Kamis, 18 Juli 2024


Prof. Dr. Rachmat Pambudy: Singkong Pangan Masa Depan

05 Jul 2024, 13:24 WIBEditor : Yulianto

Guru Besar IPB, Prof. Rachmat Pambudy | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong bukan hanya masa depan, namun memiliki sejarah panjang di negeri ini dan lebih tepatnya singkong adalah masa lalu, masa kini dan masa depan kita. Bahkan, sejak tahun 80-an Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sudah menetapkan bahwa singkong merupakan tanaman ajaib.

Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Rachmat Pambudy dalam webinar Propaktani dengan tema Masih Perlukan Subsidi Pupuk Untuk Singkong mengatakan, singkong ini unik, bahkan amat sangat unik. Jika dilempar batangnya akan tumbuh, tapi paling 9 bulan hanya bisa menghasilkan 1 kg. Tapi kalau kita cari bibit yang bagus, tanah diperbaiki, kemudian ditancapkan dengan baik, maka 6 bulan bisa menghasilkan lebih dari 3 kg.

"Keajaiban singkong yang saya alami sendiri bukan hanya 20 kg bahkan bisa sampai hingga 40 kg per batang, ini adalah masa depan kita,” tuturnya.

Rachmat melihat saat ini hanya ada tiga negara di dunia yang benar-benar mengerjakan singkong sebagai staple food sebagai tanaman yang menghidupi dan mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Ketiga negara tersebut berada di Afrika.  “Kalau singkong ini merupakan tanaman masa lalu, masa kini dan masa depan, maka kita harus bertekat untuk memperlakukan singkong sebagai tanaman masa depan,” tambahnya.

 

Menurut Rachmat, untuk memperlakukan singkong sebagai tanaman masa depan adalah dengan cara melakukan panca usaha tani, yaitu dengan menggunakan bibit yang bagus, pupuk yang cukup dan baik, pengairan sesuai kebutuhan, pengendalian hama tanaman dan lain sebagainya. “Itu adalah basis kita untuk menghasilkan singkong terbaik,” tegasnya.

Rachmat mengatakan, perlakukan tersebut bisa ditambahkan dengan melakukan teknologi sederhana yaitu sambung pucuk, penggunaan irigasi teknis, sehingga bisa menghasilkan singkong yang luar biasa.

Dalam menanam singkong, pupuk terbaik harus sesuai dengan kebutuhan. Karena itu diperlukan rancangan pupuk yang tepat dan sesuai bagi tanaman singkong. 

“Pupuk seperti makanan tambahan, karena dalam tanah sudah ada makannnya, namun makanan yang ada di dalam tanah belum tentu lengkap, belum tentu cukup, karena itu perlu ditambah” ungkapnya.

Namun demikian, dalam merancang pupuk yang tepat harus melihat jenis pupuk, usia singkong, dan lain sebagainya. Dengan demikian, pupuk tersebut hanya cocok untuk singkong.

Karena itu, ia mengajak para stakeholder untuk berjuang bersama-sama karena hanya dengan pupuk yang baik dan tepat, cara bertani yang baik dengan menerapkan panca usaha tani maka kita bisa memperbaiki hulu dari singkong.

Sementara untuk di hilir, dijelaskan Rachmat yang baru kembali dari lawatan ke beberapa negara ini bahwa di luar negeri singkong dihargai dengan tinggi. Hal tersebut membuktikan bahwa hilirisasi singkong sangat luar biasa dan bisa dikerjakan oleh siapa saja. 

“Di luar negeri ada keripik singkong yang harganya 8 dolar untuk 100 gram, yang cuma dilapisi oleh kuning telur bebek” ujarnya.

Rachmat menegaskan, singkong merupakan tanggung jawab bersama. “Kita bicara kedaulatan pangan, dulu kedaulatan pangan dimulai dengan padi dengan beras, sekarang kedaulatan pangan dimulai dengan singkong” ujarnya.  

Reporter : Herman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018