Wednesday, 15 April 2026


Terima Curhatan Kopti Jateng, Gubernur Siap Dorong Produksi Kedelai

15 May 2025, 11:03 WIBEditor : Herman

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn.) Ahmad Luthfii Bersama Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Tengah

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang – Kenaikan harga kedelai sejak Maret 2025 menjadi sorotan serius bagi para produsen tahu dan tempe di Jawa Tengah. Harga kedelai impor yang kini menembus Rp9.800 per kilogram, dari sebelumnya Rp8.400/kg, membuat pelaku usaha kecil menjerit.

Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro, menyampaikan langsung kegelisahan para pelaku usaha kepada Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn.) Ahmad Luthfi, dalam audiensi di kantor Gubernur, Rabu (7/5).

"Stok kedelai dari importir makin menipis, sementara kebutuhan kedelai di Jawa Tengah hampir 40 ribu ton per bulan. Sayangnya, 90 persen masih bergantung pada impor," ujar Sutrisno. Ia pun berharap pemerintah pusat bisa segera turun tangan untuk mengendalikan gejolak ini.

Tak hanya meminta solusi jangka pendek, Kopti juga mendorong percepatan produksi kedelai dalam negeri agar pelaku usaha tak terus tergantung pada kedelai impor.

Menanggapi hal itu, Gubernur Luthfi menyatakan siap menjembatani persoalan ini ke pemerintah pusat. Namun, ia juga menekankan pentingnya kreativitas dan inisiatif lokal.

“Tata niaga kedelai diatur pusat, jadi kita harus koordinasi. Tapi kita juga perlu punya kreasi sendiri agar Kopti tetap eksis,” tegasnya.

Luthfi menyebut beberapa daerah di Jateng seperti Grobogan, Wonogiri, Cilacap, Kebumen, dan Purworejo sebagai wilayah yang memiliki potensi besar dalam produksi kedelai. Ia meminta Dinas Pertanian Jateng untuk segera menyusun strategi pemanfaatan potensi tersebut.

Data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah menunjukkan bahwa produksi kedelai lokal belum mampu menutupi kebutuhan provinsi. Pada 2023, produksi kedelai Jateng hanya mencapai sekitar 81.315 ton.

Padahal, kebutuhan tahunan provinsi ini diperkirakan mencapai 480.000 ton. Artinya, hanya sekitar 17 persen yang dipenuhi dari produksi lokal, sementara sisanya harus diimpor, sebagian besar dari Amerika Serikat.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng, Supriyanto, mengakui bahwa produksi tertinggi sempat dicapai pada 2018 dengan luas panen 104.899 hektare dan hasil 166.195 kuintal. Namun, setelah itu produksi terus menurun akibat fluktuasi harga.

Meski begitu, ia melihat peluang untuk bangkit. “Harga kedelai lokal mulai membaik. Ini bisa jadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat petani,” ujar Supriyanto.

Ia menyebut bahwa saat ini Pemprov Jateng mengalokasikan dana dari APBD untuk penanaman kedelai di lahan seluas 300 hektare. Dukungan dari APBN pun cukup besar, dengan tambahan 12.500 hektare dan 50.000 hektare dari Anggaran Biaya Tambahan (ABT).

Sementara itu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, mengatakan bahwa meski harga kedelai naik, masih belum melewati batas Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp12.000/kg.

“Saat ini harga kedelai sekitar Rp11.100/kg, jadi belum bisa diberikan subsidi,” katanya.

Namun, ia memastikan Pemprov terus mendorong peningkatan produksi kedelai lokal, khususnya varietas unggul seperti Kedelai Grobogan yang kandungan proteinnya lebih tinggi dan lebih sehat dibanding kedelai impor.

Di tengah dinamika pasar, petani seperti Bisri Mustofa dari Desa Pojok, Kecamatan Pulokulon, Grobogan tetap berkomitmen pada budidaya kedelai. Meski sempat terpukul karena harga anjlok hingga di bawah Rp6.000 per kilogram pada 2017-2019, ia melihat ada harapan baru.

“Di sini, menanam kedelai sudah seperti tradisi. Tapi kami butuh jaminan harga agar bisa terus bertahan,” katanya.

Pada puncak panen September 2024 lalu, harga kedelai sempat menyentuh Rp8.500 – Rp8.700 per kilogram, masih lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

 

Salah satu jalan keluar yang kini digagas adalah pengembangan varietas unggul. Profesor Ali Zum Mashar dari Serang, Banten, menciptakan varietas kedelai MIGO yang mampu menghasilkan 4,5 ton per hektare — jauh lebih tinggi dibanding rata-rata 1,5 – 2,5 ton.

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018