalu berkomitmen hadir mendampingi petani saat ada kendala seperti gangguan OPT.  Karena itu untuk mengamankan produksi pangan tidak terlepas dari peran pemerintah pusat dan daerah, juga dukungan petani dan pelaku usaha untuk bersama-sama bergotong royong secara aktif mengamankan produksi padi.

“Upaya-upaya preventif atau pencegahan harus kita kedepankan karena mencegah tentu lebih baik daripada mengobati," kata Suwandi. Karena itu, petani harus diberikan pengenalan dan pemahaman mengenai hama penyakit tanaman. Selanjutnya, cara pengendaliannya yang benar harus ditingkatkan.

“Kalaupun kemudian terjadi serangan hama maupun penyakit, petani dapat mengendalikan sejak awal sehingga masih memungkinkan dengan cara-cara yang ramah lingkungan," tambah Suwandi.

Sementara itu, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Rachmat menegaskan, semua pihak wajib ikut bertanggungjawab dalam pengamanan produksi, khususnya dalam pengendalian hama penyakit tanaman. Ketika ada laporan, pihaknya langsung bergerak berkoordinasi dengan daerah dan petugas POPT.

“Kita semua berperan aktif dalam pengendalian OPT sesuai amanat UU. Tim kami bersama tim daerah dan POPT turun langsung ke lapangan untuk melakukan langkah-langkah pengendalian yang diperlukan,” kata Rachmat.

Rachmat menambahkan, bagi petani yang mengalami gagal panen, pemerintah akan mengupayakan bantuan benih dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Dengan demikian, petani dapat lebih termotivasi untuk memulai musim tanam berikutnya.

Pernyataan Suwandi dan Rachmat tersebut selaras dengan arahan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman agar seluruh stake holder pertanian berkolaborasi, menyatukan segala upaya untuk mengamankan produksi pangan agar dapat mencapai target produksi yang telah ditetapkan dan mewujudkan swasembada pangan nasional.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Blora, Ngaliman mengapresiasi langkah pengamanan produksi padi dari serangan hama penyakit yang telah dilakukan pemerintah pusat. Saat ini, pihaknya tengah merancang dan menggodok kegiatan yang dapat mendobrak kebiasaan petani dalam mengendalikan hama tikus yang tidak aman.

“Wilayah kami sebagian memang endemis serangan tikus. Petaninya banyak menggunakan cara pengendalian tikus yang berbahaya yaitu aliran listrik. Hal ini yang akan kami ganti dengan cara yang lebih aman namun efektif,” kata Alim, sapaan akrabnya.

Sementara itu Kepala BPTPH Provinsi Jawa Tengah, Herawati Prarastyani mengatakan, pihaknya terus mengarahkan petugas POPT di wilayah kerjanya untuk melakukan pengamatan dengan intensif dan mengawal petani dalam pengendalian OPT. “Untuk meningkatkan kualitas petugas POPT yang baru, kami akan memberikan bimtek pengamatan, peramalan, dan pengendalian OPT,” katanya.

Koordinator POPT Kabupaten Blora, Isna mengakui, wilayah Kecamatan Kradenan memang endemis beberapa OPT. Dengan terbatasnya petugas POPT, yang mana seorang petugas POPT mengamati tiga kecamatan, pihaknya berharap partisipasi petani secara aktif memberikan informasi, terkait adanya serangan OPT, kepada petugas POPT maupun PPL.

“Dengan laporan tersebut, kami dapat segera mengambil langkah pengendaliannya secara cepat dan tepat.,” katanya.

Reporter : Suparni dan Wiwik Sugiharti
Sumber : Humas Ditjen Tanaman Pangan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018