Sunday, 16 August 2026


Tantangan Susut dan Sisa Pangan

28 May 2025, 09:32 WIBEditor : Yulianto

Bincang MBG di Bapanas

Namun demikian di sisi lain, dalam penyediaan makanan bergizi secara massal membawa risiko peningkatan susut dan sisa pangan. Berdasarkan laporan Kementerian PPN/Bappenas, Indonesia menghasilkan susut dan sisa pangan (food loss and waste) sebesar 115 hingga 184 kilogram per kapita per tahun pada periode 2000–2019. 

Secara agregat, ini setara dengan 23 hingga 48 juta ton makanan yang terbuang setiap tahunnya. Tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi mencapai Rp213 hingga Rp551 triliun per tahun, fenomena ini juga memberikan dampak lingkungan besar, bahkan berkontribusi terhadap 7,29% total emisi gas rumah kaca nasional. Hal ini juga setara dengan kehilangan pangan untuk 60-120 juta orang.

Dalam konteks MBG, tantangan ini menjadi sangat relevan, karena MBG menargetkan 82 juta penerima manfaat. Tanpa desain program yang berorientasi pada efisiensi dan sirkularitas, MBG berpotensi memperparah masalah susut dan sisa pangan yang meningkatkan tekanan terhadap sistem pengelolaan limbah.

Rinna Syawal, Direktur Keanekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, menyoroti pentingnya diversifikasi konsumsi dan pemanfaatan bahan pangan lokal yang berjejak karbon rendah pada Program MBG.

Sedangkan, Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan mengatakan, perlu ada strategi sinergi penyelamatan pangan, termasuk konsep redistribusi makanan berlebih, serta pentingnya edukasi pengurangan sisa pangan di sekolah kepada peserta didik penerima manfaat MBG sebagai agent of change Stop Boros Pangan sejak dini.

Agus Rusly, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan urgensi pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah makanan. Menurutnya, pengurangan sisa pangan bukan hanya memperbaiki neraca lingkungan, tetapi juga menekan biaya ekonomi dan memperkuat ketahanan pangan.

Pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), telah menetapkan target penyelamatan pangan sebesar 3-5 persen setiap tahunnya selama periode 2025 hingga 2029. Target ini mencerminkan komitmen nasional dalam menekan angka susut dan sisa pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan. 

Dalam seminar ini menyepakati bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus menjadi bagian integral dari upaya pencapaian target tersebut. Strategi yang direkomendasikan meliputi penguatan edukasi konsumsi bertanggung jawab di sekolah, pengawasan rantai distribusi pangan, serta optimalisasi pemanfaatan kembali makanan layak konsumsi melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas.

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018