
Daging ayam di pasar
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Tekanan harga pangan mulai menunjukkan tanda-tanda mereda setelah momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026.
Penurunan inflasi pada April 2026 menjadi sinyal kuat bahwa kondisi pasar mulai kembali normal, seiring turunnya permintaan masyarakat pasca-Lebaran.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sejumlah komoditas pangan strategis menjadi penyumbang utama deflasi pada April. Di antaranya daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, hingga cabai merah yang mengalami penurunan harga cukup signifikan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa tren ini merupakan pola yang kerap terjadi setelah Lebaran.
“Tingkat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau umumnya lebih rendah pada periode pasca-Lebaran, seiring normalisasi permintaan setelah HBKN,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (4/5).
BPS mencatat, daging ayam ras yang sebelumnya mengalami inflasi 3,30 persen pada Maret, berbalik menjadi deflasi 6,20 persen di April. Hal serupa terjadi pada telur ayam ras yang turun dari inflasi 2,34 persen menjadi deflasi 4,29 persen.
Penurunan paling tajam terjadi pada komoditas cabai. Cabai rawit mengalami deflasi hingga 14,98 persen, sementara cabai merah turun 2,59 persen.
Dampaknya, inflasi pangan secara tahunan juga ikut melandai, dari 4,24 persen pada Maret menjadi 3,37 persen di April, masih berada dalam target pemerintah di kisaran 3–5 persen. Secara bulanan, bahkan terjadi deflasi sebesar 0,88 persen.
Menariknya, tren deflasi pada April ini bukan hal baru. Dalam dua tahun terakhir, pola serupa juga terjadi, yakni deflasi 0,31 persen pada April 2024 dan 0,04 persen pada April 2025. Namun, deflasi April 2026 tercatat sebagai yang paling dalam.
Di sisi lain, pemerintah mulai mengantisipasi dampak lanjutan dari penurunan harga yang terlalu dalam, khususnya di tingkat produsen.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi stabilitas harga pangan pasca-Lebaran. Ia menilai kondisi ini sebagai hasil kerja bersama berbagai pihak.
“Alhamdulillah, harga relatif stabil dan data BPS menunjukkan kondisi pangan yang terkendali,” kata Amran usai menghadiri agenda di Makassar, awal Mei lalu.
Namun demikian, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan harga, agar tidak merugikan petani maupun memberatkan konsumen.
Pantauan Bapanas menunjukkan harga ayam hidup di tingkat produsen kini berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp25.000 per kilogram. Per 3 Mei, harga rata-rata tercatat Rp23.401 per kg.
Hal serupa terjadi pada telur ayam ras. Dari HAP Rp26.500 per kg, harga di tingkat produsen kini turun menjadi Rp24.890 per kg.
Untuk membantu peternak menekan biaya produksi, pemerintah bersama Perum Bulog menggulirkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Program ini menyasar lebih dari 5.000 peternak di 26 provinsi, dengan total distribusi tahap awal mencapai 213,1 ribu ton.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat distribusi pangan untuk menjaga stabilitas harga antarwilayah. Melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), stok cabai dari daerah surplus seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara akan disalurkan ke wilayah yang masih mengalami harga tinggi, terutama di Indonesia Timur.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi disparitas harga sekaligus menjaga keseimbangan pasar.
Ke depan, pemerintah menargetkan kemandirian pangan sebagai kunci stabilitas ekonomi nasional. Amran bahkan menegaskan visi besar swasembada di seluruh wilayah Indonesia.
“Mimpi kita adalah setiap pulau bisa swasembada pangan, protein, energi, dan etanol. Jika itu tercapai, inflasi bisa ditekan secara otomatis,” ujarnya.