
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Pemerintah memastikan kesiapan menghadapi musim kemarau dan potensi dampak fenomena El Nino dengan memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Tidak hanya beras, pemerintah juga telah menyiapkan stok berbagai komoditas pangan strategis guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang baik. Menurutnya, capaian swasembada beras menjadi indikator penting karena beras masih menjadi pangan utama masyarakat Indonesia.
"Swasembada itu artinya ketika suatu negara mengimpor maksimal 10 persen dari kebutuhannya. Indonesia saat ini tidak mengimpor beras medium, artinya kita telah mencapai swasembada yang sempurna," ujar Amran di Jakarta, Kamis (9/7).
Amran menjelaskan, fokus terhadap beras bukan tanpa alasan. Berdasarkan pola konsumsi masyarakat, lebih dari separuh konsumsi pangan harian masyarakat Indonesia masih didominasi oleh beras.
"Kenapa beras? Karena lebih dari 50 persen konsumsi masyarakat adalah beras. Selain itu, kita juga sudah swasembada telur, daging ayam, jagung pakan, bawang merah, hingga cabai. Bahkan minyak goreng Indonesia menjadi pemasok dunia. Presiden kita hebat, dan capaian hari ini menunjukkan pangan nasional dalam kondisi aman," katanya.
Data Badan Pangan Nasional melalui skor Pola Pangan Harapan (PPH) tahun 2025 menunjukkan konsumsi kelompok padi-padian masih mendominasi pola makan masyarakat Indonesia dengan porsi lebih dari 50 persen.
Sementara itu, konsumsi pangan hewani tercatat sebesar 12,7 persen, minyak dan lemak 12,4 persen, sayur dan buah 6,8 persen, gula 4 persen, sedangkan sisanya berasal dari kacang-kacangan, umbi-umbian, buah atau biji berminyak, serta kelompok pangan lainnya.
Menurut Amran, pemerintah telah belajar dari pengalaman menghadapi El Nino pada 2023 sehingga berbagai langkah antisipasi telah dipersiapkan jauh-jauh hari.
"Kami sudah menyiapkan semuanya sejak awal. Tahun 2023 kita berhasil melewati El Nino dengan baik. Memang Agustus hingga September merupakan puncak musim kering, tetapi Insya Allah pangan kita tetap aman, terutama beras," ujarnya.
Berdasarkan laporan Badan Pangan Nasional, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog per 8 Juli 2026 telah mencapai sekitar 5,2 juta ton.
Selain itu, Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) di tingkat provinsi tercatat mencapai 7,34 ribu ton, sedangkan di tingkat kabupaten/kota mencapai 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, menegaskan pemerintah terus memperkuat cadangan pangan sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi gangguan produksi akibat El Nino.
"Kita harus tetap waspada menghadapi El Nino dengan cadangan pangan yang kokoh, produksi yang terus meningkat, distribusi yang semakin kuat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan," kata Sarwo.
Ia menambahkan, keberadaan Cadangan Beras Pemerintah sebesar 5,2 juta ton menjadi salah satu bukti kesiapsiagaan pemerintah. Di samping itu, pemerintah juga memiliki cadangan berbagai komoditas pangan lainnya.
Pemerintah memastikan stok CPP tidak hanya berupa beras. Hingga 8 Juli 2026, cadangan jagung pakan masih mencapai 188 ribu ton yang disalurkan kepada peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga yang lebih terjangkau.
Selain itu, tersedia pula cadangan minyak goreng sekitar 1,1 ribu kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food, stok gula konsumsi sekitar 2,79 ribu ton, serta cadangan daging ayam sebanyak 38 ton.
Untuk komoditas yang mudah rusak seperti cabai, bawang merah, telur ayam ras, dan daging ayam, pemerintah optimistis kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri yang diproyeksikan mengalami surplus sepanjang tahun.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Badan Pangan Nasional, produksi cabai besar tahun ini diperkirakan mencapai 1,51 juta ton, jauh di atas kebutuhan konsumsi sebesar 929,27 ribu ton.
Produksi cabai rawit diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton dengan kebutuhan konsumsi sekitar 913,61 ribu ton. Sementara produksi bawang merah diperkirakan sebesar 1,32 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi yang mencapai 1,25 juta ton.
Untuk komoditas peternakan, produksi telur ayam ras diperkirakan mencapai 6,98 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi sekitar 6,47 juta ton. Produksi daging ayam ras juga diproyeksikan mencapai 4,89 juta ton, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi nasional sebesar 4,02 juta ton.



