
BGN mengajak HKTI jadi mitra strategis Program Makan Bergizi Gratis. Targetnya, bangun 1.000 dapur SPPG dari lahan petani, agar anak-anak Indonesia bisa makan sehat setiap hari mulai 2025.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- BGN mengajak HKTI jadi mitra strategis Program Makan Bergizi Gratis. Targetnya, bangun 1.000 dapur SPPG dari lahan petani, agar anak-anak Indonesia bisa makan sehat setiap hari mulai 2025.
Dalam forum diskusi bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada Kamis (26/6), Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI (Purn) Ludwig Pusung, menyampaikan ajakan terbuka kepada HKTI untuk ambil bagian langsung sebagai mitra strategis dalam menyukseskan program MBG.
Ajakan itu tak main-main, bahkan Ludwig membuka peluang bagi HKTI untuk membangun ribuan dapur layanan gizi.
"Kalau teman-teman HKTI mau bangun seribu dapur, boleh banget. Saya akan dampingi langsung,” ujar Ludwig yang disambut riuh tepuk tangan dari hadirin.
Seperti diketahui, Program MBG lahir dari janji kampanye Presiden Prabowo. Kini, program ini telah memiliki payung hukum lewat Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024.
Seperti bayi yang baru lahir, BGN memang baru seumur jagung, namun daya dorong politik dan pendanaan yang menyertainya sangat luar biasa.
Untuk 2025, BGN telah disiapkan anggaran sebesar Rp71 triliun, dan bahkan diarahkan untuk menyerap tambahan hingga Rp50 triliun lagi.
“BGN ini bukan sekadar lembaga baru. Ini program utama Presiden. Kami kerja setiap hari, rapat setiap hari, karena tahu betul, anak-anak kita nggak bisa menunggu untuk makan,” ujar Ludwig dengan nada penuh tekad.
Program MBG tak hanya soal mengisi perut. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar membangun masa depan bangsa melalui asupan gizi yang layak.
Dan dalam mewujudkan ini, dapur-dapur MBG menjadi jantung dari seluruh sistem.
Tapi dapur tidak bisa bekerja sendiri. Ia butuh petani, butuh bahan segar, dan distribusi yang kuat.
Di sinilah peran HKTI dianggap sangat penting. Dengan jaringan petani dari Sabang sampai Merauke, HKTI dinilai punya kekuatan riil untuk menopang dari sisi hulu.
“HKTI itu punya semuanya. Petani, koperasi, bahkan UMKM pangan. Kalau HKTI bangun dapur, bisa langsung isi dapurnya dari hasil panen sendiri. Itu luar biasa,” kata Ludwig.
Sejak diluncurkan, BGN bersama mitra telah mendirikan 1.861 dapur SPBG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di seluruh wilayah Indonesia.
Dari dapur-dapur ini, sekitar 5,5 juta anak sekolah sudah menerima manfaat. Namun, Ludwig mengungkap sebuah kenyataan penting: semua dapur yang ada saat ini bukan dibangun dengan dana negara, melainkan hasil kemitraan.
“BGN belum bangun satu pun dari APBN. Semua yang ada sekarang dibangun oleh mitra. Jadi kami benar-benar butuh partner yang mau lari bareng, dan HKTI bisa jadi mitra kunci itu,” ungkapnya.
Namun, dapur dalam konteks BGN bukan sekadar tempat memasak, ia menjadi bagian dari sistem yang lebih besar.
Kini dapur MBG disebut sebagai SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Di dapur inilah seluruh proses penyediaan makanan bergizi berlangsung: mulai dari penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi ke anak-anak penerima manfaat.
Untuk memastikan operasional dapur berjalan maksimal, BGN juga sedang menyiapkan sumber daya manusia yang disebut SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia).
Saat ini, lebih dari 30 ribu anak muda dari seluruh penjuru negeri tengah dididik sebagai SPPI, yang akan disebar ke seluruh dapur SPPG untuk memimpin dan mengelola sistem layanan gizi.
“Kita rekrut anak-anak dengan IQ di atas 120 dari desa-desa, bukan hanya dari kota. Mereka ini bukan hanya lulusan kuliah biasa, tapi agen perubahan. Mereka paham gizi, tahu manajemen, dan tahu cara berinteraksi dengan masyarakat,” jelas Ludwig.
Dengan kombinasi SDM muda yang cerdas dan mitra lokal yang kuat seperti HKTI, Ludwig meyakini program MBG bisa menjadi gerakan nasional yang benar-benar hidup dan bertahan lama.
Ia pun mengajak para kader HKTI yang hadir untuk segera mengambil langkah nyata. Caranya? Daftarkan lokasi yang siap dijadikan dapur SPPG baik lahan kosong untuk pembangunan baru, atau bangunan lama yang bisa direnovasi. BGN akan menyambut dengan tangan terbuka.
“Silakan langsung daftar lokasi. Kalau dari HKTI, bilang saja. Saya sendiri yang akan kawal. Kita bisa bikin MOU, bisa langsung bergerak,” janjinya.
Di akhir sambutannya, Ludwig kembali menegaskan bahwa MBG bukan semata urusan pangan, tapi juga soal martabat dan masa depan bangsa.
Dengan HKTI masuk sebagai mitra, ia yakin dari ladang-ladang petani Indonesia akan lahir generasi baru yang sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan.