
Banjir berbulan-bulan menghantam lahan pertanian di Kabupaten Serang. Sebanyak 762 hektare sawah terendam, 99 hektare di antaranya berujung puso, memukul harapan petani di awal tahun.
TABLOIDSINARTANI.COM, Serang -- Banjir berbulan-bulan menghantam lahan pertanian di Kabupaten Serang. Sebanyak 762 hektare sawah terendam, 99 hektare di antaranya berujung puso, memukul harapan petani di awal tahun.
Banjir yang datang silih berganti sejak Oktober 2025 hingga awal Januari 2026 meninggalkan jejak pahit di hamparan sawah Kabupaten Serang.
Total 762 hektare lahan padi terdampak genangan air, dan dari luasan itu 99 hektare dinyatakan puso atau gagal panen.
Angka tersebut menjadi sinyal serius bagi ketahanan pangan daerah di tengah cuaca yang tak kunjung bersahabat.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang mencatat, hingga 4 Januari 2026, dari 762 hektare sawah yang terendam banjir, 301 hektare masih tergenang, 358 hektare berangsur surut, sementara 99 hektare lainnya tak bisa diselamatkan.
Sawah-sawah itu tersebar di 11 kecamatan, mulai dari Kramatwatu hingga Cikande.
Sekretaris DKPP Kabupaten Serang, Yuli Saputra, menjelaskan banjir dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang terjadi dalam waktu lama.
Air yang tak segera surut membuat tanaman padi tak kuat bertahan, terutama pada fase pertumbuhan tertentu.
“Ada di Kecamatan Kramatwatu, Padarincang, Tunjung Teja, Cinangka, Pontang, Mancak, Anyar, Ciruas, Tirtayasa, Lebak Wangi, dan Kecamatan Cikande. Dari 762 hektare itu, 358 hektare banjirnya sudah surut dan 99 hektare mengalami puso,” kata Yuli.
Di lapangan, genangan air seolah tak kenal kalender tanam. Sawah yang mestinya menghijau justru berubah seperti kolam, membuat petani hanya bisa menatap pasrah.
Menurut Yuli, lama rendaman air menjadi faktor kunci penentu selamat tidaknya tanaman padi.
“Kalau sawah terendam lebih dari tiga hari, potensi busuk dan gagal panennya tinggi. Tapi kalau hanya satu hari, masih ada peluang besar untuk diselamatkan,” ujarnya.
Bagi petani yang terdampak puso, pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi.
Petani yang telah mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) akan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektare. Sementara itu, petani yang belum terdaftar asuransi tetap mendapat perhatian melalui bantuan benih.
“Yang tidak ikut asuransi akan kita ajukan ke Dinas Pertanian Provinsi Banten untuk permohonan pergantian benih. Biasanya responnya cepat, supaya petani bisa segera tanam kembali,” jelas Yuli.
Meski demikian, banjir yang terjadi berbulan-bulan ini tetap meninggalkan kekhawatiran. Apalagi sebagian sawah yang saat ini airnya mulai surut masih dalam proses identifikasi potensi kerusakan. Petugas penyuluh pertanian pun turun langsung ke lapangan untuk memetakan kondisi riil.
Salah seorang penyuluh pertanian dari BPP Pontang, Hari Rismayadi, menyebutkan di wilayah Kecamatan Pontang sendiri terdapat puluhan hektare sawah yang terdampak banjir.
Di Desa Pulokencana, sekitar 25 hektare sawah terendam, dengan 10 hektare di antaranya sudah dipastikan puso.
“Di Desa Sukajaya juga terdampak banjir sekitar 50 hektare, tapi untuk pusonya masih kami identifikasi,” ujar Hari.
Meski angka puso tahun ini terbilang signifikan, DKPP Kabupaten Serang mengklaim kondisinya masih lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, proses pendataan terus dilakukan seiring dinamika cuaca yang masih sulit ditebak.
“Kalau dibandingkan pengalaman tahun kemarin, angka puso saat ini lebih rendah. Tapi kami tetap waspada dan terus berkoordinasi dengan penyuluh di lapangan,” kata Yuli.
Banjir yang berulang ini kembali menegaskan rapuhnya sektor pertanian terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Di tengah sawah yang masih basah dan lumpur yang belum mengering, harapan petani Serang kini bertumpu pada cuaca yang lebih bersahabat dan respons cepat pemerintah, agar musim tanam berikutnya tak kembali tenggelam sebelum sempat tumbuh.