Jumat, 14 Juni 2024


Kementan Ajak Petani Berinovasi Atasi Ketersediaan Air

21 Mei 2024, 14:01 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi saat berkunjung ke Poktan Sukabunga | Sumber Foto:Humas Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Lebak---Kementerian Pertanian mengajak petani untuk berinovasi dalam mengatasi ketersediaan air, khususnya di lahan tadah hujan. Seperti dilakukan Kelompok Tani (Poktan) Sukabunga, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Menggunakan pompa sumur submersible atau pompa selam yang berukuran kecil dengan tenaga listrik, petani dapat mengairi sawah sepanjang tahun, meski saat musim kemarau. Inovasi petani tersebut memberikan daya tarik tersendiri bagi Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi saat berkunjung langsung ke areal sawah Poktan Sukabunga.

Bahkan Suwandi yang ditemani Kepala Dinas Pertanian Banten, Agus Tauchid dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat memberikan apresiasi kepada petani yang kreatif dalam mengatasi persoalan air tersebut.

“Saya melihat sendiri pompa submersible yang dikelola petani secara swadaya dengan  memakai listrik token. Ini sangat menarik, kalau bisa wilayah lain yang tadah hujan bisa mencontoh inovasi ini,” kata Suwandi.

Inovasi yang dibuat petani tersebut cukup sederhana. Dengan membuat sumur kedalaman 60 meter, kemudian mesin pompa diletakkan pada kedalaman 20 meter. Air yang dialiri dari pompa tersebut bisa melayani 5 hektar (ha) lahan sawah.

Dari sisi biaya, menurut Suwandi, juga tidak terlalu mahal hanya sekitar Rp 40 juta. Biaya tersebut untuk membuat sumur dan pemasang pompa sebesar Rp 35 juta dan biaya pemasangan listrik token Rp 5 juta.

“Jadi kami mendorong inovasi petani bagaimana lahan persawahan bisa terairi. Dengan inovasi ini dipastikan air tidak menjadi faktor pembatas, karena bisa sepanjang waktu dan musim,” katanya seraya berharap, ke depan indeks pertanaman (IP) juga meningkat dari IP 100 menjadi IP 200, bahkan IP 300.

Dengan teknologi ini, Suwandi, kelompok tani juga mendapatkan untung. Pasalnya, petani yang ingin mendapatkan air dari pompa submersible ini wajib membayar sesuai kesepakatan. Untuk Poktan Sukabunga, petani membayar dengan ketentuan setiap 10 karung membayar 1 karung atau 1 banding 10.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan, pompanisasi ini solusi cepat untuk menangani El Nino. Dengan pompa bisa membantu petani menanam dan berproduksi secara cepat dan maksimal. “Kalau kita bangun sawah baru itu butuh satu, dua bahkan tiga tahun, tapi kalau pompanisasi ini bisa meningkatkan produksi secara cepat,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian, Provinsi Banten, Agus Tauchid mengatakan, apa yang dilakukan petani di Poktan Sukabunga merupakan bentuk inovasi tanpa batas. Pertama, petani selalu berpikir bagaimana lahannya bisa terairi sepanjang musim.  

Kedua, meski wilayahnya termasuk yang airnya payau, ternyata dengan menggunakan pompa submersible, air yang dipompa tetap normal (tawar). Ketiga, dengan cara ini air di lahan tadah hujan tidak menjadi faktor pembatas dan air akan tersedia sepanjang musim.

Pada kesempatan itu, Agus juga berterima kasih kepada Kementerian Pertanian yang telah memberikan bantuan pompanisasi untuk Provinsi Banten. Dengan ketersediaan air, ia berharap pompanisasi bisa membantu meningkatkan indeks pertanaman (IP) yang sebelumnya IP 100 menjadi 200, bahkan IP 300.

Kepala Dinas Pertanian Lebak, Rachmat menambahkan, dengan inovasi yang dilakukan Poktan Sukabunga tersebut membuat petani menjadi naik kelas. Diharapkan inovasi ini bisa diaplikasikan di tempat lain.

“Kita atau petani tidak harus menggantungkan bantuan dari pemerintah pusat dan daerah.  Ini menjadi bentuk partisipasi petani, apalagi di Poktan Sukabunga sudah terjalin gotong royong. Dengan pembagian hasil 10 banding 1, pompa bisa jalan untuk mengairi sawah petani,” tuturnya. 

Rachmat juga berharap dengan bantuan pompanisasi dari pemerintah kepada petani Lebak, indek pertanaman padi petani bisa meningkat. "Terima kasih bantuannya. Dengan sinergitas Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian dan TNI AD, produktivitas padi di Lebak dapat meningkat untuk mendukung produksi nasional dan Provinsi Banten," tuturnya.

Sementara Pasi Intel KODIM 0603 Labak, Makmun mengatakan, pihaknya akan terus mendampingi dan mengawal kegiatan penanaman, sehingga tercapai luas tanam di Lebak. Hal ini sesuai MoU, Kementerian Pertanian dan Panglima TNI.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018