Rabu, 14 Januari 2026


Swasembada Jagung Tercapai! DPR dan Kapolri Dorong Petani Tingkatkan Kualitas

09 Jan 2026, 08:23 WIBEditor : Gesha

Swasembada jagung resmi tercapai! DPR dan Kapolri turun lapangan dorong petani tingkatkan kualitas produksi agar siap ekspor dan dorong kesejahteraan nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bekasi -- Swasembada jagung resmi tercapai! DPR dan Kapolri turun lapangan dorong petani tingkatkan kualitas produksi agar siap ekspor dan dorong kesejahteraan nasional.

Indonesia resmi mencatatkan prestasi penting di sektor pangan. Produksi jagung nasional pada 2025–2026 mencapai 16,1 juta ton, menandai tercapainya swasembada jagung.

Pencapaian ini menjadi momentum bagi pemerintah, DPR, dan aparat kepolisian untuk mendorong petani meningkatkan kualitas produksi agar siap menembus pasar ekspor global.

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, atau yang lebih dikenal sebagai Titiek Soeharto, menegaskan dorongan ekspor sebagai langkah strategis pasca-swasembada.

Pernyataan ini disampaikan dalam Panen Raya Jagung Kuartal I Tahun 2026 di Tembong Gunung, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Bekasi, Kamis (9/1/2026), yang diikuti secara daring dari Jakarta.

“Keberhasilan swasembada beras pada 2025 dan jagung pada 2026 membuka peluang emas bagi Indonesia untuk mengekspor komoditas strategis ini. Ekspor bukan hanya memperkuat posisi Indonesia di pasar global, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Titiek.

Data resmi pemerintah menunjukkan produksi jagung nasional sebesar 16,1 juta ton, sementara konsumsi domestik hanya sekitar 15,6 juta ton.

Artinya, terdapat surplus jagung sekitar 0,5 juta ton yang menjadi modal penting untuk ekspor.

Surplus ini sekaligus menjadi bukti bahwa upaya modernisasi pertanian dan keterlibatan lintas sektor membuahkan hasil nyata.

Titiek menekankan pentingnya kualitas produksi jagung dalam menyongsong pasar ekspor global.

“Swasembada saja tidak cukup. Petani harus fokus meningkatkan kualitas produksi agar jagung Indonesia mampu bersaing secara kompetitif di pasar internasional,” katanya.

Keberhasilan swasembada jagung tidak lepas dari dukungan lintas sektor, termasuk aparat kepolisian.

Menurut Titiek, kontribusi Kepolisian Republik Indonesia mencapai sekitar 20 persen dari total produksi jagung nasional.

Sinergi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional bukan hanya urusan pemerintah atau petani, tapi hasil kolaborasi berbagai pihak.

Dalam panen raya tersebut, Titiek juga berdialog secara daring dengan Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Andi Rian Jayadi, untuk memantau progres produksi jagung di wilayah Sumatera Selatan.

Langkah ini menegaskan perhatian pemerintah terhadap implementasi produksi di lapangan dan kesiapan wilayah-wilayah penghasil jagung untuk mendukung ekspor.

Titiek Soeharto menekankan bahwa pencapaian swasembada beras dan jagung harus diiringi dengan peningkatan kualitas hasil panen.

Dengan kualitas yang terjaga, surplus jagung dapat dioptimalkan untuk ekspor, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.

“Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi petani dan perekonomian nasional,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengumumkan keberhasilan swasembada pangan pada Rabu (7/1/2026) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang ditandai dengan simbol penumbukan alu ke dalam lesung sebagai lambang panen raya.

Pencapaian ini menegaskan bahwa Indonesia mampu menjaga ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang baru untuk ekspor beras dan jagung.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018