Monday, 13 April 2026


Kemarau Datang Lebih Awal, Perhimpi Pastikan Lahan Tetap Berdenyut untuk Panen

07 Apr 2026, 11:02 WIBEditor : Gesha

Petani sedang tanam padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Kemarau 2026 datang lebih awal, ancaman kekeringan membayangi. Namun Perhimpi memastikan lahan tetap hidup, petani terus menanam, dan panen tak boleh berhenti demi menjaga pangan negeri.

Di tengah ancaman kemarau yang datang lebih awal dan potensi El Nino 2026, Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) memastikan satu hal yaitu aktivitas tanam dan panen harus tetap berjalan.

Pesan itu mengemuka dalam Forum Diskusi #1 Perhimpi yang digelar secara daring, Selasa (7/4/2026).

Mengusung tema “Meski El Nino, Tetap Tanam dan Panen”, fseperti simpul yang mengikat harapan di tengah cuaca yang mulai tak menentu. 

Acara menghadirkan berbagai narasumber penting, mulai dari perwakilan pemerintah, akademisi, hingga petani praktisi yang sehari-hari berjibaku langsung dengan perubahan iklim.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Penasehat Perhimpi, Yonny Koesmaryono, yang mewakili Ketua Umum Perhimpi, Fadly Djufry, menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi sektor pertanian nasional.

Prediksi iklim menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih cepat dengan intensitas curah hujan yang lebih rendah di sebagian besar wilayah sentra pangan.

“Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi. Tapi bukan untuk mundur justru harus jadi dasar untuk langkah yang lebih cepat dan terukur,” ujarnya.

Paparan dari BMKG memperkuat gambaran tersebut. Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab, menyebutkan sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari normal.

Tak hanya itu, sekitar 64,5 persen wilayah diprediksi akan mengalami kondisi lebih kering, sementara 57,2 persen wilayah menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang.

“Ini bukan sekadar kemarau biasa. Kombinasi lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang perlu diantisipasi serius,” jelasnya.

BMKG juga memproyeksikan potensi kemunculan El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026.

Fenomena ini diperkirakan memperparah kekeringan, terutama saat puncak kemarau di bulan Agustus. Namun dalam forum ini, narasi yang dibangun bukan soal kekhawatiran, melainkan kesiapan.

“Fenomena iklim itu pasti datang. Tapi respon kita yang menentukan hasil akhirnya,” kata Fachri.

Perhimpi menegaskan bahwa tantangan ini harus dijawab dengan strategi berbasis data, bukan spekulasi. Informasi iklim menjadi fondasi utama dalam menentukan waktu tanam, pola tanam, hingga pilihan varietas.

Forum ini juga menyoroti pentingnya pemanfaatan data iklim dalam pengambilan keputusan.

BMKG telah menyediakan berbagai layanan, mulai dari prediksi curah hujan hingga informasi ketersediaan air tanah untuk tanaman.

Program Sekolah Lapang Iklim (SLI) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan literasi petani terhadap informasi tersebut.

Dengan pendekatan ini, petani tidak lagi sekadar menebak musim, tetapi membaca pola dengan lebih presisi. 

Sekretaris Jenderal Perhimpi sekaligus Kepala BRMP Tanaman Pangan, Haris Syahbuddin, menekankan pentingnya adaptasi yang sistematis dan berkelanjutan.

Menurutnya, menghadapi kemarau bukan soal reaksi sesaat, melainkan proses panjang yang harus disiapkan sejak jauh hari.

“Kita bicara kekeringan saat masih ada air. Di situlah kuncinya,” ujarnya.

Strategi utama yang diusung adalah konsep panen air yaitu mengumpulkan, menampung, dan mengelola air secara efisien.

Air hujan yang selama ini dianggap biasa, kini diperlakukan seperti aset berharga.

Selain itu, petani didorong untuk menyesuaikan pola tanam, termasuk menggunakan varietas unggul berumur genjah dan toleran terhadap kekeringan.

Dalam kondisi ekstrem, diversifikasi tanaman menjadi opsi realistis.

Komoditas seperti kacang hijau atau palawija lainnya dinilai lebih adaptif terhadap keterbatasan air.

“Yang penting lahan tetap produktif. Jangan sampai berhenti,” tegas Haris.

Pengalaman lapangan disampaikan oleh Tarsono, petani dari Indramayu yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim.

Di tingkat desa, ia bersama kelompoknya melakukan pengukuran curah hujan secara rutin.

Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan jadwal tanam dan strategi pengelolaan lahan.

“Setiap bulan kita evaluasi bersama. Jadi keputusan bukan berdasarkan feeling, tapi data,” ujarnya.

Selain itu, mereka juga menerapkan berbagai inovasi sederhana namun efektif, seperti penggunaan lampu perangkap hama dan musyawarah desa untuk menentukan pola tanam.

Tarsono mengingatkan bahwa tantangan El Nino tidak hanya soal air, tetapi juga peningkatan risiko serangan hama akibat suhu yang lebih tinggi.

“Tanaman harus cukup air, tapi juga harus sehat. Kalau tidak, hasilnya tetap tidak maksimal,” katanya.

Pada akhirnya, Pemerintah, akademisi, dan petani harus bergerak bersama.

Perhimpi menilai bahwa integrasi antara ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan menjadi kunci keberhasilan adaptasi.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus bergerak serentak,” ujar Yonny.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga terus mendorong penyediaan sarana prasarana, seperti pompa air, sumur, dan perbaikan jaringan irigasi.

Bahkan daerah bahkan didorong aktif mengajukan kebutuhan untuk memastikan kesiapan menghadapi musim kering.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018