Jumat, 21 Juni 2024


WBC Usik Lahan Petani Banten, Kementan Gencarkan Gerdal  

21 Mei 2024, 12:53 WIBEditor : Yulianto

Petani di Pandeglang sedang melakukan pengendalian hama wereng | Sumber Foto:Humas Tanaman Pangan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang---Kementerian Pertanian melalui Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan terus mengupayakan pengamanan produksi padi dari serangan Wereng Batang Cokelat (WBC). Salah satu wilayah yang dilaporkan adanya serangan WBC ada Kabupaten Pandenglang dan Lebak, Provinsi Banten.

Berdasarkan hasil pengamatan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan, terjadi serangan WBC di Kabupaten Pandeglang dan Lebak, Provinsi Banten. Menyikapi hal tersebut, gerakan pengendalian kembali digalakkan, mencakup tiga desa di tiga kecamatan berbeda yaitu Desa Cikentrung, Kecamatan Cadasari; Desa Teluk, Kecamatan Labuan dan Desa Marga Jaya Kecamatan Cimarga.

Turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut tim BPTPH Banten, tim Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Wilayah 2 Pandeglang, POPT pendamping, dan petani setempat.

Sebagai tindak lanjut peningkatan populasi WBC di lapangan, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan memperkuat sinergi dengan Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) sebagai perpanjangan tangan di daerah, untuk mengintensifkan pengamatan dan memasifkan gerakan pengendaliannya.

Merespon hal ini, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menyatakan, gerakan pengendalian akan efektif jika semua pihak terkait saling bersinergi dengan tujuan yang sama yaitu menurunkan tingkat serangan dan mencapai target produksi pangan. “Kita itu lebih kuat jika kita bekerja sama. Kegiatan pengendalian hama di lapangan pun tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri,” katanya.

Karena itu untuk mengamankan pertanaman dari serangan OPT, jika hanya pemerintah pusat yang turun, maka tidak akan efektif. Pemerintah daerah pun harus turut aktif merangkul dan membersamai petani di setiap langkahnya dalam mengamankan pertanaman. “Harapannya petani kita semakin semangat dan termotivasi untuk menjaga produksi,” kata Suwandi.

Hal ini tentunya sesuai arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk peka terhadap kondisi petani. Pemerintah siap membantu petani mengamankan pertanamannya melalui kegiatan seperti gerakan pengendalian, penyediaan sarana atau bahan pengendali, serta bimbingan teknis petani.

Menyambung arahan tersebut, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Rachmat mengatakan, dengan terkendalinya OPT, produksi pangan bisa terjaga dan petani tidak merugi. “Harapan kami, upaya pengendalian wereng ini berhasil menurunkan populasi. Untuk melihat berhasil tidaknya pengendalian, tentunya harus kembali diamati dan dievaluasi hasil gerdalnya nanti,” ujarnya.

Namun demikian, Rachmat menegaskan, tidak cukup pengendalian saja, tapi pastikan pengendalian ini dapat menurunkan populasi. Untuk itu amati dinamika populasinya dan kendalikan hama secara serentak di titik-titik kritis untuk mencegah hama bermigrasi dan meluas.

Ditemui di lapangan, koordinator LPHP Wilayah II Pandeglang, Budi Suharno menyatakan kesiapannya untuk terus mendampingi petani dan waspada akan perkembangan hama dan penyakit di lapangan.  Sebagai hama yang dinamis, perkembangan hama wereng harus terus diamati.

“Jangan sampai kecolongan. Jika sudah ada peningkatan populasi, langsung kita kendalikan. Saya sudah himbau petani dan POPT setempat untuk jeli dengan peningkatan wereng di lapangan. Amati, kenali dan kendalikan,” tegas Budi.

Sementara itu POPT Pandeglangm Ratu Desi  menyatakan siap membimbing petani mengendalikan wereng. Bahkan pihaknya sudah mengarahkan petani untuk waspada terhadap populasi wereng dari umur tanaman muda agar populasinya tetap di bawah ambang kendali dan tidak meningkat, sehingga tidak mengakibatkan kerusakan pada pertanaman.

“Kami juga arahkan petani untuk rutin melakukan pengamatan saat populasi yang ada belum menyebabkan intensitas serangan, supaya dapat dilalukan upaya pengendalian yang tepat dan efektif,” kata Desi.

Gerakan pengendalian OPT yang difasilitasi pemerintah pusat ini tentunya hanya bersifat stimulan. Jadi, petani diharapkan dapat menduplikasinya untuk cepat tanggap melakukan pengendalian swadaya secara serentak dengan tujuan mengamankan pertanamannya.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018