
Banjir yang melanda sentra produksi pangan
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Kondisi cuaca ekstrem masih menaungi sentra pangan di Tanah Air. Ada rasa khawatir terhadap ancaman produksi pangan. Apalagi Presiden Prabowo Subianto baru saja mengumumkan swasembada pangan 2025. Bagaimana dengan tahun 2026? Inilah prediksi Badan Pusat Statistik (BPS).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat jumpa pers mengumumkan angka tetap produksi pangan (padi dan jagung) 2025, Senin (2/2) sempat mengungkapkan prediksi produksi dua komoditas pangan utama pada tahun 2026.
Untuk awal tahun 2026, BPS mencatat potensi produksi yang masih menjanjikan. Pada periode Januari–Maret, potensi produksi padi diperkirakan mencapai 17,65 juta ton GKG atau mengalami peningkatan 2,41 juta ton GKG (naik 15,80 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, potensi produksi beras pada Januari-Maret 2026 diperkirakan sebesar 10,16 juta ton atau mengalami peningkatan sebeasr 1,39 juta tona tau 15,79 persen dibandingkan Januari-Maret 2025. “Angka Januari–Maret 2026 ini masih merupakan angka potensi dan dapat berubah, tergantung kondisi pertanaman di lapangan seperti serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pergeseran waktu panen oleh petani,” kata Ateng.
Secara spasial, menurutnya, potensi panen padi pada Januari–Maret 2026 terkonsentrasi di sejumlah wilayah sentra produksi, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Selain itu, beberapa provinsi di Sumatra, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat.
Sementara produksi beras tahun 2025 mencatatkan lonjakan signifikan. BPS merilis angka tetap (ATAP) produksi beras Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Desember 2025 itu mencapai 34,69 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen meningkatnya jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024,” kata Ateng.
Angka tetap yang dirilis BPS ini tidak jauh berbeda dengan proyeksi produksi beras Indonesia yang pernah dikeluarkan oleh FAO dan USDA. USDA menyebutkan bahwa produksi beras Indonesia diperkirakan akan mencapai 34,6 juta ton pada tahun ini.
Produksi beras tersebut merupakan konversi dari produksi pada sepanjang Januari–Desember 2025. BPS mencatat, produksi padi 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 7,06 juta ton GKG atau 13,29 persen dibandingkan tahun 2024.
Menurut Ateng, peningkatan produksi padi tidak terlepas dari membaiknya produktivitas nasional. Rata-rata produktivitas padi dalam kualitas gabah kering panen (GKP) pada tahun 2025 mencapai 63,55 kuintal per hektar (ku/ha) dan GKG mencapai 53,18 ku/ha.
Selain produktivitas, perluasan luas panen juga menjadi faktor penting. Ateng menyebut, luas panen padi sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 11,32 juta ha, meningkat 12,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bagaimana dengan produksi jagung? Baca selanjutnya.