Jumat, 14 Juni 2024


Hadapi Kemarau Basah, Ini Pesan untuk Petani

22 Mei 2024, 12:31 WIBEditor : Yulianto

Gerakkan pengendalian OPT | Sumber Foto:dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Musim Kemarau menjadi momok menakutkan bagi petani, terutama yang bertani di area sawah tadah hujan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan beberapa masukan untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi akan datang pada tahun ini. 

Berdasarkan data curah hujan dari BMKG, kondisi curah hujan di Indonesia pada triwulan pertama 2024 (Januari, Februari, Maret) rata-rata basah dan sangat basah. Data menyebutkan lebih dari 82% luas sawah baku di Indonesia kondisi curah hujannya basah dan sangat basah. Dengan sifatnya normal 42 ?n 39% diatas normal.

“Artinya sebagian sawah memiliki curah hujan tinggi. Namun sebagian sawah kita ada yang karakter musim hujan normal, tapi ada sebagian yang di atas normal,” kata Peneliti Ahli Utama BRIN, Aris Pramudia saat webinar Webinar Pompanisasi, Amankan Musim Kemarau di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sedangkan prediksi musim kemarau 2024 berdasarkan lembaga international di Kolombia, periode April, Mei, Juni perluang tertinggi adalah normal. Sedangkan pada Juli, Agustus, September hingga akhir 2024 peluang tertinggi adalah normal. “Dengan kondisi cuaca seperti itu, implikasinya terhadap pertanian di Indonesia adalah pada awal musim kemarau diprediksi normal. Musim tanam kedua pada tanaman semusim sebagaimana musim kemarau yang biasa terjadi,” katanya.

Namun pada akhir musim kemarau (MK) 2024, Aris mengatakan, diprediksi akan terjadi peningkatan curah hujan. Dengan demikian, pada musim tanam (MT) 3, tanaman semusim akan memiliki peluang kecukupan air dan berimplikasi adanya potensi peningkatan luas tanam, sekaligus peningkatan produksi di sebagian besar luas baku wilayah pertanian di Indonesia.

Hujan Datang Lebih Cepat

Aris mengatakan, untuk awal Musim Hujan (MH) 2024-2025 ada peluang datang lebih cepat. Kondisi itu merupakan kelanjutan adanya peningkatan curah hujan pada akhir MK 2024.  Kondisi tersebut berimplikasi pada wilayah yang pada MT 3.

Untuk wilayah dengan pola tanam bera (tidak ada penanaman), MT 2024/2025 akan berlangsung lebih cepat. Sebaliknya pada wilayah yang ada penanaman pada MT 3, sehingga MT 2024/2025 akan terjadi kemunduruan tanam, karena menunggu panen.

“Diprediksi awal tanam di MT I pada Musim Hujan 2024-2025 akan datang lebih cepat. Untuk wilayah-wilayah yang MT 3 melakukan tanam, diprediksi awal MT 1-nya tidak berkorelasi dengan awal musim hujan. Karena walau sudah masuk musim hujan, tanam mereka akan mundur menunggu waktu panen MT 3,” tuturnya.

Berdasarkan informasi prediski curah hujan yang diperoleh, Aris mengatakan 26,4  % lahan baku sawah di Indonesia memiliki curah hujan basah, dan 11,6% curah hujan sangat basah. Artinya 38% lahan baku sawah diprediksi curah hujan sangat tinggi. “Ini memiliki peluang untuk melakukan tanam umumnya tejadi di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sedangkan di wilayah Jawa masih dominan curah hujan sangat kering, kering hingga sedang” ungkapnya.

Aris menjelaskan, sifat hujan di awal musim kemarau pada April-Juni dominan adalah diatas normal terutama di luar Jawa. Sementara untuk di Jawa sifat hujan umumnya di bawah normal. Sedangkan pada akhir musim kemarau 2024 pada Juli-September, sifat hujan  yang dominan adalah normal dan di atas normal. “Artinya di akhir musim kemarau ada peluang kita untuk melakukan percepatan tanam atau perluasan arela tanam,” tambahnya.

Kemarau basah akan meningkatkan perkembangan OPT. Karena itu, petani perlu mewaspadai. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018