Friday, 07 August 2026


Pangan Terselamatkan Melonjak 8 Kali Lipat, Bapanas Ungkap Kuncinya

02 Feb 2026, 14:09 WIBEditor : Herman

Gathering Civitas Akademika Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University di Bogor.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mendorong ketahanan pangan nasional.

Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah menggandeng kalangan akademisi yang dinilai memiliki peran penting dalam mendukung ketersediaan pangan sekaligus pemenuhan gizi masyarakat.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penguatan Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) dan kampanye Stop Boros Pangan, dua program unggulan Bapanas yang berfokus pada upaya menekan susut dan sisa pangan.

Selain mencegah pemborosan, gerakan ini juga menjadi bagian dari strategi pencegahan kerawanan pangan di berbagai daerah.

Hasilnya, capaian GSP menunjukkan lonjakan signifikan. Hingga November 2025, Bapanas mencatat sebanyak 224 ton pangan berhasil diselamatkan dan disalurkan kepada lebih dari 456 ribu penerima manfaat di 17 provinsi.

Program yang telah berjalan sejak 2022 ini terus mengalami percepatan berkat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Perkembangan paling mencolok terjadi dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Pada minggu ketiga Januari 2026, jumlah pangan yang berhasil diselamatkan melonjak hingga delapan kali lipat.

Data terbaru menunjukkan, total pangan terselamatkan mencapai 1.900 ton, dengan penerima manfaat sebanyak 2,9 juta orang. Jumlah pelaku usaha yang terlibat sebagai pendonor pangan berlebih juga meningkat menjadi 70 pelaku usaha.

Direktur Kewaspadaan Bapanas, Nita Yulianis, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan akademisi dalam memastikan keberlanjutan upaya tersebut.

“Badan Pangan Nasional sangat mendukung kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi. Keilmuan yang relevan dapat disinergikan untuk memastikan ketersediaan pangan dan kualitas konsumsi masyarakat, sehingga perilaku boros pangan dapat semakin dikurangi,” ujar Nita saat menjadi narasumber dalam Gathering Civitas Akademika Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University di Bogor.

Menurut Nita, Gerakan Selamatkan Pangan menunjukkan bahwa kemampuan mengelola pangan agar tidak terbuang sia-sia merupakan salah satu kunci dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Ia juga menilai keilmuan yang dikembangkan FEMA IPB memiliki keterkaitan erat dengan isu pangan, mulai dari aspek ketersediaan, pola konsumsi, hingga pemenuhan gizi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Nita turut memaparkan sejumlah program kolaboratif yang saat ini dijalankan pemerintah bersama akademisi, di antaranya penguatan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi sebagai early warning system bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mendeteksi potensi kerawanan pangan.

Tak hanya membahas program, Nita juga berbagi pengalaman perjalanan karier serta tantangan profesional selama berkecimpung di bidang pangan, khususnya dalam mengawal isu kewaspadaan pangan nasional.

Sejalan dengan hal tersebut, Dekan FEMA IPB University, Sofyan Sjaf, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung kebijakan pangan nasional.

Kontribusi akademisi, menurutnya, tidak hanya berhenti pada kajian ilmiah, tetapi juga perlu terlibat aktif dalam perumusan kebijakan hingga implementasi di lapangan.

“Isu pangan sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Di sinilah peran akademisi untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Sofyan.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Dekan FEMA IPB University serta narasumber dari EIGER Adventureland dan United Nations Development Programme (UNDP).

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018