Selasa, 13 Januari 2026


Jateng Genjot Target Tanam Padi, Dirjen TP: Push to the Limit!

13 Sep 2025, 20:52 WIBEditor : Herman

Rapat koordinasi luas tambah tanam (LTT)

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah menggelar rapat koordinasi luas tambah tanam (LTT) padi pada Rabu (10/9/2025). Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Jateng, De Francisco Da Silva Tavares SP, MSi, dan dihadiri jajaran pejabat tinggi Kementerian Pertanian serta perwakilan instansi terkait.

Hadir dalam rapat tersebut Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Direktur HHTP Ditjen TP, Tenaga Ahli Menteri dan Wakil Menteri Pertanian, serta Inspektur II Itjen Kementan. Dari lingkup provinsi, tampak hadir BPS Jawa Tengah, Aster Kodam IV/Diponegoro, BRMP, Polbangtan Yoma, BBWS, hingga petugas Swasembada Pangan se-Jawa Tengah. Perwakilan Dinas Pertanian kabupaten/kota juga hadir lengkap sebanyak 35 orang.

Dalam arahannya, Dirjen Tanaman Pangan Dr. Yudi Sastro menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk mewujudkan swasembada pangan. Ia mendorong jajaran pertanian Jateng agar tetap bersemangat meski target cukup tinggi.

“Push to the limit! Tantangan utama kita ada di ketersediaan air, pemanfaatan alsintan, serta budaya tanam petani. Karena itu, koordinasi dengan BBWS untuk pengairan dan kolaborasi dengan TNI dalam pendekatan sosial sangat krusial,” tegas Yudi.

Secara nasional, target LTT padi tahun 2025 ditetapkan sebesar 20.009.802 hektar, dengan Jawa Tengah mendapat porsi 2.311.660 hektar. Hingga Agustus 2025, realisasi di Jateng sudah mencapai 1.220.859 hektar atau 52,81?ri target tahunan. Potensi tanam di bulan September diperkirakan mencapai 422.859 hektar, jauh di atas target bulanan 128.323 hektar.

Pemerintah juga mendorong sejumlah program inovatif, seperti Optimalisasi Lahan Rawa (OPLAH), Cetak Sawah Rakyat (CSR), serta pembentukan Brigade Swasembada Pangan yang melibatkan generasi milenial.

“Program ini bertujuan memodernisasi pertanian melalui penggunaan alat mesin, benih unggul, dan manajemen usaha yang lebih efisien,” jelas Yudi.

Rapat juga menyinggung perbedaan data luas panen antara Kementan dan BPS akibat metodologi berbeda. Untuk mengatasinya, diusulkan integrasi sistem Simotandi dan Siscrop, serta perbaikan sampel survei BPS.

Sementara itu, BBWS Bengawan Solo memastikan tidak ada penutupan aliran air di Bendung Colo. Dukungan infrastruktur juga datang dari pembukaan pintu air di Cilacap serta normalisasi sungai di Kudus.

Kepala Dinas Pertanian Jateng, De Francisco Da Silva Tavares, mengapresiasi dukungan semua pihak terhadap program LTT di provinsi ini.

“Kami berharap semua tetap satu tekad untuk mencapai tujuan bersama: menyukseskan program LTT di semua tingkatan,” pungkasnya.

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018