
Rapat Koordinasi Gerakan Selamatkan Pangan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau,
TABLOIDSINARTANI.COM, Tanjung Pinang --- Di tengah tantangan pemborosan pangan dan ancaman perubahan iklim global, Badan Pangan Nasional (NFA) meluncurkan Gerakan Selamatkan Pangan sebagai langkah nyata untuk mengurangi susut dan sisa pangan (SSP).
Program ini menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat ketahanan pangan melalui kolaborasi lintas sektor dan perubahan perilaku masyarakat.
Direktur Kewaspadaan Pangan NFA, Nita Yulianis, dalam Rapat Koordinasi Gerakan Selamatkan Pangan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rabu (10/9), menekankan pentingnya memandang sisa pangan bukan lagi sekadar limbah, melainkan sumber daya yang bisa mendukung ketahanan pangan.
“Setiap tahun Indonesia membuang 23 hingga 48 juta ton pangan. Jika dihitung per kapita, jumlahnya mencapai 115–184 kilogram per orang per tahun. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kehilangan dan pemborosan pangan tertinggi,” ungkap Nita.
Lebih mengejutkan lagi, lanjutnya, sisa pangan yang terbuang itu sebenarnya mampu memberi makan 61 hingga 125 juta orang setiap tahun.

“Angka ini bukan sekadar statistik, tapi alarm bagi kita semua. Saat sebagian masyarakat kesulitan makan, kita justru membuang potensi besar yang bisa menyelamatkan mereka,” tegasnya.
Nita menambahkan, gerakan ini tidak hanya fokus pada pengurangan sisa pangan, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat secara berkelanjutan. “Ini bukan tugas satu pihak saja. Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat, hingga media harus bersinergi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang telah menerbitkan Instruksi Gubernur tentang Penyelamatan Pangan. Menurutnya, hal itu adalah contoh nyata komitmen daerah dalam menyukseskan program nasional.
“Instruksi Gubernur tentu harus ditindaklanjuti dengan sinergi lintas sektor. Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini,” kata Nita.
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo, dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya membangun ekosistem pangan berkelanjutan melalui tiga pendekatan utama: Better Nutrition, Better Behavior, dan Better Collaboration.
Menurutnya, perubahan perilaku dalam memperlakukan pangan harus dimulai dari rumah, didukung regulasi yang kuat, serta diperkuat kerja sama antar pemangku kepentingan.
“Gerakan Selamatkan Pangan bukan sekadar mengurangi sisa makanan, tetapi juga mengubah pola pikir, membangun perilaku baru, dan menciptakan ekosistem pangan yang lebih bertanggung jawab. Menyelamatkan pangan sejatinya adalah menyelamatkan masa depan,” kata Arief.
Senada, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepulauan Riau, Sugiarto Doso Saputro, menilai gerakan ini merupakan langkah strategis menjaga ketahanan pangan di daerah.
“Instruksi Gubernur adalah dasar penting, tapi keberhasilan gerakan ini akan sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun akademisi,” jelasnya.