Sunday, 12 April 2026


Bapanas Dorong Kolaborasi Ritel dan UMKM, Selamatkan 244 Ton Pangan

07 Nov 2025, 18:54 WIBEditor : Herman

Gerakan Stop Boros Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta — Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus digencarkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Gerakan Selamatkan Pangan (GSP).

 Sejak diluncurkan pada 2022, gerakan ini telah menjangkau 17 provinsi dan berhasil menyelamatkan lebih dari 224 ton pangan, yang kemudian disalurkan kepada lebih dari 456 ribu penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan pangan secara bijak bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan.

Dalam momentum Hari Ritel Nasional 2025 di Jakarta, Kamis (6/11), Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor  mulai dari pelaku ritel, UMKM, bank pangan, hingga pemerintah daerah dan komunitas masyarakat,  untuk memaksimalkan pemanfaatan pangan yang masih layak konsumsi.

“Pencegahan food loss dan food waste membutuhkan komitmen kita semua. Gerakan Selamatkan Pangan hadir agar pangan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak terbuang percuma,” ujar Sarwo.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Indonesia berpotensi kehilangan hingga 31 persen pangan di sepanjang rantai pasok.

 Sekitar 17 persen berupa food waste di tingkat konsumen, sementara 14 persen merupakan foodu loss saat proses produksi dan distribusi.

“Kalau kita bisa mengurangi 5 persen saja dari angka itu, dampaknya sudah luar biasa besar bagi kecukupan pangan jutaan masyarakat,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo), Solihin.

Ia menegaskan bahwa pihaknya siap menjadi bagian dari ekosistem penyelamatan pangan yang lebih terintegrasi.

“Ini bukan lagi zamannya UMKM dan ritel berjalan sendiri-sendiri. Bukan bertanding, tapi bersanding,” tegas Solihin.

Ditambahkannya, ritel modern harus jadi etalase bagi UMKM, termasuk dalam upaya pengurangan pemborosan pangan. 

"Kalau kita bergerak bersama, dampaknya akan jauh lebih besar dan berkelanjutan," tegas Solihin.

Bapanas saat ini terus memperkuat berbagai intervensi untuk menekan kehilangan dan pemborosan pangan, mulai dari kampanye perubahan perilaku konsumsi, fasilitasi redistribusi pangan, hingga dukungan logistik seperti food truck dan mobil berpendingin agar pangan tersalurkan dalam kondisi baik.

Untuk memperluas partisipasi publik, Bapanas juga mengembangkan platform digital “Stop Boros Pangan” di situs sbp.badanpangan.go.id, yang memungkinkan masyarakat dan pelaku usaha berkontribusi langsung dalam kegiatan penyelamatan pangan.

Hingga Oktober 2025, tercatat 40 pelaku usaha dan 23 bank pangan telah aktif berpartisipasi dalam gerakan ini.

 Kolaborasi tersebut berhasil menyalurkan hasil penyelamatan pangan ke masyarakat rentan di perkotaan maupun daerah terpencil, menjadi contoh nyata praktik baik pengelolaan pangan berkelanjutan.

Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi Bapanas, Nita Yulianis, menyebut Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penyelamatan pangan sebagaimana diarahkan dalam RPJMN dan komitmen global SDGs 12.

Lebih lajut Nita megaku gerakan penyelamatan pangan sudah menunjukkan hasil.

"Tantangan kita sekarang adalah memperluas jangkauannya melalui kolaborasi yang lebih kuat, terutama dengan sektor ritel yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Nita, berbagai inisiatif lokal seperti bank pangan, komunitas kampus, dan kelompok masyarakat telah terbukti efektif dalam mengurangi pemborosan pangan.

“Yang kita lakukan hari ini adalah menyambungkan titik-titik itu, memperkuat jejaring, dan memastikan kolaborasinya berjalan,” tambahnya.

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018