Jumat, 12 Juli 2024


Kementan Pantau Daerah Rawan Kekeringan

21 Jun 2024, 19:18 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi yang melihat langsung kondisi pertanaman padi di Desa Ngembung, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jumat (21/6). | Sumber Foto:Humas Ditjen Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, GRESIK---Musim kemarau tahun ini sudah mulai dirasakan petani di beberapa daerah. Untuk mengantisipasi kekeringan, Kementerian Pertanian melakukan pemantauan terhadap wilayah yang rawan kekeringan. Salah satunya di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Seperti dilakukan Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi yang melihat langsung kondisi pertanaman padi di Desa Ngembung, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jumat (21/6). “Hari ini kami memantau daerah yang rawan kering dan mengancam pertanaman, baik yang standing crop maupun baru tanam,” kata Suwandi.

Untuk mengantisipasi kekeringan yang menimpa lahan pertanaman padi menurut Suwandi, pihaknya sudah mendistribusikan pompa dalam jumlah cukup banyak. Pompa tersebut didistribusikan ke Brigade Alsintan yang ada di KODIM, Dinas Pertanian dan Kelompok Tani. “Saya minta agar pompa tersebut segera dimanfaatkan, sehingga kita bisa percepatan tanam,” ujarnya.

Namun Suwandi mengakui, ada beberapa kendala dalam pompanisasi ini. Di antaranya, lahan sawah petani jauh dari sungai dan air dari sumur bor asin. Dengan demikian, menurut Suwandi perlu segera dicarikan solusi untuk ketersediaan air. Misalnya, memanfaatkan embung agar air tersedia saat kemarau agar bisa meningkatkan luas tanam.

“Saya dengar akan ada kontribusi dana desa untuk perbaikan saluran air petani. Kita harapkan kegiatan tersebut bisa berjalan serentak. Kami hadir di tengah petani memberikan solusi supaya suskses tanam,” tuturnya.

Meski pada musim tanam pertama terbilang cukup berhasil, tapi Suwandi tak menampik kekeringan yang terjadi saat membuat petani khawatir terhadap musim tanam kedua. Jika kondisi air cukup, maka kemungkinan petani akan mampu panen. Namun di beberapa lokasi ketersediaan mulai berkurang.

“Jika air kurang, mencari dan mengoptimalkan sumber air sehingga bisa berhasil tanam padi. Bila di lokasi tersebut memang tidak ada air, atau air hanya sedikit sekali, ini buktinya petani masih bisa bertanam palawija, di antaranya jagung. Ini sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian untuk memaksimalkan percepatan tanam di musim kemarau ini," sarannya.

Ancaman kekeringan, menurut Suwandi, tidak hanya dialami Kabupaten Gresik. Beberapa daerah di Jawa Timur juga mengalami hal yang sama. Misalnya, Bangkalan, Bojonegoro, Nganjuk dan Jombang. “Jadi kami keliling daerah untuk mengawal pertanaman dan produksi,” ujarnya.

Lumbung Pangan di Pulau Bawean

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gresik, Eko Anindito Putro mengatakan, untuk memperkuat produksi pangan, pihaknya saat ini tengah mempersiapkan Pulau Bawean sebagai lumbung pangan. Di pulau tersebut ada sekitar 4.000 hektare yang berpotensi untuk pertanian tanaman pangan. Ada 7 desa yang berada di dua kecamatan, yakni Kecamatan Tambak dan Sangkapura.

“Terkait usulan membuat lumbung pangan di Pulau Bawean, pada prinsipnya Kementan mendukung penuh usulan tersebut dan meningkatkan lahan sawah 4.000 hektare padi dari IP100 menjadi IP300 dengan mengoptimalkan sumber air waduk yang ada," jelasnya. 

Dengan potensi sumber air dari Danau Kastoba, Eko yakin dengan perbaikan tata kelola bisa meningkatkan indeks pertanaman menjadi 200, bahkan 300. Apalagi di Pulau Bawean juga terdapat air terjun yang bisa menjadi sumber air. 

“Dengan memanfaatkan sumber air yang ada, keberadaan air terjun dan tumpahan air dari Danau Kastoba melalui pompanisasi kita bisa meningkatkan luas tanam dan indeks pertanaman menjadi 200 dan 300,” ujarnya seraya berharap, minggu depan pihaknya sudah bisa mengundang stakeholder, termasuk SDA Bapeda dan pihak yang terkait untuk koordinasi.

Bahkan menurut Eko, di Pulau Bawean akan dikembangkan pertanian organik. Karena wilayahnya terisolir akan lebih mudah menerapkan pertanian organik. Bahkan sebagai lokasi pariwisata, pertanian organik diharapkan memberikan daya tarik bagi wisatawan. “Mudah-mudahan bisa terwujud dengan memaksimalkan sumber air yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Deni dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur mengatakan, kondisi El Nino memang harus diantisipasi. Karena itu, Pemda Jawa Timur telah memprogramkan perluas areal tanam. “Kita bersyukur saat ini dipantau langsung oleh Dirjen Tanaman Pangan. Kegiatan ini bermanfaat untuk Provinsi Jawa Timur dalam menjaga sebagai lumbung pangan nasional,” katanya. 

Reporter : Julian
Sumber : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018