
Soppeng membuktikan metode PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas pertanaman padi. Hasil panen tembus lebih dari 10 ton per hektare.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Soppeng membuktikan metode PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas pertanaman padi. Hasil panen tembus lebih dari 10 ton per hektare.
Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu bukti nyata keberhasilan penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) dalam meningkatkan produktivitas padi.
Melalui penerapan teknologi budidaya yang terintegrasi, hasil panen di wilayah tersebut mampu menembus lebih dari 10 ton per hektare, jauh melampaui rata-rata produktivitas padi nasional yang selama ini berada di kisaran 5–6 ton per hektare.
Keberhasilan itu disampaikan Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Amin Nur, saat menjadi narasumber dalam Webinar Smart Tani, Kamis (16/7).
Menurutnya, hasil yang dicapai di Soppeng menjadi bukti bahwa pendekatan pertanian modern mampu menghasilkan lompatan produktivitas apabila seluruh paket teknologi diterapkan secara konsisten.
"Terbukti di Soppeng kita mendapatkan produksi menggunakan varietas Inpago 12 sekitar 10,4 ton per hektare. Kemudian pada kegiatan berikutnya hasilnya bahkan mencapai 11,05 ton per hektare," ujar Amin.
Ia menjelaskan, keberhasilan tersebut menjadi pijakan bagi Kementerian Pertanian untuk memperluas penerapan PM-AAS di berbagai sentra produksi padi.
Pengembangan kemudian dilakukan pada hamparan seluas sekitar 2.000 hektare, dengan produktivitas yang tetap mampu dipertahankan di kisaran 10,2 ton per hektare.
Menurut Amin, capaian tersebut sesuai dengan target yang diharapkan Menteri Pertanian, yakni produktivitas padi di atas 10 ton per hektare.
"Yang diminta Pak Menteri kalau bisa di atas 10,2 ton. Itu yang terus kita harapkan," katanya.
Tak hanya di Soppeng, keberhasilan penerapan PM-AAS juga mulai terlihat di daerah lain.
Amin menyebut Gorontalo berhasil mencatat produktivitas sekitar 11 ton per hektare melalui metode yang sama.
Sementara itu, di Jambi, petani kembali memanfaatkan varietas Inpari 32 yang selama ini sudah dikenal luas oleh petani maupun penyuluh karena memiliki daya adaptasi yang baik di berbagai kondisi lahan.
Menurutnya, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa peningkatan hasil panen tidak hanya bergantung pada penggunaan varietas unggul.
Yang lebih penting adalah penerapan seluruh komponen teknologi budidaya secara terpadu, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga panen.
PM-AAS sendiri merupakan model budidaya padi modern yang dikembangkan Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).
Sistem ini mengintegrasikan mekanisasi pertanian, pertanian presisi, digitalisasi, serta manajemen budidaya yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Di Kabupaten Soppeng, teknologi yang diterapkan cukup lengkap.
Mulai dari penggunaan soil test kit untuk mengetahui kebutuhan hara tanah, sistem tanam benih langsung menggunakan drum seeder, pola tanam jajar legowo 6:1, rekomendasi pemupukan spesifik lokasi, pemanfaatan pupuk organik cair, hingga penggunaan drone untuk aplikasi herbisida maupun pestisida.
Paket teknologi tersebut dirancang agar setiap tahapan budidaya dilakukan secara lebih presisi.
Dengan demikian, tanaman memperoleh kebutuhan nutrisi yang sesuai, pertumbuhan menjadi lebih seragam, dan potensi hasil dapat dimaksimalkan.
Data BRMP Kementerian Pertanian menunjukkan, pada panen perdana PM-AAS di Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, hasil ubinan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas Inpago 12 mencapai rata-rata 10,4 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Sementara itu, varietas Inpago 8 menghasilkan sekitar 9,7 ton GKP per hektare.
Capaian tersebut jauh di atas rata-rata produktivitas padi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas padi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran 5,2 hingga 5,4 ton gabah kering giling per hektare.
Artinya, hasil yang diperoleh melalui PM-AAS di Soppeng hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Selain meningkatkan hasil panen, PM-AAS juga memberikan efisiensi dalam proses budidaya.
Penggunaan alat dan mesin pertanian mampu mempercepat pengolahan lahan, penanaman, hingga panen sehingga kebutuhan tenaga kerja dapat ditekan.
Sementara itu, pemupukan berbasis rekomendasi spesifik lokasi membuat penggunaan pupuk menjadi lebih tepat sasaran dan efisien.
Di sisi lain, pemanfaatan drone dalam penyemprotan pestisida maupun pupuk cair juga membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, merata, dan mengurangi paparan bahan kimia terhadap petani.
Teknologi digital yang digunakan dalam sistem ini turut membantu petani mengambil keputusan budidaya berdasarkan kondisi lahan yang sebenarnya.
Keberhasilan di Soppeng pun menjadi salah satu dasar bagi Kementerian Pertanian untuk memperluas implementasi PM-AAS ke berbagai daerah sebagai bagian dari strategi memperkuat swasembada pangan nasional.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas tanpa harus terus-menerus melakukan perluasan lahan sawah.
Amin menegaskan, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa produktivitas padi di atas 10 ton per hektare bukan lagi sekadar target.
Dengan dukungan benih unggul, penerapan teknologi yang tepat, mekanisasi, serta pendampingan penyuluh pertanian, hasil tersebut dapat direalisasikan di berbagai sentra produksi padi di Indonesia.
"Jadi keberhasilan ini bukan semata karena varietasnya, tetapi karena seluruh teknologi diterapkan secara lengkap dan disiplin. Kalau paket teknologinya dijalankan dengan baik, produktivitas di atas 10 ton per hektare sangat mungkin dicapai," pungkas Amin.



