Jumat, 14 Juni 2024


Panen di Bantul, Kementan Ajak Petani Segera Tanam Kembali

24 Mei 2024, 12:49 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Tanaman Pangan Suwandi gelar panen di Bantul | Sumber Foto:Humas TP

TABLOIDSINARTANI.COM, BANTUL---Musim panen kini berlangsung hampir di seluruh sentra produksi padi. Setelah panen, Kementerian Pertanian mengajak petani untuk bisa melakukan percepatan tanam. Paling lambat 14 hari setelah panen, petani sudah tanam kembali.

Untuk itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi mengajak petani mempersiapkan percepatan tanam tersebut dengan melakukan persemaian menjelang panen, paling tidak 14 hari sebelum panen. Kemudian melakukan panen dengan menggunakan combine harvester dan pengolahan tanah dengan menggunakan traktor.

Dengan percepatan tanam, ia berharap nantinya indeks pertanaman akan naik. Jika sebelumnya hanya tanam satu atau dua kali dalam setahuan (IP100 dan IP200), maka nanti bisa naik menjadi IP 300, bahkan IP 400. “Percepatan tanam ini nantinya akan dikawal Dandim,” kata Suwandi saat kegiatan panen di Desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.  

Untuk percepatan tanam, Suwandi mengingatkan, faktor yang paling penting adalah bagaimana distribusi air, percepatan olah tanah, ketersediaan benih genjah yang 75-80 hari sudah bisa panen.Sedangkan ketersediaan pupuk, kini sudah tidak masalah karena pemerintah telah menambah alokasi pupuk dua kali lipat.

Bagi daerah tadah hujan dan kering yang biasanya terkendala air, pemerintah sudah menyiapkan bantuan pompanisasi, bahkan jumlahnya lebih dari yang dibutuhkan. Namun Suwandi menegaskan, sumber anggaran untuk pompanisasi tidak tidak hanya dari pusat, tapi juga disediakan daerah, bahkan dari dana desa yang 20 persen untuk ketahanan pangan.

“Harapannya, saat kemarau dan sulit air, sawah petani bisa tetap berproduksi dengan ketersediaan benih tahan kekeringan, air dari pompa maupun sungi dan sumur,” tuturnya.

Dengan percepatan tanam ini, Suwandi yakin akan dapat meningkatkan indeks pertanaman, meningkatkan produktivitas tanaman. Apalagi jika pola tanamnya serentak, maka hama bisa dikendalikan. Pada akhirnya produksi padi akan meningkat. “Saya harapkan Bantul, bisa menjadi pemasok beras utama ke Yogayakarta dan daerah sekitarnya,” katanya.

Panen yang berlangsung di Bantul, dengan menggunakan varetas Inpari 32, produktivitas tanaman mencapai 7,8 ton/ha. Saat ini luas pertanaman mencapai 1.800 ha dan pada 31 Mei mendatang diperkirakan naik menjadi 2.200 ha dari total luas lahan baku sawah sebesar 14 ribu ha.

Seperti diketahui, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan mendorong petani untuk percepatan tanam guna mendukung peningkatan produksi pangan. Dengan percepatan tanam, indeks pertanaman akan naik. Apalagi Kementerian Pertanian juga kini memberikan bantuan pompanisasi yang ditujukan untuk lahan persawahan tadah hujan.

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo mengatakan, pihaknya juga mengajak petani untuk mempercepat pertanaman. Karena itu, setelah panen, ia meminta petani melakukan pertanaman kembali, paling tidak dua minggu setelah panen.

"Kami berharap dukungan pemerintah ini dapat menambah motivasi petani untuk percepatan tanam," katanya. Saat ini lanjutnya, Rata-rata produktivitas padi di Bantul mencapai 7,8 ton/ha.

Selain itu dirinya juga berterima kasih kepada pemerintah atas bantuan pompanisasi. Sebab dengan adanya pompa, lahan pertanian di sekitar Sungai Progo yang selama ini saat musim kemarau tidak pernah tanam kini bisa ditanami padi. "Di sepanjang Sungai Progo, ada tambahan tanam seluas 25 ha," ujarnya. 

Sementara itu Kepala Desa Canden juga berterima kasih kepada pemerintah atas bantuan alat mesin pertanian, seperti traktor dan combine harvester. Dengan bantuan tersebut petani bisa melakukan percepatan tanam. 

Dandim Bantul,  Suryadi menegaskan, pihaknya siap mengawal program pemerintah yakni pompanslisasi dan percepatan tanam. "Kami siap mengawal peningkatan produksi padi, khusus di Bantul," ujarnya. 

Jual ke Bulog

Untuk menjaga stabilitas harga gabah, Suwandi meminta petani melaporkan lokasi panen ke penyuluh yang nantinya dihubungkan ke Perum Bulog untuk segera menyerap hasil panen. Sesuai kebijakan pemerintah, Perum Bulog akan menyerap gabah hasil panen padi petani, baik dengan mekanisme PSO (public Service Obligation) maupun komersial.

Seperti diketahui Badan Pangan Nasional telah menyeluarkan edaran mengenai fleksibilitas harga gabah dan beras. Ketentuannya, Bulog akan menyerap atau membeli gabah kering panen (GKP) dengan kadar air 25 persen dan kadar hampa 10 persen dengan harga Rp 6.000/kg. Sedangkan untuk Gabah Kering Giling (GKG) dengan kualitas kadar air 14 persen dan kadar hampa 3 persen, harganya Rp 7.400/kg dan beras Rp 11.000/kg.

Jika kadar air dan kadar hampa gabah petani di bawah ketentuan pemerintah, Suwandi mengatakan, pihak Bulog bisa juga membeli dengan mekanisme komersial. “Bulog sekarang akan menjemput bola. Jadi kalau ada panen, petani saya minta segera laporkan ke penyuluh, nantinya Bulog akan turun ke lapangan,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Fansuri dari sub wilayah kerja Bulog Bantul menyatakan, pihaknya siap menyerap hasil panen patani sesuai dengan ketetapkan fleksibilitas harga yang telah ditetapkan Badan Pangan Nasional.

“Untuk  GKP dengan kadar 25 persen, kita akan beli dengan harga Rp 6.000/kg dan GKG dengan kafar air 14 persen harganya Rp 7.400/kg dan beras Rp 11.000/kg. Ketentuan fleksibilitas harga ini berlaku sampai 30 Juni mendatang. Jadi masih ada kesempatan bagi petani yang sudah mulai panen,” tuturnya.

Jika ketentuan harga tersebut tidak masuk, Fansuri menegaskan, pihaknya akan menyerap gabah petani dengan mekanisem komersial. Apalagi kini Bulog juga sudah memiliki unit pengolahan gabah dan beras. “Jadi gabah yang kualitas dibawah ketetentuan, bisa kita olah menjadi beras yang sesuai standar pemetintah,” katanya. 

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018