Kamis, 18 Juli 2024


Singkong si Tanaman Ajaib

05 Jul 2024, 13:09 WIBEditor : Yulianto

Singkong potensi pemanfaatannya cukup besar. Karena itu singkong bukan lagi tanaman inferior | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong atau kerap disebut juga ubi kayu mempunyai potensi besar. Bukan hanya sebagai sumber pangan, ternyata tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber pakan dan energi. Karena itu, Organisasi Pertanian dan Pangan Dunia (FAO) menetapkan singkong sebagai tanaman ajaib.

Potensi singkong tersebut memang ibarat kingkong. Dari sisi produksi, catatan Ditjen Tanaman Pangan produksinya menempati nomor tiga setelah padi dan jagung. Produksi singkong rata-rata pertahun mencapai 16-17 juta ton dengan luas pertanaman hanya 600-700 ribu hektar (ha).

Sayangnya perhatian terhadap komoditas ini terasa belum maksimal. Dengan potensi yang ada tersebut, sebenarnya singkong mampu menjadi penyokong kebutuhan pangan di tengah ancaman krisis pangan dunia.

Singkong juga merupakan tanaman masa lalu, masa kini dan masa depan, maka kita harus bertekat untuk memperlakukan singkong sebagai tanaman masa depan,” kata Guru Besar IPB University, Rachmat Pambudy saat webinar Masih Perlukah Subsidi Pupuk untuk Singkong di Jakarta, Kamis (27/6).

Sebagai tanaman yang dianggap ajaib ini, Rachmat yang juga pengurus HKTI ini, di dunia hanya tiga negara yang benar-benar menjadikan singkong sebagai staple food atay tanaman yang menghidupi dan mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya.  Ketiga negara tersebut berasal dari Afrika.

Substitusi Beras

Potensi besar singkong tersebut juga diakui, Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Arifin Lembaga. “Singkong itu adalah pangan yang tidak bisa lagi diabaikan dalam kondisi kekurangan pangan yang mungkin bisa kita hadapi, baik di dalam jangka waktu pendek dan menengah, serta masa mendatang,” katanya.

Apalagi  lanjut Arifin, melihat pertumbuhan penduduk Indonesia dibandingkan dengan suplai karbohidrat berbasis beras. Karena itu ia melihat sulit bagi komoditas beras mengimbangi kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat.

“Sudah saatnya kita mencari alternatif sumber pangan berbasis karbohidrat lainnya. Kalau kita hanya mengandalkan beras, saya kira dalam ke waktu, mungkin menengah kita akan kesulitan suplai pangan dan kita bisa mengalami kekurangan pangan seperti beberapa negara,” tuturnya.

Salah satu sumber karbohidrat yang menurut Arifin sangat besar potensi untuk bisa menyuplai kebutuhan pangan adalah singkong. Kenapa? Alasan utamanya, kata Arifin, produktivitas singkong saat ini rata-rata hanya 23-25 ton/ha, sehingga masih bisa ditingkatkan hingga lebih dari 40 ton/ha. Sedangkan produksinya sekitar 15-16 juta ton dari lahan pertanaman seluas 600 ribu – 700 ribu ha.

Jika produksi singkong akan ditingkatkan hingga 20 juta ton, maka membutuhkan tambahan lahan kira-kira 400 ribu-500 ribu ha. Produktivitasnya juga harus dtingkatkan dari rata-rata 23 ton/ha menjadi minimal 30 ton/ha, bahkan optimalnya bisa mencapai 40 ton/ha. “Apakah bisa? Saya yakin bisa, karena beberapa daerah pertaninya bisa memproduksi hingga 40-50 ton/ha. Jadi sangat memungkinkan,” katanya.

Peluang prningkatan produktivitas singkong cukup besar. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018