Saturday, 23 October 2021


UP-FMA Desa Sungai Nipah, Kalimantan Barat: MENGUBAH RAWA MENJADI LUMBUNG PANGAN

25 Oct 2013, 20:40 WIBEditor : Ahmad Soim

 

Petani di Desa Sungai Nipah, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat umumnya menanam padi varietas lokal dengan umurnya 6-9 bulan pada musim rendengan dan lahan yang digarap pun hanya 3 borong atau 0,5 ha. Produktivitasnya 250 kg/borong sehingga hasil padinya sebanyak 750 kg/tahun. Karena produktivitasnya rendah, maka petani terus mengalami kesulitan hidup terutama pada musim paceklik sekitar bulan Juli – September. Biasanya petani sibuk mencari pinjaman untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Nasib petani itu bisa berubah dengan adanya penyuluhan. Pada tahun 2007–2012, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian mengembangkan Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/FEATI) dengan kegiatan utamanya adalah Farmers Managed Extension Activities (FMA) atau kegiatan penyuluhan yang dikelola petani.

Pada tahun 2010 kegiatan pembelajaran FMA di Desa Sungai Nipah, Kabupaten Pontianak dengan topik Sekolah Lapangan Perbenihan Padi Inpara-3. Penetapan jenis padi Inpara-3 ini berdasarkan hasil FSA dari BPTP Kalimantan Barat dan kajian agribisnis peserta pembelajaran di UP-FMA Desa Sungai Nipah, di mana terungkap bahwa masyarakat senang pada varietas padi lokal karena tekstur nasinya keras sehingga tidak mudah lapar, jenis padi yang tahan kekeringan maupun kebanjiran dan menanamnya juga tidak mudah.

Memperhatikan hasil farming system analysis (FSA) dan kajian agribisnis tersebut, BPTP Kalimantan Barat menghubungi Balai Besar Padi Sukamandi, ternyata Balai Besar Padi Sukamandi sudah menghasilkan varietas Inpara-3 yang tekstur nasinya keras sesuai preverensi petani, tinggi tanamannya lebih dari satu meter, tahan jika terendam air pasang selama 8 hari, tahan keracunan besi dan aluminium tetapi tetap memiliki produksi yang tinggi.

Sekolah lapangan padi Inpara-3 yang merupakan uji coba, pada lahan seluas 0,5 ha ternyata hasilnya cukup menggembirakan yaitu sebanyak 3,7 ton/ha, hasil ini tentunya belum optimal karena terjadinya kekeringan ekstrim dan serangan hama tikus. Tetapi hasil ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lokal yang hanya 1-2 ton/ha.

Informasi bahwa petani di Desa Sungai Nipah ada yang berhasil menanam padi dan panen pada musim gadu, dengan cepat menyebar ke petani lain di desa sekitarnya. Uji coba ini pun dilanjutkan lagi oleh Ketua UP-FMA Desa Sungai Nipah dan produktivitasnya mencapai 4,5 ton/ha. Petani di sekitar lokasi ujicoba ramai-ramai ikut menanam Inpara-3 pada musim tanam berikutnya di lahan seluas 8 ha. Yang melonjak adalah di lokasi Parit Haji Hasan, Desa Sungai Nipah, yang dipandu oleh Hanafi selaku Penyuluh Pertanian Swadaya, karena jumlah seluruhnya mencapai kawasan seluas 100 ha. Bahkan pada musim gadu 2011 luasannya mencapai 150 ha sedangkan tahun 2012 luasannya bertambah lagi sehingga mencapai 200 ha.

Setelah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat memperkenalkan UP-FMA dengan Value Chain Analysis (VCA), orientasi petani juga berubah dari subsisten menjadi berorientasi agribisnis. BPTP juga mengembangkan UP-FMA Desa Sungai Nipah sebagai FMA mother sedangkan UP-FMA Peniti Dalam I, Jungkit, Wajok Hilir dan UP-FMA Peneliti Luar sebagai FMA baby. Penyuluh swadaya menemukan bahwa menjual beras ke penggilingan padi setempat dengan harga Rp. 6.500/kg, lebih menguntungkan dibandingkan dengan hanya menjual gabah kering panen Rp. 3.000/kg. Melihat peluang bisnis ini maka Ketua UP-FMA langsung membangun rice milling unit (RMU).

