
perwakilan IRRI, Inez Hortense SL
TABLOIDSINARTANI.COM, Surabaya---International Rice Research Institute (IRRI) menyampaikan apresiasi terhadap capaian swasembada pangan Indonesia yang dinilai impresif di tengah tekanan krisis pangan global dan perubahan iklim. Keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi beras tanpa ketergantungan impor disebut menjadi pencapaian penting bagi kawasan tropis Asia.
Namun demikian perwakilan IRRI, Inez Hortense SL dalam Dialog Swasembada Pangan bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Romokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5) juga mengingatkan, swasembada pangan bukanlah garis akhir.
Tantangan sektor pertanian ke depan dinilai semakin berat akibat perubahan iklim, degradasi lahan, permasalahan air, serta tuntutan peningkatan kesejahteraan petani.
“Perjuangan belum selesai. Tantangannya sekarang bukan hanya memproduksi lebih banyak beras, tetapi bagaimana membangun sistem pertanian yang efisien, rendah emisi, berbasis inovasi, dan tahan terhadap tekanan iklim,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya aspek kualitas pangan dan nutrisi masyarakat. Menurutnya, beras masih menjadi sumber utama kalori masyarakat Indonesia sehingga pengembangan varietas yang lebih sehat akan berdampak langsung terhadap kualitas kesehatan nasional.
IRRI, Inez menjelaskan, selama ini aktif bekerja sama dengan lembaga riset nasional dalam pengembangan mekanisasi, digital agriculture, climate farming system, hingga pertanian presisi. Berbagai pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.
Ia mencontohkan penerapan pertanian presisi berbasis digital yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan emisi secara lebih efisien. Selain itu, konsep climate farming system seperti mina padi juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah petani karena tidak hanya menghasilkan padi, tetapi juga komoditas tambahan bernilai ekonomi tinggi.
Karena itu, Inez menekankan pentingnya penguatan riset pemuliaan tanaman (breeding) untuk menghasilkan varietas unggul nasional yang adaptif terhadap perubahan iklim dan kebutuhan pangan masa depan.
“Saya membandingkan negara seperti Vietnam dan China yang bisa maju karena riset mereka luar biasa. Jadi investasi pada riset dan inovasi perlu terus diperkuat di negara kita,” katanya.
Karena itu, ia berharap Indonesia ke depan tidak hanya menjadi penerima manfaat inovasi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan teknologi pertanian dunia dengan melibatkan generasi muda.
“Harapan kami Indonesia bukan hanya penerima manfaat inovasi, tetapi menjadi pengembang inovasi dengan anak-anak muda. Aspek AI, genomik, breeding, dan teknologi digital akan menjadi masa depan pertanian,” katanya.
Inez menyebut Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin pertanian modern di kawasan tropis Asia apabila terus memperkuat riset dan inovasi pertanian. “Indonesia punya peluang besar menjadi pemimpin pertanian modern di kawasan tropis Asia,” ujarnya