Friday, 13 February 2026


Luncurkan Platform Stop Boros Pangan, NFA Serius Kurangi Makanan Terbuang

01 Oct 2025, 08:53 WIBEditor : Herman

NFA Luncurkan Platform Stop Boros Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Dalam rangka memperingati International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2025, Badan Pangan Nasional (NFA) resmi meluncurkan Platform Stop Boros Pangan (SBP).

Inisiatif digital ini berfungsi untuk memantau dan memperkuat kolaborasi antar-mitra dalam mengurangi susut dan sisa pangan (SSP) di Indonesia.

Peluncuran ini digelar di Jakarta sebagai bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menekan angka makanan terbuang yang kian menjadi perhatian global.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi dalam sambutannya menyampaikan bahwa platform ini dirancang sebagai wadah untuk meningkatkan akses informasi dan memperkuat sinergi lintas sektor dalam penyelamatan pangan.

"Pada peringatan IDAFLW tahun ini, kami meluncurkan Platform Stop Boros Pangan. Ini akan menjadi alat pemantau aktivitas food loss and waste atau Susut dan Sisa Pangan (SSP) di Indonesia. Harapannya, ini bisa menjadi jembatan informasi dan kolaborasi antarpihak," ujar Arief.

Arief menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan platform tersebut.

"Jangan hanya launching lalu hilang. Sosialisasi dan komitmen berkelanjutan itu kunci," tambahnya.

Platform SBP dapat diakses melalui laman sbp.badanpangan.go.id dan terbuka untuk seluruh pemangku kepentingan akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, hingga media.

Menurut Arief, gerakan penyelamatan pangan akan semakin kuat jika didorong melalui pendekatan pentahelix.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi yang telah dilakukan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) melalui program GRASP 2030.

"Apresiasi saya sampaikan kepada IBCSD yang konsisten mendukung penyelamatan pangan. Saat ini, pemerintah daerah di 10 provinsi juga ikut terlibat bersama 11 Nutrihub dalam memperingati IDAFLW 2025," ungkapnya.

Susut dan sisa pangan merupakan tantangan besar tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.

Dalam Sustainable Development Goals (SDGs), negara-negara di dunia telah berkomitmen menurunkan food waste sebesar 50 persen di tingkat konsumen dan food loss di tahap produksi hingga distribusi pada 2030.

Indonesia turut memasukkan target tersebut ke dalam RPJMN 2025–2029 melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025.

Salah satu targetnya adalah menyelamatkan 3–5 persen pangan per tahun sebagai bagian dari program Ekosistem Ekonomi Sirkular.

Direktur Kewaspadaan Pangan NFA, Nita Yulianis, menjelaskan bahwa salah satu fitur unggulan dari platform SBP adalah “Lapor Mandiri” yang memungkinkan pelaku usaha dan rumah tangga untuk langsung memasukkan data penyelamatan pangan.

“Data yang masuk akan terkonsolidasi secara nasional. Ini sangat membantu dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran,” ujarnya.

Nita menambahkan bahwa sejumlah pelaku usaha sebenarnya telah melakukan inisiatif penyelamatan pangan, namun melalui SBP, upaya tersebut kini dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan terpantau.

Hingga 30 September 2025, tercatat sebanyak 152.293 kilogram atau sekitar 152,3 ton pangan telah berhasil diselamatkan dan disalurkan kepada 211.156 penerima manfaat di berbagai wilayah di Indonesia.

Direktur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani, menyambut baik kehadiran platform ini sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi pemborosan pangan.

“Mengurangi makanan terbuang berarti menekan emisi, menghemat biaya, dan meningkatkan kesejahteraan. Ini saatnya kita adopsi praktik bisnis berkelanjutan dan kebijakan berbasis data,” tegas Indah.

Data dari Bappenas (2021) menunjukkan bahwa susut dan sisa pangan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun, setara dengan 115 hingga 184 kilogram per orang.

Jika dikelola dengan baik, jumlah itu cukup untuk memberi makan hingga 125 juta orang, hampir separuh populasi Indonesia.

Tak hanya itu, kerugian ekonomi akibat SSP diperkirakan mencapai Rp213 hingga Rp551 triliun per tahun, atau sekitar 4 hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Limbah pangan juga menyumbang 7,29 persen emisi gas rumah kaca nasional.

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018