
Titiek Soeharto menyerukan pemulihan cepat lahan pertanian usai bencana banjir bandang di Sumatera, menegaskan negara harus hadir memberi benih, pupuk, dan pendampingan agar petani segera bangkit.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Titiek Soeharto menyerukan pemulihan cepat lahan pertanian usai bencana banjir bandang di Sumatera, menegaskan negara harus hadir memberi benih, pupuk, dan pendampingan agar petani segera bangkit.
Seruan lantang untuk mempercepat pemulihan lahan pertanian menggema di Temu Tani Nasional dan Rakernas HKTI 2025 yang digelar di Kampus BPPMKP Ciawi, Bogor, Rabu (3/12).
Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menegaskan bahwa pemerintah harus bergerak cepat membantu petani korban banjir bandang dan longsor yang menimpa sejumlah wilayah Sumatera pada pekan ini.
Dalam forum besar yang dihadiri ribuan petani, penyuluh, dan pengurus HKTI dari berbagai provinsi, Titiek menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak bencana tersebut.
Menurutnya, tragedi ini bukan hanya menyisakan duka kemanusiaan, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian di wilayah terdampak.
“Banyak saudara-saudara kita para petani yang kehilangan keluarga, rumah, dan lahan pertaniannya. Atas nama pribadi dan Komisi Iv DPR RI, saya menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya,” ujar Titiek.
Namun, Titiek tidak berhenti pada belasungkawa. Ia menegaskan bahwa langkah pemulihan harus dijalankan secepat mungkin agar petani tidak kehilangan musim tanam dan penghidupan mereka kembali stabil.
Titiek memaparkan beberapa langkah darurat yang menurutnya perlu menjadi prioritas pemerintah. Pertama, penyediaan benih padi dan jagung untuk menggantikan stok petani yang hanyut atau rusak.
Kedua, memastikan ketersediaan pupuk nonsubsidi agar petani dapat langsung memulai pengolahan lahan begitu situasi memungkinkan.
Ketiga, percepatan dukungan teknis untuk membersihkan lahan yang tertimbun material banjir, mulai dari tanah longsor, batu, hingga endapan lumpur tebal.
“Ini kebutuhan mendesak. Kalau tidak dipenuhi segera, dampaknya bukan hanya pada petani Sumatera, tapi juga pada produksi pangan nasional,” tegasnya.
Sejumlah peserta dari daerah terdampak mengamini pernyataan tersebut. Mereka melaporkan bahwa banyak jaringan irigasi rusak, akses jalan ke lahan tertutup puing, serta minimnya alat berat yang bisa diturunkan untuk percepatan pembersihan. Situasi itu membuat pemulihan pertanian terancam mundur jauh dari target.
Titiek juga menyoroti pentingnya pendampingan intensif bagi petani, terutama dalam pengolahan ulang lahan dan pemulihan tanah yang terdampak sedimen. Ia menilai, dukungan teknis dan kehadiran penyuluh sangat krusial dalam situasi pascabencana seperti ini.
“Petani tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Negara harus hadir, memastikan proses pemulihan ini berjalan tuntas dan cepat,” kata Titiek.
Di luar isu pemulihan, Titiek mengajak seluruh peserta Temu Tani Nasional untuk terus membangun solidaritas dan gotong royong. Menurutnya, kekompakan ini selalu menjadi kekuatan utama petani Indonesia ketika menghadapi masa-masa sulit.
“Semoga para korban diberi kekuatan lahir batin dalam menghadapi cobaan ini. Kita semua harus berdiri bersama mereka,” ujarnya.