Kamis, 18 Juli 2024


Hadiri Festival Dewi Sri, Dirjen TP : Kabupaten Ngawi Banyak Berprestasi di Sektor Pertanian

10 Jul 2024, 16:52 WIBEditor : Herman

Festival Dewi Sri | Sumber Foto:Humas Ditjen TP

TABLOIDSINARTANI.COM, NgawI --- Festival Dewi Sri yang merupakan rangkaian HUT ke-666 Kabupaten Ngawi, Jawa Timur tahun 2024 ini serasa berbeda. Pada kegiatan yang dihadiri Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi ini akan dilakukan panen raya padi di 19 kecamatan.   

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Supardi menyampaikan bahwa penyelenggaraan Festival Dwi Sri merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-666 Kabupaten Ngawi. Di acara festival ini, Pemerintah Kabupaten Ngawi ingin melakukan panen raya padi di 19 kecamatan yang ada di Ngawi.

“Kado di Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-666, Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Pak Suwandi langsung bisa rawuh di acara Festival Dewi Sri ini,” kata Supardi saat menyampaikan sambutan di acara Festival Dewi Sri.

Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi ketika didaulat menyampaikan kata sambutan menyambut baik acara Festival Dewi Sri bertajuk “Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.” Suwandi juga menyampaikan salam dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dan ucapan hormat kepada Bupati Kabupaten Ngawi, Ony Anwar Harsono beserta unsur Forkopimda Kabupaten Ngawi yang hadir di acara ini.

Suwandi mengatakan bahwa tema yang diusung di acara festival ini mempunyai makna dalam, dan memang itulah yang diimpikan pemerintah untuk jangka panjang. Menurutnya, pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat memberikan manfaat yang baik, khususnya bagi Ngawi, umumnya bagi Indonesia.

Suwandi mengutarakan, jika mendalami makna dari Dewi Sri merupakan penggabungan dari dewi-dewi yang ada, yaitu Dewi Laksmi dan  Dewi Sri, menjadi kesatuan dari sifat-sifat yang ada. Dari kesatuan dewi sakti ini menggambarkan keberhasilan panen padi dan kemakmuran rakyatnya.

Suwandi lantas melantunkan pantun singkat, khusus ia buat untuk Kabupaten Ngawi yang tengah merayakan hari jadinya.

“Panen padi tanahnya subur, Kabupaten Ngawi rakraytnya Makmur,” ucap Suwandi yang disambut tepuk tangan tamu undangan.

Ia mengungkapkan, pantun singkat ini menggambarkan kinerja Pemerintah Kabupaten Ngawai yang banyak menorehkan berbagai prestasi, termasuk dalam pembangunan sektor pertanian.

Suwandi mengungkapkan, Kabupaten Ngawi tercatat sebagai produsen beras nasional nomor 8 di Indonesia. Produktivitas padi di Ngawi di atas 6 ton per hektar. Untuk skala di Pulau Jawa, produktivitas di atas 6 ton per hektar sudah baik.

“Berdasarkan data BPS tahun 2023, indeks pertanaman (IP) di Ngawi tertinggi di Indonesia. IP dihitung berdasarkan luas panen dibagi luas baku sawah. Artinya, kebijakan Menteri Pertanian, Bapak Andi Amran Sulaiman untuk percepatan tanam, yakni mengatur antara jarak panen ke tanam jangan lama-lama, disarankan 14 hari. Dan pola bertanam padi ini berjalan di Ngawi,” tutur Suwandi.

Prestasi Ngawi lainnya, masih menurut Suwandi, jumlah sumur di Ngawi sebanyak 22.000, baik sumur biasa dan submersible. Untuk sumur submersible sekitar 17.000, sehingga Ngawi menempati urutan ke-2 di Indonesia untuk pengairan di areal persawahan.

Suwandi mengutarakan rasa bangga, lantaran sumur-sumur tersebut dikelola secara swadaya dan hasil kreativitas para petani di Ngawi. Sawah-sawah tipe tadah hujan yang ada di Ngawi bisa tanam setahun tiga kali, karena mendapatkan aliran air dari sumur-sumur tersebut.

Suwandi kembali menyampaikan rasa bangga atas kreativitas para petani di Ngawi yang membuat sendiri bed dryer untuk mengeringkan padi setelah dipanen. Jika dibandingkan membeli bed dryer pertikal untuk kapasitas pengeringan padi 10 ton per hari, harganya sekitar Rp 700 juta. Sementara bed dryer hasil karya petani di Ngawi hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 90 juta.  

“Harusnya mendapat penghargaan petani-petani di Ngawi yang hebat dan penuh kreativitas ini,” bilang Suwandi.

Menurutnya, para petani dari daerah lain di Indonesia untuk bisa belajar dan mereplikasi bed dryer buatan petani Ngawi.

Yang menarik berikutnya, masih disampaikan Suwandi, wujud dari pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan, di Kabupaten Ngawi sudah bersertifikasi menerapkan pertanian organik murni di lahan seluas 45 hektar.  Kendati demikian, Suwandi mengimbau untuk mengejar pertanian semi organik yang rencananya diterapkan di lahan seluas 12.000 hektar di Ngawi. Pertanian semi organik juga merupakan kebijakan Bupati Ngawi.

Suwandi menjelaskan, pertanian semi organik inputnya sudah organik walaupun outputnya belum disertifikasi. Jadi, hanya menunggu selembar sertifikat bahwa di lahan seluas 12.000 yang ada di Ngawi sudah menerapkan semi organik.

“Prestasi-prestasi ini tak lepas dari kerja yang luar biasa para Kadis Pertanian Ngawi beserta jajaran, betul-betul memberikan contoh yang baik,  bagaimana pertanian ramah terhadap lingkungan dan berkelanjutan.

Suwandi juga menyampaikan amanah dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, supaya petani di Ngawi tetap mawas terhadap ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Karena itu, harus dilakukan gerakan pengendalian OP, yang dilakukan pada tahap persemian, pengolahan lahan sawah, dan pertanaman.

Pun obat-obatan yang digunakan untuk pengendalian OPT diutamakan menggunakan agens nabati hayati, selain biayanya lebih murah dan ramah terhadap lingkungan.

Selain itu, Kementerian Pertanian meminta kepada unsur Forkopimda, khususnya aparat penegak hukum untuk membantu mengimbau kepada perangkat desa membuat peraturan tentang larangan membunuh burung yang berguna memangsa tikus di sawah, menangkap ikan dengan menggunakan setrum listrik, serta memasang perangkap tikus menggunakan kawat yang dialiri listrik, karena akan membahayakan nyawa manusia.

Reporter : Eko
Sumber : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018