
Tanam perdana padi di Gowa resmi digelar, Polbangtan Kementan dorong ketahanan pangan lewat inovasi teknologi pertanian modern.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Meski BMKG telah menetapkan awal musim kemarau 2026, petani masih ragu memulai tanam. Kekhawatiran gagal panen dan praktik saling menunggu jadi penghambat di lapangan.
Penetapan awal musim kemarau (MK) 2026 oleh BMKG seharusnya menjadi acuan penting bagi petani untuk memulai musim tanam kedua.
Namun di lapangan, kenyataannya tak sesederhana kalender dan prediksi cuaca.
Petani justru masih diliputi keraguan, bahkan cenderung menunda tanam.
Anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim, Tarsono, mengungkapkan persoalan utama bukan sekadar soal informasi prakiraan musim, melainkan koordinasi antarpetani yang belum berjalan serempak.
“Di kampung itu kita harus bareng-bareng. Masalahnya, kapan mulai tanam sering tidak sama. Ada yang maju, ada yang mundur. Ini yang jadi persoalan,” ujarnya dalam Forum Diskusi #1 Perhimpi yang digelar secara daring, Selasa (7/4/2026).
Menurut Tarsono, meski jadwal tanam sudah ditentukan, misalnya dimulai pada Juni untuk musim tanam kedua, realisasinya di lapangan kerap molor hingga satu bulan.
Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran petani untuk memulai lebih dulu dibanding yang lain.
Fenomena ini bahkan punya istilah sendiri di kalangan petani Indramayu, yakni “ntn” atau saling menunggu.
Petani cenderung menahan diri karena takut menghadapi risiko jika menanam lebih awal tanpa kepastian kondisi lingkungan dan dukungan dari petani lain.
“Petani itu takut duluan. Jadi saling tunggu. Akhirnya mundur semua,” kata Tarsono.
Padahal, keterlambatan tanam secara tidak serempak justru membuka celah terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.
Ketidaksinkronan waktu tanam menciptakan siklus tanaman yang berbeda-beda di satu wilayah, yang menjadi kondisi ideal bagi perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Tarsono menegaskan bahwa persoalan ini bukan hal baru, tetapi terus berulang setiap musim tanam kedua, terutama saat kondisi iklim tidak menentu seperti tahun ini.
Di sisi lain, BMKG telah merilis prakiraan awal musim kemarau lengkap dengan potensi curah hujan dan anomali iklim.
Namun, informasi tersebut belum sepenuhnya mampu menggerakkan petani untuk bertindak serempak.
“Secara prakiraan sudah ada. Tapi di lapangan, menggerakkan petani untuk tanam bareng itu tidak mudah,” jelasnya.
Ia menambahkan, diperlukan pendekatan kolektif berbasis komunitas untuk mendorong keseragaman waktu tanam.
Tanpa itu, risiko kerugian akibat hama, penyakit, hingga gagal panen akan terus menghantui.
Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam menghadapi musim tanam kedua 2026, terutama di tengah ancaman variabilitas iklim yang semakin sulit diprediksi.
Tarsono berharap ada penguatan koordinasi antara petani, penyuluh, hingga pemerintah daerah agar jadwal tanam tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan secara serempak.
“Kalau tidak bareng, risikonya besar. Ini yang dirasakan petani sekarang,” pungkasnya.