
Syukuran Swasembada Pangan di Karawang Oleh Presiden RI
Taboidsinartani.com, Karawang --- “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, hari ini saya umumkan Indonesia telah berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan. Satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki sendiri, satu tahun kita tidak tergantung bangsa lain.”
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat mengumumkan pencapaian swasembada pangan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Rabu (7/1). Setelah dalam beberapa tahun terakhir, harus mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, pada tahun 2025 Indonesia kembali swasembada pangan.
Pencapaian swasembada tersebut, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis produksi beras selama 2025 diperkirakan mencapai 34,71 juta ton, meningkat 4,09 juta ton atau 13,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Dengan produksi tersebut, diperkirakan surplus beras sebanyak 3-4 juta ton.
Capaian produksi beras tersebut merupakan hasil konversi dari produksi padi yang diperkirakan sebanyak 60,25 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka itu meningkat 7,10 juta ton GKG atau 13,37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Naiknya produksi karena bertambahnya luas panen yang diproyeksikan 11,33 juta ha atau naik 1,29 juta ha (12,8 persen).
Selain beras, BPS juga mencatat produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen selama tahun 2025 mencapai 16,11 juta ton. Jumlah itu meningkat 6,44 persen atau 0,97 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi tersebut berasal dari luas panen sepanjang 2025 yang diperkirakan mencapai 2,72 juta ha atau naik sebesar 0,17 juta ha atau 6,73 persen dibandingkan tahun lalu.
Namun Presiden mengingatkan keberhasilan ini bukan sekadar capaian teknis, melainkan tonggak penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebab, tidak ada negara yang benar-benar merdeka jika kebutuhan pangannya bergantung pada bangsa lain.
“Waktu saya dilantik saya beri target swasembada empat tahun. Terima kasih seluruh komunitas pertanian. Saudara bekerja keras, saudara bersatu, saudara kompak, hasilkan dari yang empat tahun tapi saudara berikan kepada bangsa dan negara satu tahun kita sudah swasembada, satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki sendiri, satu tahun kita tidak tergantung bangsa lain,” tuturnya.
Target itu realistis, bahkan cenderung konservatif. Namun realitas di lapangan berbicara lain. Kerja kolektif, keberanian ambil keputusan, dan disiplin di sektor hulu hingga hilir membuat target itu runtuh lebih cepat dari perkiraan. “Hari ini saudara-saudara membuktikan Indonesia bisa. Ini kerja putra-putri terbaik bangsa,” katanya dengan nada bangga.
Bagi Presiden swasembada pangan bukan akhir, melainkan awal dari lompatan besar sektor pertanian. Setelah beras, pemerintah menargetkan swasembada jagung, singkong, bawang putih, hingga penguatan peternakan dan perikanan agar rakyat Indonesia mendapatkan protein yang cukup dan terjangkau. “Kalau ada yang nyinyir, kita jawab dengan kerja dan bukti. Tahun ini swasembada, tahun-tahun ke depan kita swasembada lagi,” katanya.
Peran Petani
Di tengah euforia keberhasilan produksi beras nasional, Prabowo mengajak publik mengingat peran petani yang kerap luput dari sorotan. Ia menyinggung kembali masa-masa awal kemerdekaan, ketika negara ini masih serba terbatas.
Anggaran belum ada, sistem pajak belum berjalan, bahkan struktur pemerintahan pun belum sepenuhnya terbentuk. Namun perjuangan tetap hidup karena ada rakyat yang menopang dari bawah. “Yang memberi makan para pejuang, yang menjaga mereka tetap kuat, itu petani,” ujar Prabowo.
“Saya masuk tentara tahun 1970. Tapi saya merasakan setiap saya latihan di desa-desa, petani memberi minuman dan makanan kepada kami. Waktu kita menyatakan kemerdekaan 17 Agustus 1945, tidak ada anggaran, tetapi ada petani yang beri makan tentara. Kita tidak bakal merdeka tanpa jasa para petani,” ungkapnya.
Prabowo mengakui, tanpa kontribusi petani, sejarah kemerdekaan Indonesia mungkin tak pernah sampai ke titik sekarang. Kesetiaan mereka, kata Prabowo, bukan lahir dari kepentingan atau keuntungan, melainkan dari rasa cinta terhadap tanah dan negeri yang mereka pijak setiap hari.
Prabowo juga membagikan kenangan pribadinya saat menjadi prajurit muda puluhan tahun silam. Saat latihan di desa-desa, ia merasakan langsung bagaimana warga, yang sebagian besar petani menyambut tentara dengan ketulusan. Rumah sederhana, fasilitas terbatas, tapi hati mereka lapang. “Mereka keluar rumah, menyuguhkan apa yang ada. Teh hangat, singkong, pisang. Padahal hidup mereka sendiri tidak mudah,” tuturnya.
Pengalaman itu, menurut Prabowo, membentuk keyakinannya hingga kini bahwa petani adalah kelompok paling loyal terhadap negara. Loyal tanpa pamrih, setia tanpa sorotan kamera. Karena itu dirinya pun menyayangkan kondisi petani dan nelayan yang selama puluhan tahun dinilainya belum mendapat penghargaan setimpal.
Di balik peran besar menjaga kedaulatan pangan dan menopang bangsa, perhatian negara sering kali datang terlambat. “Petani dan nelayan kita terlalu lama berdiri di barisan belakang,” kata Prabowo. Karena itu, ia menegaskan, keberhasilan swasembada pangan, harus menjadi momentum perubahan.
Bukan hanya kebanggaan nasional, tetapi juga penanda bahwa negara mulai memberi tempat yang layak bagi mereka yang bekerja sejak subuh hingga senja. Sebagai bentuk penghormatan kepada petani dan penyuluh pertanian yang hadir dalam pemgumuman swasembada pangan, Presiden secara khusus memberikan hormat dengan turun dari podiusm.
”Saudara-saudara sekalian, izinkanlah saya mengikuti naluri saya, mengikuti kebiasaan saya dari sejak muda. Izinkan saya hormat kepada seluruh dari kalian yang telah berjuang mengabdi sehingga kita swasembada pangan,” kata Prabowo. T