
Merauke bersiap jadi raja beras Indonesia lewat 48 ribu hektare sawah baru, optimalisasi lahan, dan modernisasi pertanian demi swasembada pangan nasional
TABLOIDSINARTANI.COM, Merauke – Merauke bersiap jadi raja beras Indonesia lewat 48 ribu hektare sawah baru, optimalisasi lahan, dan modernisasi pertanian demi swasembada pangan nasional.
Kabupaten Merauke, Papua Selatan, semakin menegaskan perannya sebagai salah satu kawasan strategis pengembangan pangan nasional.
Melalui percepatan program cetak sawah, optimalisasi lahan, serta modernisasi sektor pertanian, pemerintah menargetkan wilayah paling timur Indonesia tersebut menjadi pusat produksi beras baru yang mampu menopang kebutuhan pangan nasional sekaligus memperkuat target swasembada pangan.
Besarnya perhatian pemerintah terhadap Merauke tercermin dari skala program pengembangan lahan yang sedang berjalan.
Dari total sekitar 84 ribu hektare program cetak sawah yang telah direalisasikan di seluruh wilayah Papua, sebanyak 48 ribu hektare berada di Kabupaten Merauke.
Porsi tersebut menjadikan Merauke sebagai daerah dengan pengembangan sawah terbesar di Tanah Papua.
Tidak hanya itu, program optimalisasi lahan (oplah) juga didominasi Kabupaten Merauke.
Dari sekitar 54 ribu hektare optimalisasi lahan yang dilaksanakan selama periode 2024 hingga 2026 di Papua, sekitar 53 ribu hektare berada di wilayah tersebut.
Besarnya cakupan program itu menunjukkan bahwa pemerintah memandang Merauke sebagai kawasan yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi padi secara berkelanjutan.
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan pengembangan sektor pertanian di Merauke merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan.
Menurutnya, luasnya lahan yang tersedia menjadi modal penting untuk meningkatkan kapasitas produksi beras di kawasan timur Indonesia.
"Merauke memperoleh porsi terbesar dalam program cetak sawah maupun optimalisasi lahan. Hal ini menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap potensi daerah ini sebagai salah satu pusat produksi pangan nasional," ujar Apolo.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan pertanian tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil panen, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Aktivitas pertanian diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus menggerakkan sektor-sektor ekonomi lainnya di Papua Selatan.
Menurut Apolo, keberhasilan program tersebut nantinya akan memberikan manfaat ganda.
Selain mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat Papua, peningkatan produksi dari Merauke juga diharapkan dapat memperkuat pasokan beras nasional sehingga ketahanan pangan Indonesia semakin kokoh.
Sementara itu, Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze menyampaikan bahwa daerahnya memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk mendukung pengembangan pertanian modern.
Dari total luas wilayah sekitar 4,6 juta hektare, sekitar 1,2 juta hektare memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif.
Ia mengatakan pemerintah daerah terus berkolaborasi dengan pemerintah pusat dalam mempercepat pembukaan sawah baru sekaligus meningkatkan produktivitas lahan yang telah ada.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Merauke sebagai sentra produksi pangan yang mampu berkontribusi terhadap kebutuhan nasional.
Menurut Yoseph, program cetak sawah rakyat dan optimalisasi lahan yang dimulai sejak tahun lalu kini telah memasuki tahap penanaman.
Dari sekitar 17 ribu hektare lahan yang sedang dikerjakan, sekitar 3 ribu hektare telah berhasil ditanami, sedangkan sisanya terus dipersiapkan agar dapat memasuki musim tanam berikutnya.
"Pekerjaan terus berjalan secara bertahap. Kami optimistis luas tanam akan terus bertambah sehingga produksi padi juga meningkat dari waktu ke waktu," katanya.
Saat ini, sedikitnya 12 distrik di Kabupaten Merauke telah menjalankan program cetak sawah rakyat dan optimalisasi lahan.
Pemerintah daerah menargetkan perluasan areal tanam dapat berlangsung secara berkelanjutan sehingga produktivitas pertanian meningkat signifikan.
Dengan bertambahnya luas tanam dan penerapan teknologi budidaya yang lebih baik, pemerintah memperkirakan produksi gabah maupun beras dari Merauke dapat meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi sebelumnya.
Peningkatan tersebut diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan kawasan pangan modern di Indonesia bagian timur.
Selain fokus pada pembukaan lahan, pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap modernisasi pertanian.
Penggunaan alat dan mesin pertanian terus diperluas agar proses pengolahan lahan, penanaman hingga panen dapat berlangsung lebih cepat, efisien, dan mampu menekan biaya produksi petani.
Modernisasi juga diarahkan pada penguatan infrastruktur pascapanen. Pemerintah Kabupaten Merauke telah mengusulkan penambahan fasilitas Rice Milling Unit (RMU) serta mesin pengering gabah atau dryer untuk mendukung kualitas hasil panen.
Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting karena mampu mengurangi kehilangan hasil setelah panen, menjaga kualitas gabah, memperbaiki mutu beras, sekaligus meningkatkan nilai jual produk pertanian.
Dengan demikian, petani tidak hanya memperoleh hasil panen yang lebih banyak, tetapi juga memiliki peluang mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi.
Penguatan fasilitas pascapanen juga diharapkan mampu menciptakan rantai produksi beras yang lebih efisien, mulai dari proses panen, pengeringan, penggilingan hingga distribusi ke pasar.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing beras asal Merauke di pasar domestik.
Transformasi Merauke dari kawasan yang selama ini dikenal memiliki potensi sagu menjadi salah satu sentra produksi padi nasional dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam membangun fondasi ketahanan pangan Indonesia.
Kombinasi program cetak sawah, optimalisasi lahan, mekanisasi pertanian, serta pembangunan infrastruktur pendukung diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang modern dan berkelanjutan.
Apabila seluruh target pengembangan lahan, peningkatan produktivitas, serta modernisasi pertanian dapat terealisasi sesuai rencana, Merauke tidak hanya akan menjadi lumbung pangan bagi Papua Selatan.
Daerah ini juga berpeluang menjelma menjadi salah satu sentra produksi beras terbesar di Indonesia yang berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional sekaligus mendukung terwujudnya swasembada pangan di masa depan.