
Pengurus Maporina Jawa Tengah kunjungan kerja di Wujil Resto, Kabupaten Semarang
TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Sejak Oktober 2024, pengurus Masyarakat Petani dan Pertanian Organik (MAPORINA) Jawa Tengah mulai bersiap menyambut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat. Program ini dinilai bukan hanya menyehatkan para siswa sekolah, tapi juga membuka pasar pasti bagi produk pangan organik lokal.
Ketua dan pengurus MAPORINA Jawa Tengah pun bergerak cepat mencari mitra Calon Dapur Mandiri di wilayah Semarang, Salatiga, Boyolali, Surakarta, Sragen, dan Klaten.
Harapannya, dapur-dapur tersebut menjadi pengolah sekaligus penyalur bahan pangan organik, mulai dari beras, sayuran, hingga buah-buahan kepada anak-anak penerima manfaat program.
“Dengan program ini, produk organik punya pasar yang jelas. Anak-anak pun bisa mengonsumsi makanan yang lebih sehat,” kata Sekretaris Jenderal MAPORINA, Hendriyanto Hartokodiningrat, saat kunjungan kerja di Wujil Resto, Kabupaten Semarang, beberapa hari lalu.
Dalam perjalanannya, pemerintah memutuskan bahwa pelaksana MBG bukanlah organisasi massa, melainkan yayasan penerima hibah.
Meski demikian, semangat para pegiat MAPORINA tak surut. Mereka berkolaborasi dengan yayasan mitra untuk memastikan hasil pertanian organik tetap terserap ke dapur-dapur MBG.

MAPORINA tetap menjalankan perannya sebagai pendamping petani, membina kelompok tani agar konsisten membudidayakan pertanian organik, dan membantu menyalurkan hasil panen ke dapur mitra program.
Hendriyanto menjelaskan, MAPORINA telah terlibat aktif dalam program MBG di berbagai daerah dengan moto “Makan Bergizi Gratis dan Sehat (MBGs)”.
Di Jawa Tengah, kegiatan sudah berjalan di Semarang, Ungaran, Klaten, dan Boyolali. Di Jawa Barat, meliputi Garut, Tasikmalaya, Bandung, dan Cikarang. Sementara di Jawa Timur mencakup Ponorogo, Pacitan, dan Madiun.
Di luar Jawa, MAPORINA hadir di Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah (NTB), serta Lampung dan Riau di Sumatera.
“Misi utama kami adalah mensejahterakan petani dengan memastikan hasil panen mereka terserap oleh dapur MBG dengan harga yang stabil,” ujarnya.
MAPORINA juga menaruh perhatian pada kualitas gizi, keamanan pangan, dan cita rasa makanan yang disajikan kepada siswa. Selain itu, mereka aktif mengedukasi masyarakat tentang manfaat pangan organik.
“Tanaman organik kaya akan gizi dan mampu meminimalisir risiko kanker serta melawan radikal bebas. Tapi masih banyak yang belum sadar manfaatnya. Di situlah kami hadir,” tegas Hendriyanto.
Berbagai inisiatif telah dilakukan, mulai dari membentuk klaster desa organik, menggelar bazar pangan organik, hingga melatih kader pertanian organik.
Produk dari anggota binaan MAPORINA pun telah menembus berbagai supermarket besar di seluruh Indonesia, sebagian sudah mengantongi sertifikasi organik resmi.
“Ini bagian dari tanggung jawab kami untuk memastikan kualitas produk organik dan memberikan nilai tambah bagi petani lokal,” pungkas Hendriyanto.