Sunday, 19 July 2026


Sidak Presiden Prabowo Dapatkan Gudang Bulog Penuh, Pakar Sebut Bukti Real Swasembada Pangan

20 Apr 2026, 06:39 WIBEditor : Gesha

Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono ke gudang Perum Bulog di Magelang, Jawa Tengah

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono ke  gudang Perum Bulog di Magelang, Jawa Tengah menjadi sorotan publik. Dalam sidak tersebut, gudang Bulog dilaporkan dalam kondisi penuh, yang dinilai menjadi sinyal kuat bahwa ketahanan pangan nasional semakin solid.

Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menyebut temuan tersebut sebagai jawaban atas keraguan sebagian pihak terkait capaian swasembada pangan di Indonesia.

Menurutnya, langkah Presiden yang turun langsung ke lapangan menunjukkan transparansi pemerintah dalam memastikan kondisi riil stok pangan nasional.

“Ketika Presiden turun langsung dan melihat gudang Bulog dalam kondisi penuh, itu menunjukkan bahwa data di lapangan memang sesuai dengan kondisi nyata. Ini memperkuat keyakinan kita,” ujar Don, Minggu (19/4/2026).

Don Muzakir, menilai kondisi ini sebagai bukti bahwa kebijakan pangan pemerintah mulai menunjukkan hasil konkret di lapangan.

“Stok aman, gudang terisi, dan distribusi berjalan. Ini indikator penting bahwa sistem pangan kita sedang berada di jalur yang tepat,” ujarnya.

Pandangan lebih tegas disampaikan Ketua Harian DPN HKTI sekaligus Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI) serta Pimpinan Sinar Tani, Mulyono Machmur.

Ia menegaskan bahwa swasembada pangan berkelanjutan merupakan kondisi yang tidak bisa ditawar lagi dalam pembangunan sektor pertanian nasional.

“Swasembada pangan berkelanjutan suatu kondisi yang tidak bisa ditawar lagi. Untuk mewujudkannya diperlukan teknologi dan inovasi teknis, rekayasa sosial dan budaya, serta kebijakan yang konsisten yang berpihak kepada peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Mulyono.

Ia menambahkan, keberhasilan swasembada pangan tidak bisa dilepaskan dari dukungan kebijakan pemerintah yang stabil dan berorientasi jangka panjang. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci agar capaian produksi tidak hanya bersifat sementara.

Mulyono juga menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai garda terdepan dalam mendampingi petani di lapangan. Ia menyebut penyuluh memiliki posisi strategis dalam mentransfer teknologi, pengetahuan, dan inovasi pertanian modern kepada petani.

“Peran Penyuluh Pertanian sebagai garda terdepan dan mitra petani sangat penting. Mereka memastikan inovasi dan kebijakan benar-benar sampai dan diterapkan di tingkat petani,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti peran organisasi HKTI dalam memperkuat posisi tawar petani sebagai pelaku utama usaha tani.

Menurutnya, penguatan organisasi petani menjadi penting agar petani tidak hanya menjadi objek, tetapi benar-benar menjadi subjek utama dalam sistem pertanian nasional.

“Dengan dukungan organisasi seperti HKTI, posisi tawar petani akan semakin kuat sebagai pelaku utama dan pelaku usaha tani,” tegas Mulyono.

Dengan kondisi produksi yang meningkat, cadangan yang kuat, serta sinergi antara pemerintah, petani, dan penyuluh, para pakar menilai Indonesia semakin dekat dengan kemandirian pangan.

Meski demikian, Mulyono mengingatkan bahwa keberhasilan ini harus dijaga dengan konsistensi kebijakan dan penguatan ekosistem pertanian secara menyeluruh. 

“Swasembada bukan tujuan sesaat, tapi proses panjang. Kalau semua elemen konsisten, maka kemandirian pangan bisa benar-benar kita wujudkan secara berkelanjutan,” tuturnya.

Dalam sidak tersebut, Presiden Prabowo dan Wamentan Sudaryono disebut memastikan langsung kondisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog. Pemeriksaan mencakup kualitas, kuantitas, hingga distribusi ke berbagai wilayah.

Hasilnya, sejumlah gudang dilaporkan dalam kondisi penuh, yang menunjukkan bahwa stok pangan nasional berada pada level aman dan terkendali.

Wamentan Sudaryono sebelumnya menyampaikan bahwa produksi beras nasional pada 2025 meningkat sekitar 13,29 persen atau setara 4,07 juta ton. Sementara Cadangan Beras Pemerintah hingga April 2026 tercatat mencapai sekitar 4,8 juta ton.

Capaian tersebut disebut menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan pangan nasional dan menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas harga serta pasokan.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018