Monday, 13 April 2026


Rahasia Lahan Tetap Produktif di Musim Kemarau, Pilih Varietas dan Atur Pola Musim

07 Apr 2026, 14:19 WIBEditor : Gesha

Wapres Gibran dan Mentan Amran kompak turun ke sawah di Ngawi, tanam padi bareng petani pakai rice transplanter! Bukti nyata pemerintah hadir dan serius dukung ketahanan pangan nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Saat kemarau mengintai, lahan tak boleh ikut “kering”, kuncinya ada pada strategi memilih varietas tepat dan mengatur pola musim.

Musim kemarau yang semakin tidak menentu mendorong petani untuk mengubah strategi budidaya. 

Ketergantungan pada pola tanam konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk menjaga produktivitas lahan. 

Adaptasi menjadi kunci, terutama melalui pemilihan varietas unggul dan pengaturan pola tanam yang lebih fleksibel.

Kepala BRMP Tanaman Pangan sekaligus Sekjen PERHIMPI, Haris Syahbuddin, menegaskan bahwa keberhasilan produksi di musim kering sangat ditentukan oleh kemampuan petani dalam menyesuaikan diri terhadap kondisi iklim.

“Ketika kemarau datang lebih panjang atau ekstrem, pola tanam tidak bisa dipaksakan seperti biasa. Harus ada penyesuaian, baik dari sisi varietas maupun jenis tanaman,” ujarnya dalam Forum Diskusi #1 Perhimpi yang digelar secara daring, Selasa (7/4/2026).

Varietas Umur Pendek

Salah satu strategi utama yang direkomendasikan adalah penggunaan varietas padi berumur genjah atau pendek. 

Varietas seperti Cakra Buana dan Pajajaran menjadi pilihan karena memiliki masa tanam relatif singkat, sekitar 95 hari.

Dengan umur panen yang lebih cepat, petani dapat menghindari fase kritis tanaman saat ketersediaan air mulai menurun. 

Selain itu, percepatan masa tanam juga membuka peluang untuk mempertahankan indeks pertanaman, bahkan hingga tiga kali dalam setahun.

Penggunaan varietas unggul ini dinilai lebih adaptif terhadap perubahan iklim, terutama dalam kondisi curah hujan yang tidak merata. 

Selain itu, beberapa varietas juga telah dikembangkan agar lebih tahan terhadap kekeringan dan cekaman lingkungan lainnya.

“Varietas genjah ini penting untuk mempercepat siklus tanam. Jadi ketika air masih tersedia, tanaman sudah bisa tumbuh optimal dan dipanen sebelum kekeringan mencapai puncaknya,” jelas Haris.

Palawija Jadi Alternatif 

Selain padi, petani juga didorong untuk memanfaatkan tanaman palawija sebagai alternatif ketika ketersediaan air semakin terbatas. 

Kacang hijau menjadi salah satu komoditas yang direkomendasikan karena relatif tahan terhadap kondisi kering dan memiliki umur tanam yang singkat.

Palawija tidak hanya berfungsi sebagai pengganti sementara, tetapi juga sebagai sumber pendapatan tambahan. 

Hasil panen dari tanaman ini dapat digunakan untuk menutup biaya produksi dan mendukung musim tanam berikutnya.

Dalam kondisi tertentu, peralihan ke palawija bahkan menjadi strategi utama untuk menjaga keberlanjutan usaha tani. 

Hal ini terutama berlaku di daerah yang mengalami kekeringan berkepanjangan dan tidak memiliki sistem irigasi yang memadai.

“Yang penting lahan tetap menghasilkan. Jangan sampai berhenti produksi karena kekurangan air,” tegasnya.

Penyesuaian Pola Tanam

Selain pemilihan varietas, pengaturan pola tanam juga menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau. 

Petani perlu melakukan rotasi tanaman dan menyesuaikan waktu tanam berdasarkan kondisi cuaca dan ketersediaan air.

Pemetaan wilayah rawan kekeringan juga diperlukan agar strategi yang diterapkan lebih tepat sasaran. 

Dengan mengetahui tingkat risiko di masing-masing wilayah, petani dapat menentukan jenis tanaman dan waktu tanam yang paling sesuai.

Percepatan tanam menjadi salah satu langkah yang direkomendasikan.

Dengan memulai tanam lebih awal, petani dapat memanfaatkan sisa air hujan atau cadangan air tanah sebelum memasuki puncak kemarau.

Di sisi lain, rotasi tanaman juga membantu menjaga kesuburan tanah dan mengurangi risiko serangan hama dan penyakit. 

Kombinasi antara padi dan palawija dalam satu siklus tanam dapat memberikan hasil yang lebih stabil dibandingkan menanam satu jenis tanaman secara terus-menerus.

Konservasi Air

Haris menekankan bahwa strategi adaptasi tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan pengelolaan air yang baik. 

Oleh karena itu, konsep konservasi air atau panen air menjadi sangat penting, terutama di daerah yang sering mengalami kekeringan.

Konsep ini mencakup tiga langkah utama, yaitu mengumpulkan, menampung, dan menyimpan air. 

Air hujan yang turun saat musim penghujan harus dimanfaatkan secara maksimal agar dapat digunakan kembali saat musim kemarau.

Pemanfaatan infrastruktur sederhana seperti embung, kolam penampung, hingga atap rumah atau saung untuk menangkap air hujan menjadi bagian dari strategi ini. 

Air yang terkumpul kemudian disimpan dan digunakan secara efisien untuk kebutuhan irigasi.

“Air tidak bisa hanya ditunggu. Harus diupayakan untuk dikumpulkan dan disimpan sejak awal,” kata Haris.

Selain itu, konservasi juga dapat dilakukan melalui pola tanam yang mendukung peningkatan daya simpan air dalam tanah. 

Tanaman dengan akar dalam, misalnya, dapat membantu menjaga kelembapan tanah dan meningkatkan cadangan air tanah.

Oleh karena itu, kesadaran petani dalam menjaga lingkungan menjadi hal yang tidak kalah penting. 

Praktik pertanian yang berkelanjutan perlu diterapkan agar sumber daya alam tetap terjaga.

“Kalau konservasi tidak dilakukan, dampaknya bisa luas. Bukan hanya kekeringan, tapi juga bencana lain yang merugikan petani,” ujarnya.

Pemerintah sendiri telah menyediakan berbagai varietas unggul yang dirancang untuk menghadapi kondisi ekstrem, termasuk varietas yang tahan terhadap kekeringan, salinitas tinggi, hingga serangan penyakit.

Varietas tersebut tidak hanya tersedia untuk padi, tetapi juga untuk komoditas lain seperti jagung, cabai, bawang merah, dan kentang. 

Hal ini memberikan lebih banyak pilihan bagi petani dalam menentukan strategi tanam yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018