
Hujan deras buat sungai di Karawang meluap, merendam 4.700 hektar sawah. Petani alami gagal panen dan rugi puluhan juta, sebagian padi terpaksa dijual murah Rp2.000–Rp2.500/kg.
TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang -- Hujan deras buat sungai di Karawang meluap, merendam 4.700 hektar sawah. Petani alami gagal panen dan rugi puluhan juta, sebagian padi terpaksa dijual murah Rp2.000–Rp2.500/kg.
Hujan deras yang turun beberapa hari terakhir membuat sejumlah sungai meluap, merendam ribuan hektar sawah dan rumah warga.
Pantauan live streaming di media sosial terlihat sebagian Banjir di sawah mulai surut, tapi sekitar 4.200 hektar masih terendam air setinggi 50 cm hingga lebih dari 1 meter.
Padi yang sudah ditanam selama lebih dari dua pekan sebagian besar membusuk. Bahkan padi yang siap panen berisiko rusak total.
Kerugian petani pun cukup besar. Biasanya satu hektar sawah bisa menghasilkan 5–7 ton padi, akibat banjir, petani hanya bisa memanen sekitar 1 ton.
Petani yang punya modal mencoba mengeringkan padi menggunakan oven, tapi mayoritas hanya mengandalkan panas matahari yang tak menentu.
Curah hujan tinggi membuat proses pengeringan terganggu, sehingga padi cepat membusuk.
Data BPBD Kabupaten Karawang mencatat, lebih dari 4.700 hektar sawah terdampak banjir, sebagian besar berada di wilayah utara.
Akibatnya, petani menanggung kerugian besar. Padi yang gagal panen membuat modal bertahun-tahun habis sia-sia.
Bahkan, padi yang berhasil dipanen ditawar tengkulak dengan harga sangat murah, hanya Rp 2.000–Rp 2.500 per kilogram, karena kualitasnya menurun.
“Sawah saya satu hektar hampir semuanya gagal panen. Modal habis, hasil nol,” keluh salah satu petani.
Banjir di Karawang bukan hal baru karena Sungai Citarum, Cibeet, Cilamaya, dan Kalen Bawah yang menjadi penyebab utama banjir kini dangkal dan tanggulnya banyak yang rusak.
Petani berharap pemerintah segera menormalisasi sungai-sungai tersebut agar banjir tak terus merugikan mereka.
Melihat kenyataan pahit ini, Pemerintah menindaklanjuti dengan upaya penyerapan gabah melalui Bulog, dengan harga eceran tertinggi Rp 6.500 per kilogram.
Petani yang terdampak bisa menghubungi Babinsa atau PPL setempat untuk menjual gabah mereka, sehingga kerugian sedikit terobati dan tengkulak tak bisa menawar seenaknya.
Selain itu, pembangunan pintu air pengendali banjir tengah dilakukan di Kecamatan Teluk Jambe Barat, tepat di titik pertemuan Sungai Cibeet dan Citarum.
Pintu air ini ditargetkan selesai September mendatang, diharapkan bisa meminimalisir dampak banjir di masa depan.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengintensifkan lahan yang tidak terdampak banjir melalui ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian.
Tujuannya untuk menjaga produksi padi tetap stabil dan memastikan pasokan pangan nasional aman.
Hingga saat ini, banjir masih merendam 15 desa di tujuh kecamatan, memaksa ribuan warga mengungsi. Tinggi air di beberapa desa bahkan mencapai 2,5 meter.
Aktivitas warga terganggu, akses jalan tertutup, dan layanan publik seperti sekolah dan pasar ikut terhambat.