Tuesday, 10 March 2026


Uni Eropa Sulap 150 Penggilangan Padi di Jawa Jadi Ramah Lingkungan

29 Jul 2025, 10:32 WIBEditor : Herman

Gubernur Jateng, Bersama delegasi Uni Eropa

TABLOIDSINARTANI,COM, Surakarta --- Masih banyak usaha penggilingan padi berskala kecil hingga menengah di Indonesia yang dinilai belum ramah lingkungan. Penggunaan mesin diesel yang berbahan bakar fosil kerap menjadi sumber emisi karbon dioksida (CO₂), debu, dan polusi udara yang berdampak buruk bagi iklim dan kesehatan masyarakat.

Tak hanya itu, praktik pembakaran terbuka yang dilakukan untuk membuang limbah turut memperparah masalah lingkungan.

 Asap pekat yang dihasilkan mengandung karbon monoksida (CO), CO₂, serta partikel halus berbahaya.

Sementara itu, limbah cair seperti air rendaman atau dedak basah (bekatul) seringkali dibuang langsung ke saluran terbuka tanpa pengolahan, mencemari tanah dan air sekitar.

Menanggapi situasi ini, Uni Eropa melalui program SWITCH-Asia Low Carbon Rice Project memberikan dukungan nyata bagi pengembangan penggilingan padi ramah lingkungan di Indonesia.

Sejak 2022, program ini telah mendampingi 150 unit penggilingan padi di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk bertransformasi ke arah yang lebih hijau.

Melalui transisi dari mesin diesel ke teknologi berbasis energi listrik, program ini bertujuan menekan emisi karbon di sektor pascapanen, menurunkan biaya produksi, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha beras.

“Proyek ini merupakan bukti bahwa aksi iklim dan pembangunan ekonomi bisa berjalan beriringan,” ujar Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, dalam keterangannya di Jakarta.

Denis menegaskan, Jawa Tengah memiliki peran penting dalam keberhasilan proyek ini karena merupakan salah satu lumbung padi utama di Indonesia. Beberapa kabupaten seperti Klaten, Sragen, dan Boyolali kini menjadi lokasi percontohan penggilingan padi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

“Di Jawa Tengah, saya dan para duta besar negara Eropa telah melihat langsung dampak nyata inovasi ini — emisi lebih rendah, ekonomi pedesaan yang semakin kuat, dan kolaborasi yang semakin erat antara Eropa dan Indonesia,” ungkap Denis.

Baru-baru ini, Denis Chaibi bersama sejumlah duta besar negara Eropa mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Surakarta di Surakarta. Agenda pertemuan tersebut membahas perkembangan sekaligus langkah lanjutan dari kolaborasi program hingga akhir masa pelaksanaannya pada Desember 2025.

“Program SWITCH-Asia menunjukkan komitmen kami terhadap kemitraan yang berkelanjutan — tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga bagi keberlangsungan Bumi,” pungkas Denis.

Reporter : Djoko W
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018