Dalam rangka pengembangan padi akan diperluas ke desa lain selain Sungai Nipah 200 ha yaitu Desa Peniti Dalam I dengan luas 16 ha, Jungkit 20 ha (Panit Haji Usman), Wajok Hilir 20 ha dan Sungai Burang. Dalam pemasarannya, UP-FMA melakukan kemitraan dengan Koperasi PT. Alas Kusumo untuk menyediakan beras 20 ton/bulan dengan kemasan 10 kg, 20 kg dan 25 kg. Untuk penyediaan beras, UP-FMA bekerjasama dengan pihak swasta membangun RMU yang akan dikelola oleh UP-FMA. Sedangkan untuk benih bermitra dengan Toko Jaya Tani sebanyak 11,20 ton, dengan kemasan 5 dan 25 kg. Selain itu, juga akan bermitra dengan PT. Sang Hyang Seri (SHS) dalam pemasaran benih padi.

Dampak program FEATI memang jelas langsung dirasakan petani di desa ini. Sebelumnya petani tidak pernah menanam padi pada musim gadu, dari menanam satu kali/tahun menjadi 2 kali/tahun, dari varietas lokal menjadi varietas unggul Inpara-3 dan produktivitasnya dari 1-2 ton/ha menjadi 3-5 ton/ha. Sekarang luas tanam padi pada MT Gadu 2012 seluas 200 ha. Dengan produktivitas 3,5 ton/ha saja telah menghasilkan tidak kurang dari 700 ton padi. Jika harga gabah kering panen Rp. 3.000/kg, maka petani peserta pembelajaran di UP-FMA Desa Sungai Nipah telah berhasil memberi manfaat hasil panen senilai Rp. 2,45 miliar yang masuk ke saku 225 KK petani.

Dampak lain dari kegiatan pembelajaran FMA di Desa Sungai Nipah adalah terbentuknya koperasi sebagai kelembagaan ekonomi petani di perdesaan, terbentuknya Pos Penyuluhan Pertanian (Posluhtan) Desa Sungai Nipah yang tumbuh dari sekretariat UP-FMA desa, pelayanan sarana produksi (obat-obatan) dan pelayanan pinjaman modal bagi petani walaupun dalam skala terbatas.

Keberhasilan UP-FMA Desa Sungai Nipah mengubah rawa menjadi salahsatu desa lumbung pangan di Kalimantan Barat merupakan hasil yang sangat menggembirakan dari suatu kerja keras semua pihak dalam melaksanakan program ini. Mulai dari petani yang ingin melepaskan diri dari hutang jika pada musim paceklik, ingin membangun daerah dari sumberdaya alam yang ada sehingga mau menerapkan inovasi teknologi yang difasilitasi oleh BPTP, penyuluh dan pihak-pihak yang peduli terhadap petani. Petani mengatakan bahwa mereka sangat bangga dengan penyuluh terutama Ir. Sigit, M.Sc dari BPTP Kalimantan Barat yang tidak mengenal waktu dalam mendampingi petani. Hal ini telah menghilangkan sindiran selama ini yang menyebut PPL singkatan dari paling-paling lewat.

Atas keberhasilan ini, pada bulan Juli 2013, Menteri Pertanian dan Duta Besar Timor Leste melakukan kunjungan ke UP-FMA Desa Sungai Nipah. Mereka cukup mengagumi bagaimana sinergisitas penyuluh, peneliti dan petani dalam memanfaatkan lahan rawa ini menjadi lumbung pangan khusus beras.

 

(Lasarus, Penyuluh Pertanian Madya, Pusluhtan).

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018