
Kemenko Pangan Berpartisipasi Dalam Gebyar Perbenihan di Yogyakarta
TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta –-- Ketahanan pangan nasional tak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan dan hasil panen, tetapi juga oleh kesiapan teknologi dan kebijakan yang mendukung petani. Hal inilah yang menjadi fokus kerja Asisten Deputi PDS Produk Tanaman Pangan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Analis Kebijakan Madya di Asdep PDS Tanaman Pangan, Henry Antonius Manalu, menjelaskan bahwa peran utama unitnya adalah mengoordinasikan kementerian/lembaga dalam penyiapan kebijakan di bidang perbenihan, budidaya, perlindungan tanaman, pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran komoditas tanaman pangan.
“Kami memastikan seluruh aspek, mulai dari regulasi, kelembagaan, hingga dukungan teknologi, terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya.
Salah satu program prioritas yang tengah dijalankan adalah pengembangan perbenihan. Program ini mencakup penyusunan kebijakan dan regulasi yang mendukung, penguatan kelembagaan, serta pengembangan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk swasta dan lembaga riset.
Tujuannya jelas: menyediakan benih unggul berkualitas tinggi yang mudah diakses petani di seluruh Indonesia.

Namun, upaya penerapan inovasi teknologi di sektor tanaman pangan tidak lepas dari tantangan besar, terutama di tingkat petani. Henry menyebut tiga hambatan utama yang masih sering ditemui di lapangan.
Pertama, menurut Henry adalah rendahnya pengetahuan dan literasi teknologi. Banyak petani belum familiar dengan mekanisasi modern atau aplikasi digital yang bisa mempermudah pekerjaan mereka.
Minimnya pelatihan, tingkat pendidikan yang rendah, serta kebiasaan mempertahankan cara bertani tradisional menjadi faktor penghambat. “Jika teknologi belum terbukti langsung meningkatkan hasil panen, petani cenderung enggan mencoba,” kata Henry.
Kedua, keterbatasan akses terhadap teknologi. Masih banyak daerah pertanian yang minim infrastruktur digital. Akses internet terbatas, listrik tidak stabil, serta ketersediaan perangkat teknologi yang rendah membuat inovasi sulit menjangkau petani kecil.
“Selain itu, harga teknologi seperti drone, sensor tanah, atau sistem irigasi pintar masih terbilang tinggi. Distribusinya pun sering hanya terfokus di wilayah tertentu atau kelompok tani besar” tambahnya.
Dan tantangan ketiga, diungkapkan Henry adalah kendala sosial dan budaya. Di sejumlah komunitas, adopsi teknologi baru masih dipandang dengan skeptis. Sebagian petani khawatir gagal panen jika mencoba cara baru.
“Ada pula norma sosial yang menganggap perubahan metode bertani sebagai penyimpangan dari tradisi yang telah diwariskan turun-temurun” ujarnya.
Meski demikian, Henry optimistis tantangan ini dapat diatasi dengan sinergi lintas pihak. Program pelatihan yang lebih intensif, dukungan pembiayaan, penyediaan infrastruktur digital, dan sosialisasi manfaat teknologi diharapkan dapat mempercepat transformasi sektor pertanian.
“Kita harus membangun ekosistem pertanian yang modern dan berkelanjutan. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan pangan Indonesia,” tegasnya.